Ingat saya
Cover



penulis : idahram
dibuat : Saturday, 10 February 2018 6:38 am
diubah : 6 bulan yang lalu
vote cerita :
1 vote, average: 1.00 out of 51 vote, average: 1.00 out of 51 vote, average: 1.00 out of 51 vote, average: 1.00 out of 51 vote, average: 1.00 out of 5 (1 votes, rata-rata: 1.00 dari 5)
Anda harus masuk untuk memberikan rating cerita ini.
Loading ... Loading ...
  Tag


  Kategori

FrankFurt

Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi

SINOPSIS

Normal
0

false
false
false

EN-US
X-NONE
AR-SA

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
mso-bidi-font-size:12.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:”Al-Kharashi 3″;}

Sejak awal tahun 1980-an, terjadi perkembangan dakwah yang agak berbeda di Indonesia. Saat itu mulai berdatangan elemen-elemen pergerakan dakwah Islam dari luar negeri ke Indonesia. Kebetulan, jika merunut sejarah, tahun 70-an merupakan tahun ”Internasionalisasi” bagi jamaah-jamaah dakwah tertentu. Di tahun 80-an itu mulai muncul ke permukaan kelompok-kelompok dakwah, seperti Tarbiyah (Ikhwanul Muslimin), Jamaah Tabligh (JT), Hizbut Tahrir (HT), Jamaah Islamiyyah (JI), kelompok lokal seperti NII, Pesantren Hidyatullah, dll.

Nama Salafi secara khusus mulai populer di Indonesia pada tahun 1995 bersamaan dengan terbitnya majalah Salafi yang dibidani oleh Ja’far Umar Thalib dan kawan-kawan. Dahulunya bernama Wahabi yang sudah ada sejak sekitar 287 tahun lalu di Dir’iyah Saudi Arabia, yang ditandai dengan adanya upacara sumpah penetapan Ibnu Saud sebagai Emir dan Muhammad ibnu Abdul Wahhab sebagai Imam urusan agama pada tahun 1744 M oleh mereka berdua, sebagai tonggak awal perjuangan dakwah Wahabi. Sehingga gerakan ini pun dinamai Wahabi, diambil dari nama pendirinya. Terkait adanya baiat dan sumpah setia antara Muhammad Ibnu Abdul Wahhab (selaku pimpinan keagamaan Wahabi di Saudi Arabia) dengan Ibnu Saud (selaku pimpinan negara Kerajaan Saudi Arabia) bukan isapan jempol belaka. Fakta sejarah ini telah dituliskan oleh murid pendiri Wahabi, Ibnu Bisyr dalam  kitab sejarah perjuangan Wahabi Unwan al-Majd yang telah diakui keshahihannya oleh Kerajaan Saudi Arabia.[1]

Namun kemudian, karena pertimbangan strategi dakwah, Wahabi berganti nama menjadi Salafi. Salah satunya adalah dikarenakan sejarah kemunculannya banyak dipenuhi dengan pertumpahan darah kaum muslimin, terkhusus pasca kemenangan keluarga Saud –yang membonceng seorang agamawan garis keras bernama Muhammad ibnu Abdul Wahhab an-Najdi– atas semua kabilah di Jazirah Arab dengan dukungan kolonialisme Inggris. Sehingga keluarga Saud mampu berkuasa dan menamakan negaranya dengan nama keluarga tersebut yaitu Āl Sa’ud (keluarga Saudi). Inggris pun akhirnya dapat semakin menghilangkan dahaga negaranya dengan menyedot sebagian kekayaan negara itu, terkhusus minyak bumi. Sedang pemikiran Muhammad ibnu Abdul Wahhab, resmi menjadi akidah negara tersebut. Selain menindak tegas setiap penentang paham Wahabi di Jazirah Arab, keluarga Saudi bersama Muhammad ibnu Abdul Wahhab juga terus melancarkan aksi ekspansinya ke segenap wilayah-wilayah lain diluar wilayah Saudi. Untuk lebih jelasnya, dapat ditelaah lebih lanjut kitab tebal karya penulis Arab al-Ustadz Nashir as-Sa’id yang mengupas tentang sejarah kerajaan Saudi Arabia berjudul “Tārīkh Āli Sa’ūd”. Karya ini berulang kali dicetak. Disitu juga dijelaskan secara detail sejarah kemunculan keluarga Saud di Jazirah Arab hingga zaman kekuasaan raja Fahd. Dalam karya tersebut, as-Said menjelaskan bahwa, keluarga Saud (pendiri kerajaan Saudi Arabia) masih keturunan Yahudi.[2]  

