Ingat saya
Cover



penulis : Dimas Joko
dibuat : Wednesday, 27 September 2017 9:32 am
diubah : 1 bulan yang lalu
vote cerita :
0 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 5 (0 votes, rata-rata: 0.00 dari 5)
Anda harus masuk untuk memberikan rating cerita ini.
Loading ... Loading ...
  Tag


  Kategori

FrankFurt

TUHAN, JANGAN BIARKAN MIMPI-MIMPIKU PATAH…

SINOPSIS

TUHAN, JANGAN BIARKAN MIMPI-MIMPIKU PATAH…

(Based on a true story)

Apa yang akan engkau lakukan, bila peristiwa berikut terjadi pada dirimu?

Engkau punya ketrampilan dan bakat menulis. Seolah-olah, Tuhan memberi karunia khusus dengan kemampuan belajar dan memahami teknik-teknik menulis secara otodidak kepadamu. Bahkan, kau pernah jadi finalis dan penulis pilihan lomba menulis. Berjumpa dengan sesama jawara lomba, belajar kepada sejumlah guru dan membahas naskah bersama editor suatu penerbit ternama. Di beranda netramu sudah terlukis gambar tentang karya-karyamu yang bertengger di rak-rak toko buku.

Lalu, musibah, sebagian orang menyebutnya malapetaka, menimpamu. Dan engkau tak sanggup mengelak. Ketetapan takdir telah terjadi.

Usai melakukan riset besar, mencoba bertahan hidup sebagai penerjemah dan asisten riset, meluluskan adik asuh dan menulis ulang naskah novel perdana, engkau kehabisan energi (burnout). Sejak akhir 2016, staminamu merosot drastis. Kerap sakit-sakitan. Puncaknya, menjelang Idul Adha 2017, dokter mengharuskanmu rihat total beberapa bulan. 

Mereka menemukan sejumlah penyakit berat mengancam keselamatan jiwamu. Hanya ada dua pilihan: operasi atau tidak. Keduanya tergantung hasil serentetan tes dan observasi medis dirimu. Pendek kata, ada beberapa konsekuensi “buruk” atas kedua pilihan itu.

Bila operasi berhasil, staminamu jelas berlainan dengan sebelumnya. Terlalu banyak aturan dan rekomendasi Tim dokter yang mesti kauindahkan benar-benar. Kau seperti dilahirkan kembali menjadi manusia separuh lumpuh.

Dan mimpi-mimpimu menjadi penulis tanah air terancam patah. Terenggut, terampas dan terkoyak-koyak.

Sementara, naskah novel perdana itu baru seperempat jadi. Kau bermaksud menyulihinya dengan genre lain yang lebih ringan. Mengganti skala prioritas. Toh, sudah separuh kisah rampung ditulis.

Kabar yang mengguncang dada itu tiba. Kau hanya bisa duduk terhenyak di kursi. Sendirian di bangsal rumah sakit. Menahan nyeri hebat yang mendera sekujur rongga perut. Telaga airmata menenggelamkan beranda matamu.

Hanya dua kalimat mengharuskanmu dari lisanmu. Kalimat tarjih sebagai ungkapan kepasrahan hamba kepada penciptanya. Dan, sepotong doa…

“Tuhan, jangan biarkan mimpi-mimpiku patah!”

***

 

 

#LekasSembuhDJ

#AdaAmanahyangMestiKauTepati 



   0 komentar     |        48 views

Untuk melaporkan cerita ini kamu harus masuk dulu.

Tinggalkan komentar

Anda harus masuk untuk meninggalkan komentar


komentar :

  
Powered by Gramedia Pustaka Utama