Ingat saya
Cover



penulis : nishindi
dibuat : Sunday, 24 March 2019 1:37 pm
diubah : 4 bulan yang lalu
vote cerita :
1 vote, average: 5.00 out of 51 vote, average: 5.00 out of 51 vote, average: 5.00 out of 51 vote, average: 5.00 out of 51 vote, average: 5.00 out of 5 (1 votes, rata-rata: 5.00 dari 5)
Anda harus masuk untuk memberikan rating cerita ini.
Loading ... Loading ...
  Tag


  Kategori

FrankFurt

That Why I Love You

SINOPSIS

            La la la la la la

            La la la la la la

            I like your smile

            I like your vibe

            I like your style

            But that’s not why I love you.

 

            Satu bait lagu yang mengalun dari I-podnya membuat Olive tersenyum. TomyLagu yang di populerkan Avril Lavigne dengan judul I love you ini benar-benar mengingatkannya pada sang kekasih—Tomy. Olive ingat betul bagai mana pertama kali ia bertemu dengan Tomy dan memutuskan untuk mencintai pria itu. Bukan karna senyumnya, bukam karena karismanya, bukan karena gayanya.

                                                                        ***

            “Dokter, anda mendapat seorang pasien baru. Ia ingin di tangani psikiater terbaik di rumah sakit ini.” Olive mengernyitkan dahinya, separah apa guncangan jiwanya hingga ia menginginkan dokter terbaik untuk menanganinya.

            “Persilahkan masuk.” Olive tak ingin menerka-nerka ia ingin melihat langsung pasiennya.

            Dari ambang pintu muncul sosok tegap dengan gaya formal. Setelan jas mahal dan oh Tuhan—karismanya yang memikat. Olive wanita dewasa yang normal, tentu saja ia merasa geleyar aneh ketika menatap pasiennya ini sangat—tampan.

            “Silahkan dengan—“ Olive menggantungkan kalimatnya, ia merasa bodoh karena tak tahu nama pasiennya.

            “Tomy, panggil aku Tomy saja.” jawab pria itu sambil tersenyum.  Senyum itu sungguh memikat. Bahkan Olive hampir tak dapat berkedip. Laki-laki ini sempurna.

                                                                        ***

            And I, I like the way

            You’re such a star

            But that’s not why I love you.

 

            Olive tersenyum, mengenang pertemuan pertama mereka. Tomy yang aneh. Meminta psikiater terbaik hanya untuk sebotol obat penenang. Mengingatnya membuat Olive tersenyum. Bukan karena senyumnya, karismanya, atau gayanya, ia menyukai semua dalam diri Tomy, tapi bukan itu alasannya ia mencintai Tomy.

            Olive masih berjalan menyusuri lorong rumah sakit menuju ruangannya. Alunan lagu masih terdengar dari I-podnya. Hari ini ia akan mengenang tentang masa lalunya bersama Tomy, batinnya sambil tersenyum.

            Olive meletakkan tasnya pada meja. Ia duduk dengan menyandarkan badan di kursi. Masih terlalu pagi memang untuk datang ke rumah sakit. Tapi di sini ia bisa lebih menenangkan diri.

            Olive tersenyum. Setelah pertemuan pertamanya dengan Tomy, terjadi pertemuan-pertemuan selanjutnya. Ia memejamkan matanya, mengingat bagaimana Tomynya di masa lalu…

                                                                        ***

            “Olive, apa kau tak merasa terhormat telah ku ajak ke acara besar perusahaanku.” Tomy berkata tanpa menoleh pada Olive yang duduk di sampingnya. Ia masih terfokus pada jalan di hadapannya.

            “Bukan begitu…aku hanya doktermu, ku pikir itu bukan ide yang bagus, mengingat di sana aku akan menjadi ‘pasanganmu’” wajah Olive memerah ketika mengatakan ‘pasanganmu’ oh ayolah, bohong kalau Olive bilang ia tak menyukai pria seperti Tomy.

            “Itu bukan alasan yang bagus.” Tomy berkata dingin. Menjalani hari-hari bersama Tomy—sebagai dokter dan pasien—membuat Olive mengerti beberapa sikap pria ini. Dingin, arogan, dan pemaksa. Tapi Olive menyukai caranya. Menyukai caranya untuk meminta secara tak langsung supaya Olive selalu mendampinginya.

            “Tapi aku tak ada persiapan.”

