Ingat saya
Cover



penulis : Wenny Prastiwi
dibuat : Sunday, 03 June 2018 8:39 am
diubah : 2 bulan yang lalu
vote cerita :
0 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 5 (0 votes, rata-rata: 0.00 dari 5)
Anda harus masuk untuk memberikan rating cerita ini.
Loading ... Loading ...
  Tag


  Kategori

FrankFurt

Will You Wait For Me?

SINOPSIS

Senja di bulan Mei. Senja yang indah. Senja yang terbalut geleyar sinar jingga. Senja yang mengingatkanku akan kamu.
Ini senja kesekian. Senja kesekian yang kuhabiskan tanpa kamu. Biar kuingat, sudah dua ribu tiga ratus empat puluh lima hari kita lewatkan tanpa kebersamaan, berjalan sendiri-sendiri di kehidupan masing-masing. Dan hingga kini aku masih merindumu dengan sangat, meskipun tak sedetikpun kamu memberiku sekerat kabar. Kamu jahat sekali.
I need to talk with you againWhy did you go away?All our time together still feels like yesterday..
Kuhela napas dalam dan berat sembari meneguk secangkir kopi yang kupegang. Kepul dan aroma kopi yang harum ini entah mengapa kembali mengingatkanku akan dirimu. Kutatap sekeliling rumah yang masih menyisakan beberapa kenangan tentangmu, teleskop kesayanganmu, buku-buku mengenai astronomi, atlas perbintangan… Dan tak ayal, segala ingatan tentangmu pun berkejaran dalam benakku.
Namanya Dimas.
Dimas, lelaki maniak astronomi yang kukenal melalui sebuah facebook page yang berisi para pecinta astronomi amatiran. Dan disanalah awal mula perkenalan kami. Berawal dari kolom komentar di suatu postingan mengenai konstelasi, percakapan kami bermuara pada telepon dan pesan-pesan singkat. Kamu adalah seorang penggila astronomi yang cerdas dan berwawasan luas. Bersamamu selalu ada hal menarik yang bisa kita diskusikan. Hingga pada suatu hari kamu mengajakku kopi darat sekaligus menatap bintang dari sebuah bukit.

Dan aku menyanggupi permintaanmu. Bertemu dengan lelaki asing yang hanya kukenal lewat dunia maya. Tanpa khawatir bahwa kamu mungkin seorang penculik atau psikopat yang suka memutilasi. Mungkin saat itu aku sedang sinting.
Tapi kamu benar-benar tampan, dan mungkin itu yang membuatku terpesona pada awalnya. Dan tidak menyesal untuk bertemu denganmu.

“Lihat, Ga, bintang-bintang malam ini terlihat cerah sekali. Kamu bisa melihat rasi Scorpio yang berdiri gagah langit barat. Kemudian… lihat! Kamu bahkan masih bisa melihat Venus yang berkedip-kedip menggoda di ujung sana! Ah, hari ini kita benar-benar beruntung!”

Aku sejujurnya tak tahu banyak mengenai astronomi, aku hanya memiliki ketertarikan yang, yah, cukup besar menyangkut perbintangan. Dan menatapmu berteriak antusias sembari menggerak-gerakkan teleskop MEADE seri LX 200 Schimdt-Cassegrein kesayanganmu ke seluruh penjuru langit entah mengapa membuatku bersyukur telah dipertemukan denganmu.
Dan hari-hari berlanjut dengan dirimu yang setia mengisi setiap waktuku. Kamu menjadi rutinitasku, selalu hadir di setiap jeda dan sela. Agendamu untuk menonton bintang pun menjadi agenda monotonku di setiap penghujung hari. Kamu mendongengiku bermacam-macam hal mengenai benda langit yang akhirnya lambat laun kucintai. Dan otomatis membuatku semakin mencintaimu juga, bintang paling terang dalam hidupku.
Bersamamu selalu menyenangkan. Kamu membuatku utuh dengan hadirmu yang melengkapi. Aku bahagia merasakan tepukan-tepukan lembutmu di kepalaku saat hendak terlelap, ataupun obrolan-obrolan panjang sepanjang malam, ataupun suara gemerincing kunci saat kamu membuka pintu di pagi hari. Aku bahagia merasakan kamu ada dan nyata. Aku tumbuh, berkembang, dan mekar bersama cintamu yang membuatku hidup.
Jadi, bagaimana bisa aku bertahan tanpa cinta yang seperti itu?
Do you remember how it was?
When we never seemed to care
The days went by so quickly
Coz I thought you’d always be there..

“Ada kupu-kupu di kepalaku.. Aku tahu aku takkan bisa membunuhnya, tapi akan kucoba untuk mematahkan sayapnya agar dia tidak mampu terbang.”

Glioblastoma multiforme, sel ganas berbentuk kupu-kupu yang bersarang di otakmu selama sekian lama tanpa pernah kamu sadari.
Dan hari-hari pun berlanjut. Penuh dengan serangkaian siksaan eksperimental yang menambah penderitaanmu dari waktu ke waktu tanpa bisa menambah jatah hari yang masih tersisa untukmu. MRI berulang, kemoterapi sistemik, radiasi, obat-obatan antikanker berdosis tinggi yang diharapkan dapat melumpuhkan kupu-kupu di kepalamu itu.
Tidak ada lagi agenda menonton bintang semalaman, kamu sudah terlalu lelah untuk melakukannya. Tidak ada lagi pijar di matamu, meredup seperti bintang yang menyerah pada takdir supernova. Tapi aku masih bahagia, setidaknya aku masih merasakan hangatmu di pelukanku.

Helga, kamu tahu bintang apa yang paling terang? Benar, Sirius, bintang putih panas paling berpijar di langit malam. Akupun, Helga, bersinar seperti Sirius, di tulang rahangku, jantungku, paru-paruku.. Di mana-mana..”

