Ingat saya
Cover



penulis : Dzikry
dibuat : Thursday, 19 October 2017 8:50 pm
diubah : 1 bulan yang lalu
vote cerita :
1 vote, average: 5.00 out of 51 vote, average: 5.00 out of 51 vote, average: 5.00 out of 51 vote, average: 5.00 out of 51 vote, average: 5.00 out of 5 (1 votes, rata-rata: 5.00 dari 5)
Anda harus masuk untuk memberikan rating cerita ini.
Loading ... Loading ...
  Tag


  Kategori

FrankFurt

Zinnia dalam Kenangan Lelaki Abu-Abu

SINOPSIS

Zinnia dalam Kenangan Lelaki Abu-Abu

Cerpen Dzikry

 

Aku masih membayangkanmu sebagai pemahat, lelaki Asmat sejati, seperti tujuh tahun lalu ketika pertama kau mengajakku pergi ke suatu tempat, yang katamu sangat romantis. Mulanya aku memikirkan danau, perahu, sepasang dayung, dan senja. Aku tak menduga tempat romantis yang kaumaksud ternyata sebuah museum. Bagiku, kau adalah seseorang yang masih sulit kumengerti, setidaknya sampai kau meraih tanganku di bawah patung Mbis setinggi dua belas meter, tepat di tengah ruangan museum. Kau menyuruhku tengadah, dan aku hanya melakukannya begitu saja.

“Lihatlah,” katamu lirih di sisi pelipisku. “Patung ini sangat vulgar. Alat kelaminnya dipahat dengan jelas.”

Aku lantas mencoba benar-benar memperhatikan patung Mbis yang menjulang di hadapanku, sebuah pahatan bersusun. Pada bagian paling bawah seolah bersifat sebagai penopang, berupa batang kayu polos tanpa ornamen. Sekitar satu meter di atasnya terdapat ceruk vertikal. 

“Itu melambangkan perahu untuk tumpangan arwah nenek moyang dari jeuw, rumah pertemuan antara arwah dan orang-orang yang masih hidup, menuju safan, surga,” katamu, seolah kau paham setiap titik tatapanku.

Aku tak berkomentar, dan hanya melanjutkan pandanganku ke bagian lebih tinggi. Di atas ceruk lambang perahu ada pahatan yang mengesankan lelaki gagah mengenakan mahkota. Bagian depan mahkota itu berupa ukiran krawangan yang mencuat ke atas seperti bendera segi tiga. Kau mengulum senyum, lagi berkata lirih di sisi pelipisku. 

“Itu cemen, yang mencuat,” sembari tangan kirimu membuat gerakan ke atas, sementara tangan kananmu masih menggenggam tanganku.

“Cemen?” tanyaku sontak menatap matamu.

Kau tersenyum lebih misterius. “Penis,” katamu lugas. Mungkin pipiku merah. Tapi aku tak peduli. Kau tampak tidak menganggap itu sebagai hal yang tabu dibicarakan.

“Itu bahasa daerahmu?”

Kau mengangguk. Aku kembali melanjutkan pandanganku. Di atas lelaki bermahkota, seorang lelaki dengan tubuh lebih ramping berdiri tegak. Kedua kakinya menapak di kepala lelaki bermahkota. Kemudian di atasnya lagi tampak seorang lelaki dengan tubuh lebih kecil, menapakkan kedua kakinya di pundak lelaki bertubuh ramping.

“Kau tahu, kenapa Patung Mbis dibuat vertikal seperti ini?”

Aku menggeleng. Kau mempererat genggaman tanganmu di tanganku, tetapi kurasakan itu tetaplah sebuah kelembutan. Entah. Aku tak pernah berpikir lain kecuali kau adalah seseorang yang sangat jujur mencintaiku. Bahkan ketika kadar cintamu sedang tidak stabil, kau tidak akan berpura-pura cintamu padaku semakin tinggi, besar, atau agung. Kau adalah orang paling realistis yang pernah kutemui, dan aku takut mengakui bahwa aku sepenuhnya jatuh cinta padamu. Lagi pula, aku tidak akan mampu menjawab semua yang masih tanda tanya, apakah kelak kau akan menjadi pasangan hidupku atau tidak. Kita baru menjalani masa kuliah selama dua tahun. Aku memiliki cita-cita sebagaimana kau memilikinya. Begitulah kita kala itu.  

“Patung Mbis ini, seperti semua patung Mbis yang lain, dibuat dari sebatang pohon bakau, tanpa sambungan, hanya dipahat setinggi dan sebesar batang pohon itu sendiri. Bagian akar diletakkan di atas, sementara ujung batang di bagian bawah. Patung Mbis ini berasal dari pohon bakau utuh yang dijungkir balik.”

Aku berusaha menyimpan kekagumanku. Mengenai pohon bakau, aku beberapa kali melihatnya di pinggir Teluk Youtefa. Batang-batangnya hanya sebesar ibu jari kakiku, tumbuh sengsara menampung genangan sampah plastik yang digelontorkan aliran Kali Acai. Tapi pohon bakau dari Asmat ini sangat besar, kuperkirakan berdiameter mencapai seratus senti meter, dan sangat tinggi. Mungkin ia tumbuhan bakau purba dari masa silam yang gemilang. 