            “Sudah aku siapkan di apartemenmu. Kau tinggal memakai gaun dan sepatu yang aku kirim, berdandan, dan supirku akan menjemputmu nanti. Kau tinggal mengikuti instruksiku.” Olive menghela nafas. Dia tak pernah bisa menolak Cho Kyuh Hyun.

 

            Olive meremas tangannya dengan gugup. Ia sudah berada di mobil dan hampir sampai di kediaman Tomy, menghadiri pesta yang bahkan Olive tak tahu untuk memperingati apa.

            “Silahkan nona, tuan Antony menunggu anda.” Supir yang tadi mengantar Olive tiba-tiba sudah di sampingnya membukakan pintu dan mengulurkan tangan untuk membantu Olive keluar. Ia bisa melihat Tomy sudah ada di depan pintu rumahnya dengan setelan jas berwarna hitam  yang mungkin sangat mahal, dan di padu dengan dasi merah maron seprti gaunnya. Oh bahkan mereka seperti seorang pasangan sungguhan.

            Olive bertambah gugup ketika Tomy menghampirinya dan mengulurkan tangan untuk mengajak Olive masuk. Olive bahkan merasa, Tomy tak cocok menjadi pengusaha. Ia harusnya menjadi artis saja. Dia sangat bersinar seperti bintang.

                                                                        ***

            Hay, do you feel?

            Do you feel me?

            Do you feel what I feel too?

            Do you need, do you need me?

            Do you need me?

 

            Dan Olive benar-benar menyukai Tomy. Caranya untuk membuat Olive ada di sampingnya, pesonanya yang seperti bintang—tapi bukan karena itu Olive mencintainya.

            Olive lagi-lagi tersenyum. “Tomy” gumamnya. Kemudian ia tertawa renyah. Bahkan sekarang Olive merasa bodoh dengan membayangkan Tomy.

            Ia merasa dirinya seperti gadis belasan tahun yang tersenyum sedari tadi hanya karena mengingat sang kekasih. Secangkir lemon tea hangat sudah ada di tangannya, dan meminumnya sedikit demi sedikit. Dan mulai hanyut lagi oleh suara Avril dan lirik lagunya. Ia kembali mengingat kembali ketika ia untuk pertama kalinya menyadari, perasaannya pada Tomy tak hanya sebatas suka. Tapi Cinta.

                                                                        ***

            Olive di ajak berkeliling oleh Tomy, menyapa para tamu undangan. Olive sempat merona ketika  Tomy tak pernah melepaskan tangan kirinya dari pinggang Olive, membuat Olive harus selalu dekat dengan Tomy. Sekaligus membuatnya harus mendapat tatapan sinis dari beberapa gadis lajang di sini.

            “Oh Tomy. Si cemerlang dari perusahaaan game terkenal se-negri ini.” Pria paruh baya itu memeluk Tomy dengan perasaan bangga. Tomy membalas pelukannya tak kalah erat.

            “Kau berlebihan ayah.” Mr. Antony tertawa renyah dan melepaskan pelukannya. Putranya ini benar-benar sudah dapat berdiri sendiri. Tiba-tiba rasa haru itu menyeruak dari dalam dadanya.

            “Dan siapa gadis cantik yang selalu kau gandneg itu? Tak inginkah kau kenalkan pada kami?” wanita yang sedari tadi diam berdiri di belakang Mrs. Antony angkat bicara. Siapa lagi kalau bukan Mrs. Antony.

            “Ah, dia dokter yang sempat aku ceritakan padamu ibu. Dia menjadi pasanganku untuk malam ini.” Tomy tersenyum lembut dan kembali merangkul pinggang Olive, membuat kegugupannya bertambah sepuluh kali lipat.

            “Saya Olive Smith, senang bertemu dengan anda.” Olive membungkukkan tubuhnya dalam, membuat kedua orang tua Tomy tersenyum.

            “Kau pasti wanita spesial. Bahkan Tomy tak pernah mau mengajak seorang gadispun di acara seperti ini. Dan kau yang pertama.” Mrs. Antony tersenyum lembut sambil menatap Mr. Antony untuk meminta pendapat.

            “Kau benar istriku. Ku pikir Tomy kita mulai dewasa dan memikirkan tentang pendamping hidup.” Mr. Antony tertawa. Olive menatap Tomy supaya pria itu menyanggah ucapan kedua orang tuanya.

            “Tak apa bila aku menikah dalam waktu dekat ayah?”

            “Oh tentu saja.  Apa gadis ini yang akan kau peristri?”

