Ingat saya
Cover



dibuat : Tuesday, 21 October 2014 11:42 pm
diubah : 4 tahun yang lalu
vote cerita :
6 votes, average: 3.67 out of 56 votes, average: 3.67 out of 56 votes, average: 3.67 out of 56 votes, average: 3.67 out of 56 votes, average: 3.67 out of 5 (6 votes, rata-rata: 3.67 dari 5)
Anda harus masuk untuk memberikan rating cerita ini.
Loading ... Loading ...
  Tag


  Kategori

FrankFurt

The Last Adieu

SINOPSIS

Prolog

 

I’M GONNA MARRY YOU!” Suara cempreng Nay membahana di dapur rumah. Ia berkacak pinggang sambil menatap galak ke arah Owen yang duduk di salah satu kursi meja makan. Rambut hitam Nay yang panjang bergelung berantakan di kepalanya yang mungil. Bibirnya yang berwarna hijau-kebiruan setelah memakan permen terkatup rapat, seakan ingin memberitahu Owen bahwa keinginannya tak terbantahkan.

            “NO!” Suara Owen tak kalah cempreng dibanding Nay. Kepalanya yang botak dengan cepat menggeleng. Matanya yang bulat dan berwarna hijau kebiruan mulai tergenang air. “Mom, why did you tell her to marry me?” jeritnya sambil menangis ke arah Clarissa, ibunya, yang sedang asyik merekam dengan handycam.

            “What? I didn’t tell her anything,” sahut Clarissa dengan wajah polos, berpura-pura tak tahu-menahu padahal memang ia yang menyuruh Nay. Ia menoleh ke belakang sebentar, melepas tawa yang sedari tadi ditahannya. Ia selalu suka menggoda Owen. Senjata paling ampuh tentu saja Nay, anak tetangga mereka yang setiap hari datang berkunjung untuk mengajak Owen bermain. Nay selalu bilang ia menyukai Owen. Karena matanya yang hijau, kata Nay. Tapi Owen tidak suka Nay. Ia akan selalu berpura-pura sibuk mengerjakan PR atau tidur tiap kali mendengar suara cempreng Nay di depan pagar rumah memanggil-manggil namanya.

Namun, Nay tidak pernah menyerah. Sejak empat tahun lalu Clarissa dan suaminya—seorang pilot asing yang bekerja untuk maskapai Indonesia—pindah ke Indonesia, Nay tidak pernah absen untuk datang melihat Owen. Hal itu sudah terjadi bahkan sejak hari pertama kepindahan mereka ke kompleks rumah itu.

“Pokoknya, mau kamu marah-marah kek, aku akan tetap menikahi kamu waktu besar nanti!” omel Nay lagi.

Owen menangis semakin keras. “NO!” jeritnya dengan suara yang terdengar seperti anak perempuan.

YES!” sahut Nay.

NO!” jerit Owen lagi.

Clarissa hanya tertawa cekikikan, menikmati kegiatan merekamnya. “Owen pasti akan suka lihat ini waktu dia besar nanti,” gumamnya.

Again?

Handycam Clarissa hampir meluncur bebas dari tangannya karena terkejut oleh suaminya, Jerry, yang tiba-tiba saja sudah berada di sampingnya dalam keadaan berseragam lengkap. Clarissa terkekeh, sementara Jerry menggeleng-geleng. “Kamu selalu suka membuat Owen menangis. Kamu dan Nay lebih tepatnya.”

“Biar saja. Owen sama kayak kamu. Sombong tapi mau.”

Jerry tertawa sedikit. “I love you, Ris,” ujarnya sambil mengecup pipi Clarissa. “Aku terbang dulu.”

I love you, too, Jer. Take care.

Always,” jawab Jerry sambil tersenyum. “Sudah, cukup bermainnya hari ini. Owen kan capek kalau menangis seperti itu.”

Clarissa tertawa sambil mematikan handycam-nya lalu menghampiri Owen. “Hush, hush…” lirihnya dengan nada lembut yang selalu berhasil membuat Owen tenang dalam pelukannya.

Sementara Jerry memilih menghampiri Nay yang cemberut memandangi Owen. “Nay, mau pulang? Sudah sore, Om antar ya.”

Nay memanyunkan bibirnya sebelum akhirnya menjawab, “Iya deh, Om, Nay pulang aja. Owen cengeng sih.”

Tangis Owen pecah lagi mendengar kalimat yang terlontar dari mulut gadis itu. Clarissa tersenyum ke arah Jerry sambil mengusap-usap punggung anaknya. “Bye,” katanya tanpa suara, mengantar Jerry yang membawa Nay ke luar rumah.

“Om mau terbang lagi, ya?” tanya Nay sambil tangannya digandeng Jerry berjalan di taman depan rumahnya.

“Iya, Nay.”

“Kalau Owen bisa terbang nggak, Om?”

“Yah, nggak bisa, Nay. Memang kenapa?”

“Nay mau Owen bawa Nay terbang, Om. Kayak Om Jerry suka ajak Tante Clarissa terbang.”

Jerry tersenyum sambil membuka pagar rumahnya. “Nanti Om bilang sama Owen ya, supaya dia belajar terbang jadi bisa bawa kamu jalan-jalan.”

“Asik!” Nay bersorak dengan binar cantik di matanya.

“Ya sudah, Nay masuk rumah ya, pasti mama kamu sudah nungguin.”

“Oke, Om,” sahut Nay girang sambil melambai-lambaikan tangannya.

 

“Dah, Nay.” Jerry membalas lambaian tangan kecil itu dengan sebuah senyum hangat. Hari-hari Jerry akan selalu seindah ini. Asal ada Clarissa, Owen, dan Nay, itu sudah cukup baginya.



   0 komentar     |        853 views

Untuk melaporkan cerita ini kamu harus masuk dulu.

Tinggalkan komentar

Anda harus masuk untuk meninggalkan komentar


komentar :

  
Powered by Gramedia Pustaka Utama