Ingat saya
Cover



penulis : Penulis Trotoar
dibuat : Saturday, 16 December 2017 8:44 pm
diubah : 8 bulan yang lalu
vote cerita :
0 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 5 (0 votes, rata-rata: 0.00 dari 5)
Anda harus masuk untuk memberikan rating cerita ini.
Loading ... Loading ...
  Tag


  Kategori

FrankFurt

SILIH RAGA: AKU BUKAN SATAN!

SINOPSIS

Watu kutho

Alkisah bumantara,

Resi: dunya telah berlalu,

Beribu purnama, angan membentuk swara yang tak terindera,

Bersisa jejak yang tak berupa,

Bersisa aksara yang tumurun menjadi tanya (?)

 

Potongan puisiku yang aku tulis semalam di beranda rumah. Bebarengan dengan swara-swara itu, yang aku namai bisikan. Aku benar-benar merasa kupingku sudah gila, mendengar yang tak bersuara. Aku tidak punya kawan untuk bercerita tentang apapun, aku hanya punya pena dan lembaran kertas untuk menulis. Tapi jangan memikirkan bahwa aku ini adalah penulis yang terkenal, aku hanya penulis trotoar yang selalu ditolak penerbit. Maka, aku tetap menulis!

Aku berbicara begini, tiba-tiba wewangian itu datang lagi. Aku mencoba tidak menghiraukan itu, tapi serasa pundak dan tengkukku dihantam sekeras-kerasnya. Siapa dia? Aku memang perempuan jawa dan lahir di dunia mantra, tapi aku tidak benar-benar mempercayai itu, jika indera yang kusebut mata tidak benar-benar merasa. Semakin aku memungkirinya bukan hanya wewangian itu yang datang tapi swara-swara itu seperti nyata ada didekat kupingku. Aku berusaha tidak menghiraukannya, aku tidak peduli aku tetap meneruskan menulis puisiku yang berjudul “Purbawasesa Mangkurat Ing Tengger”. Baru kali ini aku menulis puisi dengan suasana yang menakutkan, apa dia mencoba meyakinkan sebuah eksistensi akan dirinya…

Swara itu menuntun tanganku untuk menulis…

Belum lupa pada ingatan, gemuruh swara yang berbayang angan, siapa?

Balada diantarkan sang bayu, di mana aku tumbuh untuk kelana.

Memahami masalalu; kembali berkawan; bercengkrama;

menjelang hujan memayungi semesta.

Kereta kencana melaju, menabuh waktu;

kala itu segala penjuru waktu mengguguh napas yang penuh.

Patih-patih berkain putih turut ucap jumpa kepada dimensi yang berbeda,

Meninggalkan bekas silih raga yang tak jua kembali sempurna,

menyentuh tubuh-tubuh yang tertali selendang suci.



   0 komentar     |        174 views

Untuk melaporkan cerita ini kamu harus masuk dulu.

Tinggalkan komentar

Anda harus masuk untuk meninggalkan komentar


komentar :

  
Powered by Gramedia Pustaka Utama