            “Bagaimana menurut ibu dan ayah. Apa dia sudah masuk dalam kriteria menantu idaman?”

            “Tentu saja. aku bahkan dapat tahu bagaimana kepribadiannya tanpa harus mengenalnya lebih jauh.” Kalimat-kalimat ambigu Tomy dan kedua orang tuanya membuat pipi Olive bersemu merah. Sekalipun Tomy hanya bercanda, Olive benar-benar ingin meleleh sekarang juga.

            “Aku akan membicarakannya pada Olive nanti.” Olive menoleh wajahnya cepat. Apa maksud pria ini.

            Apa dia merasakannya?

            Merasakan apa yang Olive rasakan?

            Apa pria itu membuthkannya?

            Seperti Olive membutuhkannya.

.

                                                                        ***

            You’re so beautiful

            But that’s not why I love you.

            I’m not sure you know.

            That the reason I love you is you

            Being you, just you

            Yeah, the reason I love you

            Is all that we’ve been through

            And that why I love you.

 

            Olive lagi-lagi tersenyum, pertemuaan pertama dengan orang tua Tomy benar-benar tak terduga. Tapi karena itulah. Ia menjadi tahu,tahu bahwa perasaannya pada Tomy tak bertepuk sebelah tangan.

            Handphone Olive berdering, menandakan ada panggilan masuk. Panggilan masuk dari Tomy, menyuruh gadis itu untuk datang ke kantornya dengan alasan rindu. Yang benar saja. Olive memiliki pekerjaan juga tentu saja. Tapi Tomy tak terbantahkan ingat? Maka dengan jantung berdebar ia mengambil tas dan bergegas menemui Tomy dengan I-pod yang kembali terpasang di telinga.

                                                                        ***

            “Apa maksudmu mengatakan itu pada orangtuamu.” Olive dan Tomy sekarang ada di pantry wine di rumah Tomy. Pesta telah usai satu jam yang lalu. Tapi Tomy menahan Olive hingga saat in. Membuat gadis itu menahan kantuk dan kesal pada Tomy.

            “Ada yang salah?” kata Kytu Hyun santai.

            “Tentu tuan. Bercandamu sangat tidak lucu. Kau bercanda pada orang tuamu tentang pasangan dan rencana pernikahan.” Tomy meletakkan gelas wine pada meja. Mereka duduk saling berhadapan. Tomy meraih tangan Olive, mengecup buku jarinya berkali-kali, membuat jantung Olive berdetak lebih cepat.

            “Aku tak pernah bercanda dengan omonganku Olive Delia Smith.” Mata Tomy menggelap. Apa pria ini benar-benar memiliki gangguan kejiwaan? Pikir Olive.

            “Ku pikir kau terlalu banyak mengkonsumsi obatmu tuan.”

            “Aku tidak dalam overdosis obat nona. Kau tahu itu tentu saja.” Yah Olive tahu. Kebersamaan mereka selama ini membuat ia tahu tentang kebiasaan-kebiasaan satu sama lain.

            “Olive Delia Smith, menikahlah dengaku.” Tomy menganggkat tangan Olive dan mengecup buku jarinya lagi berulang kali.

            “Tapi…tapi ini terlalu cepat Tomy. Kau tahu—maksudku kita bahkan tak pernah masuk tahap berkencan. Dan kau..kau melamarku?” Olive berucap ragu. Ini gila, tapi hatinya bahagia.

            “Setiap pertemuan kita ku anggap itu kencan.” Olive memutar bola matanya gugup dan jengah. Tomy yang arogan. Tomy yang tak terbantahkan.

            “Aku mencintaimu.” Ucap Tomy serak, masih mengecupi tangan Olive. Benarkah? Batinnya. Tomy mencintainya. Tomy tidakgilakan? Dan dengan persaaan malu-malu ia mendongak. Menatap kepala Tomy yang menunduk sambil terus mengecupi jemarinya.

            “Aku..aku…aku juga mencintaimu.” Dan bagai di hari pertama musim semi yang menyejukkan setelah musim dingin yang panjang. Tomy menatap Olive tanpa kata-kata dan menarik gadis itu begitu saja ke dalam rengkuhan posesifnya.

            “Apa yang membuat kau mencintaiku.” Lirih Olive masih dalam dekapan Tomy.

            “Entahlah.” Tomy menenggelamkan kepalanya pada lekukan leher Olive. Rambutnya memang di tata sedemikian rupa sehingga leher jenjangnya terlihat dengan jelas.

