Ingat saya
Cover



penulis : Dadan Erlangga
dibuat : Saturday, 01 November 2014 1:55 pm
diubah : 4 tahun yang lalu
vote cerita :
8 votes, average: 3.13 out of 58 votes, average: 3.13 out of 58 votes, average: 3.13 out of 58 votes, average: 3.13 out of 58 votes, average: 3.13 out of 5 (8 votes, rata-rata: 3.13 dari 5)
Anda harus masuk untuk memberikan rating cerita ini.
Loading ... Loading ...
  Tag


  Kategori

FrankFurt

Your Turn

SINOPSIS

Derak ranting dan daun kering yang terinjak mengawali teror di setiap malam. Kepekatan langit tumpah ruah ke bumi, menghitamkelamkan malam yang tak lagi berhiaskan lampu-lampu jalan, taman, dan teras depan perumahan. Tak seorang pun berada di tengah lautan kelam itu untuk tenggelam dalam ketakutan tak berkesudah. Tak seekor hewan malam pun berkenan hadir untuk menjadi saksi kengerian yang terjadi. Ada telapak kaki asing yang kini menjejaki bumi. Dan suara lain menggantikan angin dan derik jangkrik. Mereka, para zombie yang berkeliaran mencari mangsa.

Kegelapan bak sinar matahari pagi yang menyelinap celah jendela. Bulan yang ketakutan membungkus dirinya dengan awan dalam ketidakberdayaannya menerangi semesta malam. Gelap kian menyebar hingga ke setiap sudut ruangan, ke dalam sebuah rumah dua lantai di kawasan Bintaro yang dihuni tiga orang manusia yang masih tersisa.

“Keluarga Pak Bastian sudah menjadi korban,” ujar seorang anak lelaki penuh ketakutan selepas melongok ke jendela, melihat rumah besar di seberang yang berjarak tiga rumah dari kediamannya sudah tak menampakkan tanda-tanda kehidupan. “Mereka menjadikannya camilan kemarin malam, kecuali sopirnya. Kulihat tadi sore dia sudah berganti majikan: pemimpin para zombie.”

“Sudahlah, Weda sayang,” Malida menyalakan lilin kemudian duduk di sampingnya. “Kamu tak perlu membahasnya seperti sedang me-review sebuah film.”

“Mereka…,” bocah bernama Weda itu tetap melanjutkan, “memakan Dion—sahabatku, Bu,” Weda pun menangis. Malida memeluknya. Ia tahu, arti Dion sangat berharga bagi anak bungsunya itu. Sejak kecil mereka bersahabat, satu sekolah dari TK hingga kelas tiga SD kini, teman sepermainan dan berbagi mainan juga. Di tangan Weda, kini tergenggam sebuah action figure Naruto milik Dion yang tak sempat ia kembalikan.

“Alah… kita juga tinggal menunggu giliran saja, kan,” ketus Airy, gadis remaja berparas cantik yang duduk di samping Weda, dan kini sedang mempermainkan api lilin dengan telunjuk dan jempolnya.

Malida mendelik, “Jaga mulutmu!”

“Yaaah… untuk apa kita masih berada di sini kalau bukan menunggu giliran?” Airy benar. Sejak beberapa bulan lalu, negara ini dinyatakan tidak aman. Sebuah wabah virus tiba-tiba menyebar secara misterius, menyerang manusia di hampir seluruh belahan dunia dan mematikan mereka sementara sebelum akhirnya bangkit kembali menjadi zombie. Dan semakin hari, virus zombie tersebut semakin meluas hingga ke pelosok kota, tak terkecuali Jakarta. Zombie-zombie tersebut bereproduksi dengan cara menginfeksikan virus yang mereka miliki ketika aksi kanibalisme tak sempat mereka lakukan kepada manusia. Malida, pekerja kantoran sekaligus single parent yang memiliki dua anak itu bahkan sudah mengetahui kabar buruk tersebut dari jauh-jauh hari. Namun seakan tak ada yang ia lakukan dalam rangka evakuasi. Ia tetap bertahan di rumah ini. Sama halnya dengan yang dilakukan keluarga Bastian, yang kemarin malam menjadi korban.