“Usia patung ini sudah ratusan tahun,” katamu. “Pohon bakaunya jauh lebih tua dari itu.”

“Apa mesti Patung Mbis dibuat dari pohon bakau?”

“Ya. Orang-orang suku kami menganggap tabu kalau Patung Mbis dibuat dari pohon selain bakau.”

Aku tak tahu lagi apa yang mesti kutanyakan atau kukatakan. Kupikir inilah caramu menyampaikan dirimu padaku. Kau tak perlu berpidato atau membuat catatan panjang untuk memahamkanku mengenai segalamu. Inilah caramu menunjukkan padaku mengenai harapan-harapanmu. 

“Selesai kuliah, aku akan pulang ke kota kecilku, Agats. Catat itu di hatimu, Perempuan Keras Kepala. Aku akan kembali dan memahat batang-batang bakau di sana,” katamu, seolah seluruh keyakinan di muka bumi kaukemas menjadi satu dalam kalimatmu. Atas dasar apa aku tidak memercayaimu, ketika ucapanmu setegas itu? Tetapi mungkin akulah perempuan keras kepala yang dikutuk semesta dengan cara mencintaimu. Aku yakin, tidak seluruh cintaku kauambil. Hanya saja, kelihaianmu adalah memilih yang terbaik, sebidang yang paling subur ditanami kenangan. Kau seolah mampu membuat prediksi bahwa kelak, tanpa batas waktu, kenanganmu akan menjulur-julur memenuhi hidupku. Ia bertumbuh, tak pernah patah seruas pun.

Hingga subuh tadi kudapati statusmu di jejaring sosial, kau tengah menyusuri perkampungan rawa-rawa di Merauke. Mulai Broken, Nasem, Ndalir, Keler, Onggaya, Tomer, Tomerau, sampai Kondo, kampung paling ujung dalam deretan perkampungan di rawa-rawa itu. Mungkin aku kecewa sebab kau ternyata tidak kembali ke Agats. Kau mengingkari ucapanmu sendiri, yang telah kucatat rapi di hatiku, sesuai saranmu dulu. Seminggu menemukanmu di dunia maya, aku merasa menemukan orang asing.

“Di Agats, orang-orang tak bisa lagi memahat patung Mbis, karena kami tidak lagi memiliki jeuw. Untuk apa aku kembali ke sana?” katamu datar di dalam sebuah pesan jejaring sosial.

“Kamu bisa memahat patung yang lain.”

“Aku tidak tertarik memahat patung-patung kecil untuk cenderamata. Biar orang-orang Agats melakukannya, melanjutkan tradisi nenek moyang yang sudah mulai luntur kesakralannya, demi beberapa rupiah.”

“Kamu sudah tahu sejak tujuh tahun lalu, jeuw tidak ada lagi di kampungmu. Hari itu kau bisa meyakinkanku soal rencanamu pulang setelah kuliah. Aku masih mencatat ucapanmu.”

“Hei, kau tidak hidup di Negeri Dongeng, Perempuan Keras Kepala. Kaupikir manusia tidak bisa berubah setelah tujuh tahun? Lagi pula, kenapa kau terlalu percaya diri? Kenapa kau tidak berpikir bahwa semua ucapanku waktu itu hanya untuk membuatmu tertarik padaku. Aku cukup pintar memikat hati perempuan, bukan?”

Seketika, aku adalah seserpih biji dandelion yang melayang tak tentu arah. Angin terlampau deras memainkan ketakberdayaanku, perasaanku. Tapi aku kemudian menyadari satu hal, kau sekarang adalah seseorang yang menempuh jalan abu-abu. Semua kata-katamu untukku tak lebih dari semacam latihan bersilat lidah di hadapan banyak orang, dan aku tahu ini adalah persoalan mendominasi, juga menyudutkan lawan-lawanmu. Sekarang kau adalah pemain panggung di negeri ini. Kau bukan lagi seorang lelaki dengan tatapan tajam, yang membuatku selalu menunggu semenjak berabad lalu. Kau tahu? Menunggumu selalu membutuhkan sajak-sajak panjang, senja tenggelam, dan kesunyian. 

Kubiarkan kau terus berjalan, sembari perlahan-lahan aku melipat kenangan. Tetapi aku ternyata masih menyimpan sedikit sisa kegilaan, dengan berharap kau mengingat bahwa aku memiliki sebaris nama.  

Dua pekan semenjak perbincangan kita yang tragis itu, kau memasang potret bayi perempuan yang masih merah. Aku tahu pasti, dia putri pertamamu yang baru lahir belum genap seminggu. Pada potret itu kau menuliskan sebaris kalimat, “Selamat datang di rahim semesta, Zinnia Sayang.”

Aku ingin tak percaya. Tetapi penglihatanku masih berfungsi sempurna, sepasang mataku, juga hatiku. Atas dasar apa kau menghantam jantungku dengan rupa-rupa perasaan yang sulit kukenali. Aku hanya tahu kegilaanku terpenuhi. Kau masih ingat Zinnia, dan itu adalah namaku. []   

 

 

Kampung Yoka, 22 Januari 2016



   0 komentar     |        32 views

Untuk melaporkan cerita ini kamu harus masuk dulu.

Tinggalkan komentar

Anda harus masuk untuk meninggalkan komentar


komentar :

  
Powered by Gramedia Pustaka Utama