            “Dan kau, bagaimana kau bisa mencintaiku.” Tomy menggumam pada leher Olive dan memejamkan matanya.

            “Entahlah—kalau kau bertanya kenapa aku menyukai mu mungkin aku dapat menjawabnya.”

            “Apa?”

            “Karena senyummu. Senyummu yang membuatku selalu bahagia. Karismamu. Gayamu. Caramu untuk membuatku ada selalu di sampingmu. Kau yang seperti bintang. Sangat sempurna.” Olive membuka mata dan menjauhkan tubuhnya pada Tomy. “Itu alasanku menyukaimu. Tapi ku pikir kau tak akan percaya dengan alasanku mencintaimu.” Tomy menatap Olive meminta jawaban. “Mungkin karna cintaku pada Tomy dan Tomy adalah dirimu. Kamu dan hanya kamu.” Mereka saling bertatapan dengan dalam. Bahkan Olive tak sadar ia mengatakan hal yang mungkin akan membuatnya malu seumur hidup.

            Tomy mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir Olive lembut. Hanya mengecup. “Dan ku rasa alasan kita sama. Karena cintaku pada Olive Smith dan Olive Smith adalah dirimu. Hanya kamu.”

            Dan malam itu mereka habiskan bersama, dalam balutan malam penuh cinta.

                                                                        ***

            I like the way you misbehave

            When we get wasted

            But that’s not why I love you

 

            Olive mamasuki gedung pencakar langit dengan tulisan Black.Inc di depannya. Dia menatap beberapa karyawan yang berlalu lalang dan saling berbisik tentang hari ini dimana bos mereka marah-marah tak jelas. Dan menyusahkan seluruh karyawan hingga ke office boy.

            Olive mendesah dan tersenyum lucu. Ia tahu Tomy sedang tak enak badan walau hari ini mereka belum bertemu. Tomy memang seperti itu. Dia akan menjadi emosional ketika dia merasa tak enak badan dan kebiasaan ini membuat semua orang di sekitarnya kesusahan.

                                                                        ***

            “Aku berkali-kali mengatakan padamu, jangan memaksakan diri bila kau merasa tak enak badan. Bagaimana aku menjelaskan padamu Tomy. Kebiasaan burukmu tak bisa kau tinggalkan.” Olive harus datang pagi-pagi ke rumah super mewah Tomy ketika ia mendengar erangan kesakitan dari seberang telpon pagi tadi. Dan benar saja, Tomy terkapar di kasurnya.

            Olive memang tak suka dengan pola hidup tak sehat Tomy. Kebiasaan buruknya benar-benar membuat ia khawatir. Makan makanan fast Food. Jarang olah raga, begadang, kafein yang berlebih, dan tak suka makan sayur. Olive mendesah. Memarahinya untuk saat inipun percuma.

            “Au..itu terlalu dingin sayang.” Tomy menyingkirkan kompres yang ada di kepalanya. Ia bahkan masih enggan membuka mata. Olive buru-buru menggantinya dengan yang lebih hangat.

            “Ah..ini terlalu panas.” Olive mendesah, ia mengganti air lagi. Mengganti air hampir lima kali. Hingga Tomy mengatakan ya.

            “Bangun dan makan.” Olive memaksa Tomy bangun. Dengan enggan Tomy membuka mata dan menatap wajah cantik gadisnya.

            “Aku tak mau bubur.”

            “Kau sakit dan perlu makanan seperti ini supaya pencernaanmu tak terganggu.” Olive berusaha sabar.

            “Terlalu panas, dan itu berwarba hijau, aku tak mau. Lagi pula rasanya kurang asin.” Oh ya Tuhan Olive mungkin akan mendorong Tomy  ke dalam kolam renang mewah Tomy kalau saja pria ini tak sedang sakit. Sungguh kelakuannya ketika sakit dua kali lipat lebih menjengkelkan. Olive meniup buburnya supaya dingin. Memaksa Tomy membuka mulutnya.

            “Ini bukan karena buburnya tak enak, tapi lidahmu tak bisa merasa dengan benar.” Dan dengan percekcokan sedikit. Akhirnya mangkok penuh bubur itu habis dengan sayur yang ada di dalamnya.

            “Minum obat dan tidur lagi.”

            “Kau harus tidur di sini menemaniku.”

            “Kau ingin aku tertular?” Tomy menggedikkan bahunya acuh dan menarik Olive seenaknya.