“Meninggalakan kota dalam situasi seperti ini tidak semudah yang kamu kira,” ucap Malida pada Airy. “Pertumbuhan populasi mereka tak dapat diprediksi. Bisa kamu bayangkan apa yang terjadi di jalanan ketika semua orang berpikiran sama. Dan tak ada jaminan kota mana yang masih aman dan bersih dari mereka.”

“Oke, aku cuma anak umur enam belas tahun yang bodoh dan sok tahu. Puas?” Airy menyandarkan tubuhnya ke punggung sofa. Menarik napas dalam, lalu mengempasnya. “Yah, mulai sekarang aku harus belajar pasrah seperti keluarga Pak Bastian.”

“Apa maksudmu?”

“Kita nggak berani melarikan diri, juga nggak punya senjata untuk melawan mereka,” Airy bangkit, meraih lilin yang lain lalu membagi api dari lilin yang tengah menyala. “Mati segan, hidup pun susah!” Ia beranjak meninggalkan ibu dan adiknya.

“Mau ke mana, kamu?” Airy tak menjawab. Remang cahaya lilin menunjukkan tujuannya ke arah toilet. Malida semakin kehabisan akal dan sabar menghadapi anak gadisnya yang tengah tumbuh remaja itu. Entah siapa yang mestinya bisa lebih dewasa dalam menyikapi situasi genting ini. Ia paham, putrinya sedang mengalami masa transisi. Namun, setidaknya anak itu dapat mengerti kebimbangan yang tengah dihadapinya.

Sikap Airy yang frontal jelas bukan tanpa sebab. Selain karena transisi psikis, juga dikarenakan hambatan fase kasmarannya terhadap seorang pemuda. Tristan, kakak kelasnya yang tampan dan akhirnya menjadi kekasihnya itu memberinya tawaran untuk turut meninggalkan Jakarta, menuju sebuah pulau terpencil di kawasan Nusa Tenggara. Diperkirakan, di sana masih jarang penduduknya, dan prosentase penyebaran virus mematikan dan zombie itu relatif kecil. Dengan semangat empat lima, Airy mengutarakan maksud baik kekasihnya itu kepada Malida. Namun, dengan alasan yang tak memuaskan dan membuat Airy tak habis pikir, Malida menolaknya. Akibatnya, ia harus terpisah dengan kekasihnya. Mungkin untuk selama-lamanya. Sejak kapan orang tua bisa sepaham dan sepikiran dengan anaknya? Airy meradang. Yah, kisah Siti Nurbaya dan Rome-Juliet cukup menjelaskannya. Hingga malam ini, Airy masih sedemikian kesal pada ibunya. Bahkan membencinya.

Setelah melewati satu tikungan ke kiri, kemudian berjalan lurus melewati lorong sepanjang lima meter, Airy tiba di toilet. Memiringkan lilin hingga meneteskan lelehan panas pada bagian wastafel yang datar, ia tegakkan benda itu sebagai satu-satunya penerang di sana. Ia sempat terkejut dan agak takut saat melihat bayangannya di cermin yang tampak buram tertimpa cahaya lilin. Tak berlangsung lama, karena kemihnya tak tahan ingin segera mengalirkan urine akibat bereaksi dengan dingin. Toilet yang gelap dan mengingatkannya pada sebuah latar film horor itu pun sesaat diabaikannya demi memenuhi hasrat biologisnya. Cukup banyak, hingga ia tak mampu berbuat apa-apa ketika melihat bayangan mondar-mandir di balik pintu yang bagian bawahnya menyisakan ruang satu senti dengan lantai.

DEG!

Pikirannya mulai tak keruan.

“Siapa?”

Tak ada jawaban. Dan bayangan itu diam.

“Ibu? Jangan menakuitku!” Airy masih duduk di kloset. Lalu bayangan itu bergerak lagi. “Awas kamu, Weda!” Airy pun bangkit setelah bersih-bersih.

