Ingat saya
Cover



penulis : Hayati Nimas
dibuat : Wednesday, 16 May 2018 3:03 pm
diubah : 2 bulan yang lalu
vote cerita :
0 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 5 (0 votes, rata-rata: 0.00 dari 5)
Anda harus masuk untuk memberikan rating cerita ini.
Loading ... Loading ...
  Tag


  Kategori

FrankFurt

The Witnesses

SINOPSIS

Marine mengangguk lagi tanda ia mengerti apa yang dikatakan Emelyn, bukan sesuatu hal yang amat sulit bagi Marine untuk mengerti apa yang dikatakan sahabatnya itu meski suaranya diatur dalam volume yang teramat pelan, Marine pandai membaca gerak bibir, ia paling bisa diandalkan untuk membaca vokal seseorang. Mata gadis itu sesekali menyipit demi mendapatkan fokus. Sejauh ini ia paham Emelyn sedang merencanakan pelarian diri.

Marine paham ini bukan merkara mudah, tapi Emelyn—dengan keteguhannya yang seperti biasa, membuat semuanya menjadi seolah sangat mudah.

“Kita perlu membuat rencana yang lebih detail,” sahut Marine. Ia berusaha keras untuk berbisik tapi tetap saja, suara yang keluar dari mulutnya selalu lebih keras. Mereka masih bersembunyi di balik selimut masing masing. Emelyn, yang rambutnya terlihat lebih terang mulai membelalakkan matanya, ia tak ingin rencana mereka didengar gadis lain di asrama itu.

Ini misi rahasia.

Kate dan Maria tak perlu tau apapun, hidup mereka baik-baik saja tanpa kekurangan satu apapun. Lain halnya dengan Emelyn dan Marine, mereka berasal dari daerah yang sama—bertetangga, orang tua mereka hilang saat terjadi demo buruh besar-besaran dan mereka sebatang kara sejak kanak-kanak. Tak ada gunanya menghabiskan waktu di tempat itu.

Selesai sekolah menengah, Kate dan Maria—karena berasal dari keluarga berada, mungkin bakal pindah ke kota dan melanjutkan pendidikan tinggi di sekolah bergengsi di sana. Sementara Marine dan Emelyn, seumur hidup keduanya mungkin akan terperangkap di sana, mengurusi segala sesuatu tentang asrama itu.

“Kita akan meneruskan pembicaraan ini esok pagi, di taman saat istirahat jam makan siang.” Emelyn membulatkan matanya lalu memalingkan badannya, pergi tidur.

Marine belum bisa tidur. Matanya masih menerawang menatap langit-langit kamar yang dihuni empat orang, agak temaram, hanya lampu api di lorong yang menjadi penerangan. Obor kamar tak boleh menyala, atau penjaga lorong bakal tau ada seseorang yang belum tidur di kamar itu.

Bagaimana Emelyn bisa tidur secepat itu?

Marine mulai menatap barang-barang di kamarnya secara acak, sementara otaknya berkelana. Enam tahun lalu mereka masuk ke asrama ini bersama dengan 16 anak lain. Mereka ada yang kabur, mulai bekerja sampingan sebagai pencuci piring, penyapu halaman, bahkan ada yang dilatih menjadi bagian administrasi, dan bahkan ada yang sering dimintai untuk menemani ibu asrama, Marine dan Emelyn menyebut ke-14 anak itu sebagai kader.

Ini sekolah yang bagus di Southern Abbey, itu sebabnya orang sekaya Maria dan Kate bisa juga masuk ke sini, tapi Marine dan Emelyn tak mungkin membiarkan dirinya terperangkap dengan pakaian serba tertutup dan menua di bangunan tua ini, tidak, mereka tidak mau. Keduanya ingin melihat bagaimana Kota besar yang dihuni Kate dan Maria.

 

 

Di luar sana.



   0 komentar     |        36 views

Untuk melaporkan cerita ini kamu harus masuk dulu.

Tinggalkan komentar

Anda harus masuk untuk meninggalkan komentar


komentar :

  
Powered by Gramedia Pustaka Utama