            “Yak !”

            “Jangan berteriak. Aku orang sakit yang berusaha tidur dan istirahat. Karena besok aku ada meeting penting.” Olive pasrah akan pelukan posesif Tomy yang mengunci tubuhnya. Pria ini benar-benar. Tanpa di duga Tomy membuka kaos putih yang melekat pada tubuhnya.

            “Apa yang kau lakukan.” Olive masih dalam posisi tidur, terlihat kaget dengan kelakuan Tomy. Tomy melempar kaos itu sembarangan, menarik selimut untuk mereka berdua dan memeluk Olive lagi.

            “Aku tak dapat tidur bila memakai baju.” Satu poin lagi yang Olive tahu tentang pria ini.

            “Tapi kau sakit dan kau harus berkeringat, bila perlu kau harus memakai jaket tebal.”

            “Aku tahu bagaimana caranya biar aku berkeringat.” Tomy membuka matanya berlahan. Menarik selimut untuk menutupi tubuh merka berdua.

            “Yak Tomy ! Berhenti berfikiran mesum !” kebiasaan buruknya.

                                                                        ***

            And how you keep your cool, when I’m complicated

            But that’s not why I love you

           

            Olive tiba di ruangan Tomy. Dan pria itu memeluknya begitu saja. Di depan karyawan yang baru saja mendapat omelannya. Membuat pipi Olive memerah. Mengingat karyawan yang ada di ruangannya ini tak hanya satu dua orang tapi—sepuluh mungkin. Olive merasakan badannya memanas. Buka-bukan karena malu atau gairah. Itu karna Tomy. Benar dugaannya, prianya demam.

            Olive sudah tak menggunakan I-podnya, tapi ketika Tomy memeluknya seperti ini. Ia jadi ingat, ketika dia dulu sedang cemburu. Cemburu yang mungkin bila diingat akan membuatnya tertawa karna malu.

                                                                        ***

            Olive menghentak-hentakkan kakinya sebal. Ia menunggu Tomy di taman dengan suhu hampir liam derajat celcius. Sekarang musim gugur, mungkin beberapa minggu lagi akan musim dingin. Dan Olive menunggu seperti orang idiot. Tiga jam ! bayangkan saja. Dan kini ia berada di gedung pencakar langit Black.Inc. perusahaan yang di bangun sendiri oleh Tomy tanpa campur tangan orang tuanya. Ia benar-benar memulai ini dari nol.

            “Maaf nona, Mr.Tomy sedang ada tamu.” Sekertaris Tomy menahanya begitu saja. Emosi Olive yang meluap, membuat ia tak tahan untuk tak berteriak.

            “Aku hanya ingin bertemu kekasihku. Idiot itu membuatku menunggu selama tiga jam.” Olive menerjang sekertaris Tomy dan siap membuka pintu. Tapi ia mendengar wanita tertawa dari dalam ruangan Tomy. Membuat ia mengurungkan niatnya. Tomy juga terdengar bahagia. Oh sial hatinya seperti di cubit, sakit sekali. Ia menunggu Tomy tiga jam dan pria itu asik tertawa dengan gadis lain di dalam ruangan yang nyaman?

            “Jangan katakan pada Tomy, aku kemari.” Setelah mengatakan itu Olive berlalu begitu saja. Tak terasa setetes air mata turun ketika pintu lift tertutup untuknya.

           

            “Sayang, kenapa kau sulit sekali di hubungi.” Entah ini pesan telepon yang ke berapa dari Tomy. Semenjak kemarin sore hingga pagi ini. Ia tak mengangkat telpon dari Tomy. Ia sibuk menangis. Kecewa dan marah. Entah pada Tomy atau dirinya. Diapun tak mengerti.

            “Olive, sayang..aku khawatir padamu. Di apartemenmu juga terlihat sepi, kau tak di rumah? Kenapa kau mengganti sandinya.” Yah Olive berada di apartemennya, hanya saja kunci sandi pada pintunya ia ganti. Tak ingin Tomy mengganggunya saat ini, ia butuh ketenangan.

            “Akan ku cari kau kemanapun !” Suara Tomy terdengar tenang. Olive ingin menangis lagi.

            “Akhirnya aku menemukanmu.” Entah bagaimana caranya, Tomy sekarang ada di belakangnya, di dalam kamarnya. Olive pikir itu hanya halusinasinya. Tapi ia sadar ketika Tomy semakin mendekat dan tiba-tiba mememluknya.