Secara garis besar, komunitas Salafi Wahabi terpecah dalam tiga kelompok besar yang satu sama lain saling ‘bermusuhan’:

1.       Kelompok pertama adalah Salafi Saudi yaitu, dakwah salafiyah non politik, sebagai konsekuensi dari ketundukan ulama mereka kepada sistem kerajaan di mana mereka tinggal, yaitu Kerajaan Saudi Arabia. Salafi jenis ini dikenal anti kritik kepada pemerintah setempat, berafiliasi kepada para syaikh Salafi yang berasal dari Saudi Arabia dan Yaman, seperti: Syaikh Bin Baz, Ibnu Utsaimin, Ibnu Fauzan, Muhammad Nashiruddin al-Albani asal Albania, Syaikh Rabi al-Madkhali, Syekh Muqbil al-Wadi’i dari Yaman, dan ulama-ulama dari keturunan pendiri Wahabi yang dikenal dengan sebutan Alu Syaikh (keluarga Syaikh Ibnu Abdul Wahhab, pendiri Wahabi). Kelompok ini banyak berperan dalam pembentukan karakter gerakan Salafi non politik di Indonesia. Syaikh Rabi’ dan Syaikh Muqbil sangat tegas mengharamkan pergerakan, organisasi dan partai. Ide-ide yang berkembang di kalangan ini tidak jauh berputar dari arahan, ajaran dan fatwa kedua tokoh tersebut. Kedua tokoh inilah yang kemudian memberikan pengaruh besar terhadap munculnya gerakan Salafi ekstrem atau yang dikenal dengan gerakan Salafi Yamani.[3]

2.       Kelompok kedua adalah Salafi Haraki/Salafi Hizbi, yaitu dakwah Salafiyah yang menerapkan sistem pergerakan atau organisasi (haraki). Salafi Haraki tidak anti kritik kepada pemerintah setempat, di antara meraka ada yang dapat bekerjasama dengan pemerintah. Salafi jenis ini berada pada posisi tengah antara Salafi Saudi dengan Salafi Jihadi. Di antara tokohnya adalah: Syaikh Muhammad Surur ibnu Nayef Zainal Abidin, Dr. Safar ibnu Abdurrahman al-Hawali, Syaikh Shalih al-Munajjid, Nasir al-Umar –mereka di Saudi–, Syaikh Salman ibnu Fahd al-Audah, Dr. Safar al-Hawali, Dr. Aid al-Qorni (Yayasan Muntada London), dan Abdurrahman Abdul Khaliq (Yayasan Ihya al-Turats Kuwait). Di kalangan Salafi Saudi, ada istilah yang kerap dipakai untuk menyebut komunitas Salafi Haraki ini, yaitu Sururi atau Sururiyah.[4] Kata Sururiyah sendiri adalah penisbatan kepada Muhammad Surur ibnu Nayef Zainal Abidin, seorang mantan tokoh Ikhwanul Muslimin (IM) asal Syria yang pernah tinggal di Saudi. Tokoh ini dianggap sebagai pelopor paham yang mengadopsi dan menggabungkan ajaran Salafi (baca: ajaran Muhammad ibnu Abdul) dengan Ikhwanul Muslimin. Salafi Haraki dianggap menyimpang oleh Salafi Saudi karena mengelu-elukan para tokoh yang menerapkan pola pergerakan dalam penyebaran dakwahnya, seperti: Sayyid Qutub, Hasan al-Banna, Muhammad Abduh, Jamaluddin al-Afghani, Muhammad Rasyid Ridha dan lain-lainnya.[5] Salafi Haraki akhirnya identik dengan dua organisasi dakwah ini: Yayasan Muntada London dab Yayasan Ihya al-Turats Kuwait, meskipun di luar keduanya masih ada lembaga-lembaga lain yang juga menempuh metode serupa. Ciri khas mereka, yaitu menerima ajaran-ajaran Salafiyah dan menerapkan pola pergerakan dalam dakwahnya. Singkatnya, Salafi Haraki adalah gerakan dakwah Salafiyah yang menerapkan metode pergerakan (harakah). Metode tersebut meskipun tidak sama persis, serupa dengan metode yang ditempuh oleh jamaah-jamaah dakwah Islam, seperti Ikhwanul Muslimin (IM), Hizbut Tahrir (HT), Jamaah Tabligh (JT), Jamaah Islamiyah (JI), Negara Islam Indonesia (NII), dll.