Perlahan ia memutar daun pintu, menimbulkan suara yang membuat ia sendiri meringis dan bergidik. Tiba-tiba keberaniannya tersulut rasa takut yang membara. Ia masih menahan posisi tangan kanannya sambil menerka-nerka siapa, bahkan apa yang ada di balik pintu. Tetesan keringat mulai turun dari pori-pori dahinya. Dan jantungnya terdengar seperti dram yang dipukul dengan kecepatan dua ketukan per detik. Lalu ia berhitung dalam hati.

Satu…

Dua…

Ti…—

“AAA…!!!” Ia menjerit sejadinya saat menarik pintu sambil menutup matanya.

Beberapa saat kemudian ia tersadar bahwa tak ada siapa dan apa pun di hadapannya, kecuali dinding-dinding yang gelap. Sudah beberapa minggu rumahnya tak dinyalai lampu, demi menghindarkan perhatian para zombie yang reaktif terhadap cahaya. Lantas, apakah bayangan tadi hanya halusinasinya?

Airy mengambil langkah ragu. Ia semakin dihampiri ketakutan yang teramat sangat saat dihadapkan pada lorong lima meter yang gelap dan kini terasa bagai lima ratus meter jauhnya hanya dengan pendar lilin kecilnya. Dan ia pikir, cukup sulit mempertahankan nyala lilin jika ia harus berlari. Mau tidak mau, ia harus berjalan selangkah demi selangkah dan berusaha melawan rasa takut.

“AAA…!!!” Jeritannya kembali terdengar setelah ia melihat sesuatu di langit-langit. Ia lekas berlari dan tak peduli lagi lilinnya mati sebelum makhluk mengerikan itu menjatuhkan diri dan menimpa tubuhnya.

ARGHRZGRRAAARGH….

Suara makhluk itu terdengar aneh dan mengerikan saat jatuh ke lantai. Berlari di lorong yang gelap, Airy sempat menghantam dinding ujung lorong yang lain, kemudian berbelok ke kanan, menuju pendar kecil di ruangan yang tadi ia tempati bersama ibu dan adiknya.

“Mereka ada di sini, Bu!” teriak Airy. Namun yang ditemuinya hanya sebuah sofa kosong dengan meja dan lilin yang masih menyala. Ke mana mereka? Tak ada tanda-tanda terjadi penyerangan dan perlawanan yang memporakporandakan furniture, bahkan semuanya tampak tak bergeser sesenti pun dari asalnya. Oh, apa yang sebenarnya terjadi? Lalu, ke mana perginya makhluk tadi?

Airy merasa seorang diri, dan setiap dinding ruangan seakan bergerak perlahan, menyempit lalu menghimpit tubuhnya. Menggedor setiap pintu kamar sambil memanggil ibu dan adiknya pun berakhir nihil, dan membuatnya semakin paranoid. Ia pun lekas berlari menuruni anak tangga yang gelap.

Oh, betapa teganya mereka berdua! Rutuk Airy dalam hati sambil meniti tangga dengan langkah tak terkendali. Tiba-tiba sebuah tangan muncul dari sela terali pegangan tangga dan mencengkeram pergelangan kakinya. Otomatis, Airy jatuh tersungkur, lalu terguling setelah berhasil melepaskan kakinya dari tangan misterius itu. Jeritannya kembali terdengar. Dahinya berdarah terbentur ujung anak tangga terakhir. Untungnya, luka yang dideritanya tak terlalu parah karena ia terguling dari ketinggian yang tidak terlalu ekstrim. Perlahan ia bangkit sambil menahan nyeri di beberapa sendi.

Namun, lagi-lagi tak ada agresi lanjut. Seakan semua yang baru saja terjadi hanya buah dari ketakutannya sendiri, atau bahkan hanya semacam ilusi. Atau mungkin mimpi?

“Airy?”

Sentuhan tangan di pundak Airy membuatnya terlonjak hebat. Tensi darahnya meningkat. Ia sudah mati mendadak jika statusnya pengidap jantung kronis.

“Kamu kenapa?” Malida dengan lampu senter di tangannya ikut panik, terutama saat mendapati darah di dahi Airy.