            “Kenapa menangis sayang?” Olive benar-benar ingin mengumpat pada pria sialan ini ! Ini semua karna kau bodoh ! Batinnya.

            “Maafkan aku aku tak dapat datang ke taman.” Tomy masih mengusap rambut Olive dengan sayang. Dan Olive masih menangis di pundak Tomy. Posisi mereka sekarang duduk di kasur Olive. Dan wanita ini terlihat sangat berantakan.

            “Aku menunggumu selam tiga jam.” Olive masih terisak.

            “Dan kau malah menenmui gadis lain di belakangku. Di kantormu. Kau tak tahu betapa aku kedinginan di sana. Setidaknya hubungi aku kalau kau ingin membatalkan janji. Kau menyakitiku Tomy.”

            “Oh sayang Olive.” Tomy melepaskan pelukannya. Dia menatap wajah Olive yang terlihat acak-acakan. Mata panda yang bengkak. Rambut yang tak di sisir. Tomy masih menatapnya dengan tenang. Entahlah, pria ini tak memiliki ekspresi lain atau memang ia berusaha tenang di depan Olive.

            “Dia kakakku dari Amerika, apa aku harus pergi ketika kakakku tiba-tiba datang dan meminta untuk ditemani. Maafkan aku sayang. Dan kenapa aku tidak menghubungimu. Handphoneku tertinggal di rumah. Makannya sedari pagi aku tak menghubungimu. Oh sayang, ini salahku. Tolong berhenti menangis.” Tomy mengusap air mata Olive dengan lembut. Seperti sihir Olive percaya saja ucapan Tomy. Dia memangguk dan memeluk Tomy erat. Sangat erat.

                                                                        ***

            Even though we didn’t make it through

            I’m always here for you.

 

            “Karyawanmu bahkan sudah keluar. Kau masih ingin memelukku seperti ini?” Tomy tersenyum, ia memejamkan matanya dan tambah mengertakan pelukannya pada Olive. Posisi sekarang, mereka duduk di sofa dengan saling berpelukan. Atau mungkin Tomy yang memeluk Olive.

            “Sudah sarapan?” Tomy menggeleng. Ia benar-benar enggan menjawab perkataan Olive, yang ia butuhkan hanya memejamkan mata dalam pelukan nyaman Olive. Kepalanya terasa sakit sekali. Tapi satu jam lagi dia harus bertemu investor dari Amerika, dan ini tentu sangat penting.

            “Makan sayang.” Olive membelai rambut Tomy dengan sayang, benar-benar membuatnya mengantuk. KyuHyun menggeleng.

            “Aku hanya butuh tidur dalam pelukanmu.” Tomy menghirup aroma tubuh Olive dari lekukan lehernya. Bau lavender. Gadis ini, kenapa suka harum bunga ini. Tapi karna harum inilah, Tomy menjadi sangat menempel pada Olive. Baunya menenangkan.

            Hening untuk beberapa saat hingga Olive memulai percakapan.

            “Kau sering sakit akhir-akhir ini, membuatku khawatir.”

            “Dan kau tahu, yang aku butuhkan hanya kau. Ku rasa aku harus cepat-cepat menikahimu.” Tomy melepaskan pelukannya pada Olive. Ia lalu membaringkan kepalanya pada paha Olive. Ia butuh tidur.

            “You’ll promise me?”

            “What”

            “No mether what happen in the future. Even though we didn’t make it through. You’ll promise me, you  always here for me?” Tomy membuka matanya. Ia terduduk  dan mengecup bibir Olive.

            “I’m Promise, and in the future I’ll make you to be my wife. And you can’t definite go to my live.” Lalu Tomy mencium Olive dengan rasa sayang.

            Olive tersenyum di sela ciumannya bersama Tomy, cintanya yang indah. Dia hanya berharap. Di hari-hari berikutnya yang akan di lalui bersama Tomy akan di beri kemudahan dan keindahan seperti sebelumnya. I love you Tomy.

                                                                        ***

You’re so beautiful

            But that’s not why I love you.

            I’m not sure you know.

            That the reason I love you is you

            Being you, just you

            Yeah, the reason I love you

            Is all that we’ve been through

            And that why I love you.

 

 

                                                                        END



   0 komentar     |        71 views

Untuk melaporkan cerita ini kamu harus masuk dulu.

Tinggalkan komentar

Anda harus masuk untuk meninggalkan komentar


komentar :

  
Powered by Gramedia Pustaka Utama