Ingat saya
Cover



dibuat : Tuesday, 26 September 2017 1:17 pm
diubah : 1 bulan yang lalu
vote cerita :
0 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 5 (0 votes, rata-rata: 0.00 dari 5)
Anda harus masuk untuk memberikan rating cerita ini.
Loading ... Loading ...
  Tag


  Kategori

FrankFurt

Semesta Mengeluh

SINOPSIS

MENTARI MERINDU

Tidak percuma aku bangun lebih awal pagi ini. berlari kecil menanjak jalanan terjal  hingga akhirnya tiba diatas puncak bukit.  Keringatku mengucur deras lebih banyak dari air teh hangat  yang kuminum saat sarapan tadi. Aku berdiri diatas Dua batu besar yang terpancang di puncak bukit. Dari kejauhan kulihat Sang mentari  sedang dirayu sang rembulan. Keduanya berdampingan di cakrawala yang menjadi saksi cinta mereka hari ini. Rembulan memendam cintanya begitu lama, setiap kali bertemu  biasanya mereka hanya bertatapan tanpa sempat tegur sapa.  Hari ini rembulan bertekad akan menyatakan cintanya kepada sang mentari. Diatas kulihat  Awan kelabu meredupkan cahaya sang mentari membuat rembulan terlihat gagah sekali.  Mentari tersipu malu, mukanya memerah melihat sang rembulan  perlahan mendekat

Tiba-tiba sesuatu menarik mereka untuk saling menjauh. Perlahan sang rembulan terjatuh hilang di cakrawala sedangkan  Sang mentari meninggi dan kembali melaksanakan tugasnya setiap hari. Dibawah sana seperangkat alat jamuan makan telah disiapkan oleh pucuk-pucuk daun hijau yang tengah menanti  sedekah sang mentari. Kesibukannya melayani kehidupan ini membuat ia harus berkorban melupakan cintanya kepada sang rembulan.      

 

GUNUNG MERINTIH

Sudah satu bulan ini rasa mual itu belum juga hilang. Tetapi tak kunjung bisa kumuntahkan isi perutku. Manusia-manusia itu memberiku status siaga satu. Semua pergi meninggalkanku. Mereka lupa akulah yang memberi makan selama ini. saat aku sehat semua menggantungkan hidupnya kepadaku. Sekarang tak satupun sudi mendekat. Aku jadi monster mengerikan karena sakit ini. sedikit terbatuk-terbatukpun dianggap bencana besar. Tidak tahukah mereka betapa sakitnya aku sekarang. aku rindu belaian hangat cangkul-cangkul dan sabit yang mengendurkan syaraf-syarafku. Aku rindu gelak tawa anak-anak bermain-main melumuri tubuhnya dengan lumpurku. Bahagia sekali melihatnya, ketulusan tawa anak-anak itu tak ada bandingannya. Saat malam aku hembuskan angin sejuk yang membawa dongeng pengantar tidur ke setiap kamar tidur mereka. Sekarang tidak ada satu nafaspun terdengar bahkan burung-burung pun hilang entah kemana. Aku disini sendiri merindukan mereka semua. Sakit perutku semakin memuncak. Sebentar lagi semua isi perutku akan kumuntahkan…………              

 

BUMI MENANGIS

Sejauh mata memandang yang kulihat hanya tanah tandus berbatu atau lebih layak dikatakan batu bertanah karena batu yang mendominasi hamparan ini. sepuluh tahun lalu masih ada pohon-pohon rindang berbaris riang meliukkan dahannya, menari-nari mengikuti alunan lagu yang ditiupkan sang angin. Monyet-monyet kecil tak mau kalah bergelayutan di dahan mengikuti tarian sang pohon. Di bawahnya seluruh binatang bersenda gurau, ada yang bercerita layaknya komika dengan punch line yang berlapis-lapis hingga tak henti tawa dibuatnya. Semua sedang larut dalam pesta. Hanya rumput bergoyang  yang tidak pernah berhenti belajar agar bisa menjawab semua pertanyaan manusia. Sejak lagu Ebiet G Ade berjudul Berita Kepada Kawan di release, rumput-rumput jadi tidak pernah bisa bersantai lagi karena mereka kebingungan menjawab semua pertanyaan manusia. Sang bumi tersenyum melihat tingkah mereka sembari menuntun waktu agar terus berjalan.

Sekarang keadaan jauh berbeda. Derai Angin datang membawa cerita ketamakan penyebab kehancuran ini. Tubuh sang bumi dicabik-cabik dan diakui menjadi milik mereka. wajah indahnya dirusak, kulitnya yang halus di tampal dengan aspal panas dan beton bertulang sekedar untuk kenyamanan sesaat. Pohon-pohon tumbang karena Semua energi yang diperlukan sang akar untuk menahan tubuhnya telah dicuri oleh manusia. Rumput-rumput tidak lagi hijau, manusia juga sudah enggan bertanya padanya. Manusia sekarang menjadi mahluk yang merasa tahu segalanya. Tetapi sang bumi tidak pernah marah, dia hanya merasa iba dengan manusia. Dia menangis tak kunjung henti hingga lupa menuntun waktu untuk terus berjalan. Saat waktu berhenti berjalan, tibalah akhir dari segalanya……..      



   1 komentar     |        49 views

Untuk melaporkan cerita ini kamu harus masuk dulu.

Tinggalkan komentar

Anda harus masuk untuk meninggalkan komentar


komentar :
arif abdurrohman

temen2 penulis, mohon bimbingan, aku baru belajar menulis, jika berkenan mohon bantuan buat cerita ” semesta mengeluh ” belum ada keluhan sang angin, api, udara, air dan lain-lain. intinya semesta mengeluh karena prilaku manusia .. trms

September 26, 2017, 1:41 pm

  
Powered by Gramedia Pustaka Utama