Airy mendorong Malida hingga menjatuhkan senternya, “Kamu siapa? Mana ibuku yang sebenarnya?”

“Ini aku, Ibumu!” Malida meraih senternya kembali kemudian menyorotkannya pada wajahnya.

Lalu muncul Weda dari arah dapur dan membawa segelas air mineral. “Kakak hanya kelelahan.” Diberikannya gelas itu kepada Airy.

Airy masih tak mengerti apa yang terjadi. Diamatinya lekat-lekat wajah kedua orang itu. Ya, mereka adalah Ibu dan Adiknya. Setelah menenggak air, ia sedikit tenang. Malida membimbingnya ke meja makan lalu mengambil kotak P3K dari lemari dan mengobati luka anaknya. Sementara lampu senternya diletakkan di meja dengan bohlam yang diarahkan ke udara.

“Weda merasa sangat lapar, dan kami turun ke dapur untuk mencari sisa makanan di kulkas,” papar Malida sambil mengoleskan alkohol untuk mensterilkan luka dahi Airy. Meringis, kemudian Airy mengatur napasnya senormal mungkin. Namun rasa takutnya tak berhasil ia tepis, atau sekadar ia tutupi seperti luka di dahinya yang dibalut plester.

“Ya, aku nggak bisa menunggu lagi,” imbuh Weda yang masih menyisakan sedikit selai stroberi di ujung bibirnya, juga action figure Naruto yang selalu menyertainya. “Kakak terlalu lama di toilet. Kupikir, Kakak cukup berani untuk ditinggal sendirian.”

Airy teringat kembali kejadian yang menimpanya di toilet tadi, “Mereka ada di rumah ini, Bu!” tiba-tiba ia kembali panik dan tubuhnya bergetar.

Malida dan Weda saling berpandangan, seolah bertukar rasa sangsi. “Shhht… Mereka ada di luar,” Malida menahan bibirnya dengan telunjuk, “hampir setiap malam, dan tak mungkin mereka bisa masuk. Semua pintu dan jendela terkunci.”

“Tapi aku benar-benar melihatnya! Di depan toilet, dan…—“ kata-katanya tertahan saat melihat sesosok makhluk berjalan kaku, menuju mereka bertiga. Bentuknya tak terlalu jelas karena terkaburkan cahaya minimalis. Hanya tampak sewujud bayangan hitam, tinggi, besar dan membawa sesuatu, serupa kapak. Makhluk itu kini hanya beberapa meter saja di belakang tubuh Malida. Dan mulai tampak jelas.

Selain belalakan mata dan mulut ternganga tanpa kata-kata, Airy tak mampu berbuat apa-apa. Aliran darahnya seperti terhenti akibat kengerian wujud makhluk itu. Bagian kanan wajahnya hancur dipenuhi banyak belatung, bola matanya menggantung-gantung, bibirnya tebal seperti tersengat jutaan lebah, rambutnya botak pada bagian ubun-ubunnya yang sedikit berlubang dan terus meneteskan darah, daun telinga kirinya hilang dan seluruh tubuhnya dipenuhi lumpur, kotoran, dan bercak darah manusia.

“Awas, Bu!” Beruntung Weda lekas melihat zombie itu saat sedang mengangkat kapak yang berlumuran darah ke arah Malida. Weda mendorong tubuh ibunya, dan kapak itu mendarat dan menancap tepat di ujung meja makan kayu, sebelum nyaris membelah kepala Malida. Betapa jarak satu inchi dan waktu sepersekian detik begitu berarti di saat-saat seperti ini.

ARGHRZGHRRAAARGH… zombie itu tampak marah.

Malida sigap menarik lengan kedua anaknya kemudian berlari ke mana pun kakinya bisa melangkah. Arah pintu belakang tampak lebih terang karena sedikit cahaya bulan dari luar, namun tentu saja itu keputusan yang salah. Di luar tampak puluhan zombie yang sedang merusak tanaman bunganya yang masih tersisa. Kolam ikannya pun telah lama luluh-lantak dan semua ikan mas peliharaannya menjadi santapan mereka. Kunci dan palang pintu belakang masih rapi. Hal ini menimbulkan tanda tanya tersendiri di tengah kepanikan yang melanda mereka. Dari mana jalan masuk zombie ini?