Di mana-mana. Sebuah kata-kata singkat namun bermakna padat. Di mana-mana. Kupu-kupu itu telah mengepakkan sayap tak terkendali. Sel-sel ganas itu telah menyebar. Bermetastasis mematikan.
Aku tahu hanya hitungan bulan yang tersisa. Kondisimu semakin memburuk. Nyeri hebat di kepala, makanan yang terus menerus kamu muntahkan, darah di sikat gigi, berulang kali pingsan dalam sehari, sesak napas yang tak tertahankan, bercak kebiruan berbentuk uang logam yang muncul di beberapa bagian tubuhmu.
Tubuhmu semakin lama semakin kurus, tulang-tulang iga tampak menonjol dari balik kulit bahumu. Tubuhmu membiru, menandakan betapa kamu kekurangan oksigen. Aku tahu kamu mencoba untuk terus tersenyum, mencoba tetap tegar, mencoba menunjukkan diri bahwa kamu baik-baik saja, meskipun aku sangat tahu bahwa kamu selalu menggertakkan gigi kala sel-sel ganas itu mencoba membunuhmu. Kamu mencoba tampak kuat di hadapanku meski nyeri terus menyiksamu dengan hebatnya.
Dan waktu seakan tidak berpihak pada kita, berlari dengan cepat mengantarkan kita pada saat-saat perpisahan. Aku sangat tahu dan sadar bahwa semakin cepat waktu berlalu, semakin segeralah pula kamu terlepas dari penderitaan. Tapi, sungguh, aku belum siap ditinggalkan kamu, aku tidak mampu bertahan tanpa jiwamu yang menemani. Aku masih sangat manja menginginkan hadirmu.
I never thought I’d seeA single day without youThe things we take for grantedWe can sometimes lose..
Tubuh ringkihmu masuk ke ICU malam itu, dengan selang-selang yang membelit tubuhmu, mencoba membuat jantungmu tetap berdenyut meskipun kepayahan. Kamu sudah setengah sadar, dengan aku yang terus berusaha merapal doa yang masih bisa terpikirkan.

“Hiduplah dengan bahagia, Helgaku sayang…”

Kata-kata terakhir darimu yang kamu ucapkan dengan tersengal, dengan seluruh kekuatan yang masih tersisa, sebelum kegelapan menyeretmu dalam ketidaksadaran. Kamu tidak pernah bangun sejak saat itu. Tidak ada lagi tepukan-tepukan menenangkan di kepalaku, tidak ada lagi usapan air mata di pipiku yang membanjir dengan derasnya.
Kanker itu, yang merupakan bagian dari dirimu, telah menghentikan jantungmu, yang juga merupakan bagian dari dirimu.
And it’s hard to let you go
Though I know that I must try
I feel like I’ve been cheated
Coz we never said goodbye..

Menjalani hidup tanpamu di hari-hari selanjutnya, bukanlah perkara mudah bagiku. Malam setelah kepergianmu, hujan turun dengan derasnya, menenggelamkan tangisku. Semalaman aku membalut diriku dengan selimut, mencoba menghidu aroma tubuhmu yang masih tersisa. Aku sudah sangat merindukanmu, apakah kamu tahu? Apakah kamu juga rindu?
Hingga saat ini, rindu itu masih setia menyapa. Menghujam, melumpuhkan setiap sendi tubuhku, memenjarakanku dalam raung tangis yang tak berkesudahan. Aku lebih baik disiksa hingga gila daripada harus menahan rindu yang tak mampu kusampaikan. Ditambah rangkaian kenanganmu yang masih menghajarku tanpa ampun. Orang bilang, kenangan takkan pernah mati, tapi aku tak bisa hidup hanya dengan kenanganmu..
And if I promise not to feel the painWill I see you again? Will I see you again?
Pipiku tiba-tiba basah, basah sekali..
Ini sudah tujuh tahun, Dimas.. Aku harus bagaimana?

Hiduplah dengan bahagia…

Suaramu kembali menggema, terdengar, dan menusuk sanubariku. Bagaimana mungkin aku bisa hidup dengan bahagia ketika kamu sendiri adalah sumber bahagiaku?
Aku akan mencoba untuk tetap bahagia, Dimas, meskipun itu hal tersulit yang pernah kulakukan. Aku akan terus bernapas, meskipun itu tidak menjamin bahwa aku tetap hidup. Kusadari, jiwaku sudah ikut mati, ikut terkubur bersama peti matimu tujuh tahun yang lalu.
Tapi, percayalah, aku tidak akan mengakhiri hidupku, meskipun keinginan itu kerap datang menggodaku berkali-kali. Tidak, aku akan menunggu hingga saatku tiba. Saat Tuhan memanggilku untuk kembali menyatukanku denganmu.
And time will pass me by
Maybe I’ll never learn to smile
But I know I’ll make it through
If you wait for me..

Tunggulah sayang, kelak aku akan kembali padamu. Kelak aku akan mati, untuk kembali hidup. Bersamamu…
Won’t you wait for me, in heaven?

[terinspirasi dari buku “The Fault is in Our Stars”, ada beberapa istilah yang diambil dari buku itu. Istilah-istilah dan ungkapan-ungkapan lain juga terinspirasi dari beberapa sumber]Based on the true story, tentang sekuntum cinta yang tak pernah layu dan gugur.

#cerpen #cinta #astronomi



   0 komentar     |        55 views

Untuk melaporkan cerita ini kamu harus masuk dulu.

Tinggalkan komentar

Anda harus masuk untuk meninggalkan komentar


komentar :

  
Powered by Gramedia Pustaka Utama