3.       Sedangkan kelompok ketiga adalah Salafi Jihadi, yaitu dakwah Salafiyah yang menerapkan sistem jihad, seperti Dr. Abdullah Azzam (berasal dari Palestina, anggota Ikhwan Muslimun, mentor Osama bin Laden sewaktu di Saudi), Syaikh Osama bin Laden (tokoh legendaris Tanzhim al-Qaida), Dr. Ayman al-Zawahiri (pengganti Osama bin Laden di Afghanistan), Abu Muhammad al-Maqdisi (asal Palestina, mentor Abu Mus’ab al-Zarqawi), Abu Mus’ab al-Zarqawi (Tanzhim al-Qaeda di Irak) dan Abu Bakr al-Baghdadi (Islamic State in Syiria and Irak [ISIS] sempalan dari al-Qaeda), Abubakar Shekau (pemimpin Boko Haram, sebuah kelompok Islam radikal di Nigeria, pada Maret 2015 Boko Haram berbaiat kepada ISIS dan telah meningkatkan serangan teror mereka termasuk membantai lebih dari 150 Muslim yang sedang beribadah di masjid selama bulan Ramadan).[6] Kitab-kitab rujukan yang digunakan oleh Salafi Jihadi bersumber dari kitab-kitab yang sama dengan Wahabi lainnya, yaitu kitab-kitab karya Ibnu Taimiyah dan Ibnu Abdul Wahhab, pendiri Wahabi.

Bisa dibilang, dalam bahasa sederhana, ketiga macam Salafi Wahabi ini merupakan ”satu guru satu ilmu” antara Salafi Wahabi yang satu dengan Salafi Wahabi yang lainnya. Mereka telah digembleng oleh guru dan referensi buku-buku yang sama, namun pada kenyataannya mereka melahirkan artikulasi pemahaman dan praktek ajaran yang jauh berbeda antara satu dengan lainnya. Cukup memprihatinkan, jika  mereka  saling olok-mengolok dan caci-maki di antara mereka sendiri  hanya karena masalah furu’iyah yang tidak prinsipil.

Fakta dan data pembantaian terhadap umat Islam yang tidak sejalan dengan paham Wahabi merujuk kepada kitab-kitab sejarah perjuangan Salafi Wahabi yang telah ditulis oleh ulama-ulama berfaham Salafi Wahabi, seperti:

1.      Tarikh Najd (sejarah Najd) dikenal juga dengan sebutan Tarikh Ibnu Ghannam karya Husain ibnu Ghannam (murid pendiri Wahabi). Kitab ini diterbitkan oleh Dar al-Tsulutsiyah Kerajaan Saudi Arabia. Juga, diberikan kata pengantar oleh beberapa Ulama Wahabi terkemuka, di antaranya: Syaikh Hamad al-Jasir, Dr. Syaikh Abdullah ibnu Shalih al-Utsaimin, dan Dr. Muhammad ibnu Sa’ad al-Syuwai’ir.[1]

2.      Unwan al-Majd fī Tarikh Najd (alamat kemuliaan dalam sejarah Najd) karya Utsman Ibnu Bisyr (pengikut setia Ibnu Saud; hidup sezaman dengan Ibnu Abdul Wahab, pendiri Wahabi). Kitab ini diterbitkan oleh penerbit Rumah Raja Ibnu Abdul Aziz (Dar al-Malik Ibnu Abdul Aziz) Kerajaan Saudi Arabia.[2]

3.      Min Akhbar al-Hijaz wa Najd fī Tarikh al-Jabarti (di antara kabar berita tentang Hijaz dan Najd dalam buku sejarah al-Jabarti) karya Muhammad Adib Ghalib (penulis kontemporer berpaham Wahabi). Buku ini diterbitkan oleh Dar al-Yamamah Riyad-Kerajaan Saudi Arabia.[3]