Memutar arah, kini seakan rumahnya sebuah tempat terasing yang baru kali ini mereka singgahi. Malida dan kedua anaknya berlari ke sana kemari seperti ayam rabun yang lepas di malam hari. Sementara si zombie dengan tenangnya mengekori.

Beberapa kali Malida terantuk kursi, meja, ujung lemari dan benda-benda di dalam rumahnya. Ia lupa membawa lampu senter yang tertinggal di meja makan. Akibatnya ia terjatuh dan terpisah dari kedua anaknya.

Airy menjerit-jerit saat tiba-tiba zombie itu berdiri di hadapannya, dan mencekiknya. Tangannya menggapai-gapai sesuatu, apa pun yang berada di dekatnya. Sebuah guci. Sekuat tenaga ia mengangkat dan menghantamkannya pada kepala zombie itu. Pecah dan hancur, potongan keramiknya berserakan di lantai, dan si zombie sementara tertahan dengan luka akibat aksi barusan. Kemudian Airy melarikan diri dan mencari keberadaan Ibu dan Adiknya di tengah kegelapan itu.

“Ibu! Weda!” Sambil berteriak, Airy membongkar laci lemari di dekatnya, hingga akhirnya menemukan obeng dan sebuah lampu senter.

Dengan perasaan gamang, ia tembakkan cahaya lampu itu ke seluruh penjuru ruangan. Lagi-lagi, Ibu dan Adiknya menghilang. Lagi-lagi ia merasa sendirian. Ketakutan.

Tiba-tiba mulutnya dibekap seseorang, dan tubuhnya ditarik ke dalam sebuah ruangan. Airy menahan teriakan hingga disadarinya, ia tengah kembali bersama Ibu dan Adiknya. Malida mematikan nyala lampu senter, kemudian mengintruksikan Airy dan Weda untuk membantunya menggeser buffet setengah badan di ruangan yang ternyata gudang itu hingga merapat ke pintu. Mereka bertiga pun kelelahan dan berusaha menahan rasa takut.

“Kamu benar, kita hanya tinggal menunggu giliran,” ucap Malida lemah dan penuh keputusasaan. Ia dan kedua anaknya terduduk lemas merapat ke buffet yang baru mereka pindahkan.

Airy menatap ibunya penuh rasa bersalah, “Maafkan aku, Bu. Aku hanya sedikit kesal.”

“Ya, mestinya kubiarkan kamu kabur dengan kekasihmu itu. Dan membawa serta Adikmu. Aku tidak kuat melihat penderitaan kalian. Lebih baik aku sendiri yang menghadapi semua ini.”

“Enggak, Bu.” Airy dan Weda memeluknya. “Apa pun keadaannya, kita harus tetap bersama-sama.”

Malida menangis, dan tiba-tiba ia teringat akan mendiang suaminya. Dua tahun yang lalu, suaminya yang berprofesi sebagai reporter berita TV, ditugaskan meliput fenomena zombie di Haiti. Kabar terakhir menyebutkan suaminya tewas karena serangan zombie, bahkan otak dan organ tubuhnya hilang. Ia sempat tak keruan selama sebulan. Dan, ketika ia mendengar kabar virus pencipta zombie itu mewabah ke seluruh dunia, termasuk Indonesia, ia semakin kalang kabut. Hanya ada satu tekad dalam dirinya: menyelamatkan kedua anaknya. Namun, bagaimanapun ia hanyalah seorang perempuan biasa yang tak berdaya. Dan selama ia belum menemukan cara untuk menyerang makhluk-makhluk itu, bersembunyi adalah jalan terbaik pilihannya.

“Astaga!” pekik Weda tiba-tiba, membuat ibu dan kakaknya terkejut. “Naruto-ku… di sana!”

“Oh, shit!” sungut Airy. “Sudahlah, wahai Anak kelas tiga SD! Berdoalah ia menjadi Naruto sungguhan yang akan menyelamatkan nyawa kita semua!”

“Dion, maaf….” Weda terisak dalam.

Malida memahaminya. Arti kenangan dan kehilangan. Ia lekas bangkit dan menggeser kembali buffet itu sekuat tenaganya, sendirian. Airy dan Weda terkejut dan berusaha menahannya, namun tak berhasil. Malida seperti kesetanan. Ia membuka pintu lalu menguncinya dari luar. Teriakan Airy dan Weda tak diacuhkannya. Menyalakan lampu senter, Malida mencari-cari Naruto yang dimaksudkan Weda. Tak perlu waktu lama, ia sudah menemukannya. Di bawah meja makan. Ia mendapatkannya. Namun tiba-tiba…

AAARGHHH!!!

Zombie itu menangkap dan membekapnya, berusaha menggigit tubuhnya. Malida meronta-ronta, berusaha melepaskan diri. Ia hanya mampu mengerahkan segenap kekuatan pada tangannya untuk menghantamkan replika Naruto yang terbuat dari semi-besi itu pada mata si zombie. Semburan darah pun tak terhindarkan, mengenai wajah Malida.

AAARGHHH!!!

Erangan zombie itu semakin nyaring dan mengerikan, memanggil teman-temannya di luar. Oh, tidak! Mereka sudah berada di dalam! Pintu belakang dan depan bahkan sudah bobol, dan beberapa jendela yang tak berjeruji sudah hancur. Satu per satu mereka menampakkan diri. Oh Tuhan, inikah makhluk dari neraka?

Malida berkesempatan mencabut kapak yang masih menancap pada ujung meja makan. Berat, namun seakan ia mendapat kekuatan potensial dari dasar kesadarannya. Ia memejamkan mata dan membayangkan wajah menyedihkan suaminya ketika diserang mereka. Dengan segenap kekuatan, ia tebaskan kapak itu berkali-kali pada tubuh si zombie. Darah menyembur ke segala arah, dan satu per satu bagian tubuh zombie itu terlepas.

Zombie lainnya datang, kali ini berwujud perempuan yang sebelah payudaranya hilang. Jeritannya melengking, mirip penyanyi seriosa versi fals dan menjadi korban timpukan penononton. Ia melompat dari anak tangga kesepuluh dan bersiap menerkam Malida. Malida mengangkat kapak dan menancapkannya tepat ke tubuh si zombie betina ini. Ah, Malida tak perduli se-mandi-darah apa dirinya kini.

Setelah itu, puluhan zombie datang menggempurnya. Malida sudah kehilangan kapaknya yang sulit tercabut lagi. Ia terkepung. Semakin terkepung. Lingkaran zombie yang mengelilinya semakin mengecil. Suara-suara aneh membuatnya serasa berada di kebun binatang, atau bahkan di hutan dengan puluhan hewan liar. Malida hanya bisa pasrah, dan lagi-lagi hanya mampu memikirkan wajah suaminya. Mungkin beginilah yang terjadi pada suaminya waktu itu. Ya, bahkan Malida mulai merasakan kehadiran suaminya. Menjemputnya.

BRAKKK!!!

Di sisi lain, Airy dan Weda berhasil mendobrak pintu gudang. Mereka keluar dengan linggis dan palu. Apa pun akan mereka lakukan jika keadaannya sudah begini. Airy berhasil menancapkan linggisnya pada punggung salah satu zombie. Sementara Weda tampak ragu-ragu memalu tubuh zombie yang lain, hingga tubuhnya sendirilah yang akhirnya terpental jauh. Lalu Airy teringat akan obeng yang tadi dikantonginya. Ia berusaha memalingkan si zombie ke arahnya, dan menusukkan obeng itu pada perutnya. Ironisnya, obeng itu malah mengarah pada dirinya. Menusuk lengan atas kirinya. Jaket putih Airy mejadi merah di bagian sana. Sakit. Namun lebih sakit lagi melihat Ibunya dikeroyok dan… dicabik-cabik, disobek-sobek, di…—Oh Tuhan, kuharap itu bukan ibuku! Pekik Airy getir, melihat seorang perempuan tak berdaya diperlakukan seperti manusia yang siap dibagi-bagikan kepada seluruh masyarakat zombie.