Dari beberapa kitab milik Wahabi tersebut, didapati keterangan bahwa, dari sejak awal entitasnya, pergerakan dakwah Salafi Wahabi telah melakukan banyak tindak kekerasan, radikalisme, anarkisme, bahkan pembunuhan terhadap umat Islam yang tidak sejalan dengan keyakinan mereka. Aksi-aksi tersebut telah mereka lakukan atas nama Jihad. Bahkan, dalam dua kitab: Unwan al-Majd dan kitab Tarikh Najd tersebut, disebutkan nama-nama korban yang telah dibunuh oleh kelompok Wahabi, yang rata-rata korbannya berinisial nama muslim, seperti nama: Muhammad, Hamada, Abdullah, Abdul Karim, Abdurrahman, Abdul Muhsin, Ibrahim, Musa, Sulaiman, Ali, Hasan, Shalih, dan semisalnya.[4]


[1] Hussein Ibnu Ghannam, Tarikh Ibnu Ghannam, tahqiq Sulaiman ibnu Shalih al-Khurasyi, Dar al-Tsulutsiyah Riyad-Kerajaan Saudi Arabia, cetakan pertama tahun 2010. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan kitab yang sama dengan nama kitab Tārīkh Najd karya Husain Ibnu Ghannam, yang ditahqiq oleh Dr. Nashiruddin al-Asad (Cairo/Lebanon: Dar al-Syuruq, cet. ke-4, tahun 1994).

[2] Utsman ibnu Abdullah ibnu Bisyr, Unwān al-Majd fī Tārīkh Najd, tahqiq Abdurrahman ibnu Abdullatif ibnu Alu Syaikh (Riyad: Dar al-Malik ibnu Abdul Aziz, 1982 M / 1402 H). Kitab ini juga diterbitkan oleh penerbit lain semisal Maktabah Riyad al-Haditsah, Riyad, Saudi Arabia, tanpa tanggal.

[3] Muhammad Adib Ghalib, Min Akhbar al-Hijaz wa Najd fī Tārīkh al-Jabarti (Riyad: Dar al-Yamamah li al-Bahts wa al-Tarjamah, cet. ke-1, 1975).

[4] Utsman ibnu Abdullah Ibnu Bisyr, Unwān al-Majd fī Tārīkh Najd, tahqiq Abdurrahman ibnu Abdullatif ibnu Alu Syaikh (Riyad: Dar al-Malik ibnu Abdul Aziz, 1982 M / 1402 H), 52-118.


[1] Lihat: Ibnu Bisyr, Unwan al-Majd, jilid 1, op. cit., h. 42-43. Hal yang sama juga disampaikan oleh penulis Charles Allen: God’s Terrorists, The Wahhabi Cult and the Hidden Roots of Modern Jihad, Cambridge, MA: Da Capo Press 2006, h. 52.

[2] Lihat: Nashir as-Sa’id: Tarikh Al Saud, cet. ke-3, Ittihad Sya’b al-Jazirah al-Arabiyah, Beirut 1979. Sebagian besar isi buku ini mengupas secara tuntas, jelas dan rinci tentang sejarah, asal usul dan keterkaitan keluarga Saud dengan bangsa Yahudi.

[3] al-Thalibi, Abu Abdirrahman. Dakwah Salafiyah Dakwah Bijak (op. cit.). Hal 13.

[4] Membongkar Pikiran Hasan al-Banna-Sururiyah (III). Di akses dari laman: www.salafi.or.id/print.php?id_artikel=338

[5] Thalib, Ja’far Umar. Saya Merindukan Ukhuwwah Imaniyah Islamiyah (Majalah SALAFI hal 6, edisi 5 tahun ke5, www.freelists.or/archives/Salafi/11-2003/msg00034.html)

[6]www.americanthinker.com/articles/2011/05/bin_ladens_death_a_beginning_n.html



   0 komentar     |        198 views

Untuk melaporkan cerita ini kamu harus masuk dulu.

Tinggalkan komentar

Anda harus masuk untuk meninggalkan komentar


komentar :

  
Powered by Gramedia Pustaka Utama