DHUAR!!!

Tiba-tiba terdengar ledakan dari lantai dua. Televisi yang terbakar. Lilin di atas meja yang tak sempat dipadamkan terjatuh dan melahap karpet, lalu sofa dan merembet ke benda lainnya yang mudah terbakar. Terutama kabel-kabel listrik yang masih mengalirkan tegangan. Setelah cukup kenyang melalap semua ruangan di lantai dua, api pun turun. Airy yang hampir setengah sadar mencari keberadaan Weda untuk melarikan diri ke luar.

Dan semuanya terjadi begitu saja. Rumah itu terbakar.

 

***

 

Cahaya matahari dan rasa sakit di sekujur tubuh membangunkan Airy. Ia mengerjap. Orang mati tak mungkin merasakan sakit dan terbaring di atas rumput seperti ini, pikirnya. Dan tentu saja, ini bukan bagian dari adegan bangun tidur setelah mimpi buruk yang terjadi semalam. Matanya terbelalak melihat rumahnya luluh-lantak. Hangus, dan tinggal puing-puing bangunan yang menyedihkan. Ia pun lekas bangkit dengan sisa-sisa tenaganya.

“Ibu…. Ibu…!” Airy terus memanggil Ibunya, namun tak berhasil menemukannya. Mungkinkan Malida tak bisa menyelamatkan diri dari serangan makhluk-makhluk itu? Ataukah ia terjebak di dalam rumah yang terbakar dan kemudian meninggal? Ataukah mungkin kedua kemungkinan itu benar?

Untungnya, Airy berhasil menyelamatkan Weda. Bocah kecil itu tertidur tak jauh dari sisinya, dengan deru napas turun-naik di dadanya. Mereka tertidur di semak-semak halaman belakang rumahnya. Itu adalah tempat bermain rahasianya semasa kecil dulu. Namun begitu, kenyataan bahwa kini mereka telah kehilangan seorang Ibu tercinta membuat hati Airy terluka.

Airy sedang menangis, meratapi kesedihan dan kehilangannya, ketika suara seseorang memanggilnya.

“Airy!” Suara itu terdengar maskulin, dan rupanya memang berasal dari seorang lelaki.

Ia berusaha mengidentifikasi wajah lelaki itu. “Tristan?” Dan lelaki tampan itu tampak bersinar di mata Airy, setelah lama mereka tak berjumpa. “Kamu… kamu masih di sini?” Airy tak kuasa menahan kerinduannya. Bangkit, Airy lalu memeluknya. Derai tangisnya semakin pecah di pelukan Tristan.

“Aku sengaja datang untuk menjemputmu, dan juga Weda. Kamu mau ikut denganku, kan?”

“Ya, aku mau.”

Mereka berpelukan cukup lama, sampai kemudian Tristan mengangkat wajah Airy, dan mendekatkan bibirnya ke bibir Airy.

“T-Trist–?” Sebelum Airy menyelesaikan kata-katanya, Tristan lekas mengecup bibirnya.

Perlahan namun pasti, mereka pun saling berpagut dalam kecupan hangat dan dalam. Ini adalah ciuman pertama bagi Airy. Rasanya menyenangkan dan seperti sedang melayang-layang. Sampai di satu titik, Airy tersadar, perlahan-lahan bibir Tristan terlepas dan terkunyah di mulutnya. Darah segar menetes deras. Merasa jijik, Airy pun memuntahkannya selayak makanan yang tidak ia sukai.

“Tristan…?”

Dan Airy semakin histeris saat melihat wajah tampan Tristan perlahan mengelupas dan satu per satu bagian tubuhnya terlepas.[]



   1 komentar     |        912 views

Untuk melaporkan cerita ini kamu harus masuk dulu.

Tinggalkan komentar

Anda harus masuk untuk meninggalkan komentar


komentar :
Tsaki Daruchi TsakiDaruchi

*masukin koleksi*

November 1, 2014, 3:03 pm

  
Powered by Gramedia Pustaka Utama