Ingat saya
Cover



penulis : Tala Auna
dibuat : Tuesday, 12 May 2015 8:24 am
diubah : 3 tahun yang lalu
vote cerita :
10 votes, average: 4.40 out of 510 votes, average: 4.40 out of 510 votes, average: 4.40 out of 510 votes, average: 4.40 out of 510 votes, average: 4.40 out of 5 (10 votes, rata-rata: 4.40 dari 5)
Anda harus masuk untuk memberikan rating cerita ini.
Loading ... Loading ...
  Tag


  Kategori

FrankFurt

Second Chance

SINOPSIS

“Kamu itu cantik, cerdas, multi talented. Apapun yang kamu kerjakan pasti ada hasilnya. Masalahmu hanya satu. kamu hampir tak pernah menuntaskan itu. Sayang lho.”

“Iya pak. Terima kasih.”

“Punya modal lengkap untuk sukses apalagi populer. Dan kamu punya ciri khas seperti Ayu Utami atau Milan Kundera. begitu mereka lempar karya ke publik, orang akan tahu itu mereka. Kamu pun, begitu.”

Tala menunduk. Memain-mainkan androidnya.

“Ayo. Mulai dari nol lagi. Pasti kamu akan seperti dulu saat pertama kali kamu buat novel itu.” senyum Pak Doru menyungging.

“Iya, pak. Sedang saya usahakan. Terima kasih dukungannya. Support senior seperti bapak amat sangat saya perlukan.”

“Semua teman mendukung kamu, La. Kamu harus yakin itu. Jika kami yakin dengan kualitasmu. Kemampuanmu. Masak kamu yang punya diri, nggak, sih?”

Tala menghela nafas.

“Di sini kamu pioner. Daerah ini nyaris tak ada gaungnya di tingkat nasional. Walau kini banyak bermunculan penulis tapi belum ada yang sekelas kamu.”

Beberapa menit lagu kami selesai mengadakan rapat di aula kantor salah satu instansi milik pemerintah daerah. Rapat antar sastrawan ini melelahkan. Usai mendengarkan penjelasan Pak Dory tentang acara dialog sastra kelima yang akan diadakan di Kaltim, di mana saya jadi salah satu panitianya, saya dipanggil ke ruangan sastrawan senior Indonesia itu. Dia prihatin dengan stagnasi kerja saya. Dia heran mengapa setelah kembali ke Samarinda saya jadi frigid menulis. Nggak seproduktif saat memulai karir di Surabaya. Nggak sekreatif saat saya sesekali di Jakarta bertemu teman-teman editor dan pihak penerbit novel pertama saya yang laku lima ribu eksemplar itu. Butuh sepuluh tahun untuk bilang saya kembali ke habitat ini usai sesekali ikutan aktif menulis di berbagai antologi cerpen.

“Penulis atau spesifikasinya pengarang itu, harus rajin menulis tak hanya menambah amunis dengan membaca banyak buku saja. Kamu harus rajin melatih kemampuan menulismu yang unik itu. Jika kamu stag lagi kamu harus ingat satu, kamu punya tanggung jawab pada pekerjaanmu. Kamu harus respek pada semua pembaca yang sudah beli novelmu.” nasehat Pak Dory, lagi.

Tiba-tiba terdengar ketukan di pintu.

“Masuk!” teriak Pak Dory.

Pintu di buka. Amita, teman sesama penulis masuk. Nyengir.

“Duduk, Mit!” Pak Dory menunjuk kursi di sebelah Tala.

Amita duduk. mengangguk hormat.

“Ada apa?”

“Ini, pak, mau sekedar dukung Mbak Tala. Saya tahu dia dipanggil ke sini karena bapak ingin dia lebih fokus nulis. Saya ada solusi.” sampai Amita.

Wajah Pak Dory berubah cerah. “Oh ya?”

Amita mengangguk. Menoleh ke arah Tala, tersenyum menang.

“Dia bisa berlatih menulis lagi di satu ajang pencaharian penulis di satu penerbitan besar. Saya juga member di situ walau sampai sekarang saya belum menulis karya apapun di situ. Saya percaya berada di habitat yang sesuai Mbak Tala pasti produktif lagi. Tapi dia menolak, pak!”

Mata Pak Dory membelalak. Kaget.

“Saya…..Saya bingung pak, mau mulai dari mana.”

Pak Dory terbahak. Wajah tuanya kian menua berlipat. Tala tersipu malu.

“Kamu ini, La. Kayak remaja saja. Kamu sudha dewasa. Masak tidak tahu mulai dari mana? Kamu nulis saja di situ. Siapa tahu karyamu terpilih.”

“Tuh, apa kata saya, kan!” Amita menjentik jari dengan pandangan penuh kemenangan.

Tala tak berkutik.

Sebulan kemudian.

Di sinilah ia kini menulis di antara ribuan orang yang punya tujuan nyaris seragam. berharap karyanya dipilih editor untuk diterbitkan. Berharap terpilih ikut latihan menulis agar mood dan fokusnya terkendali. Agar intensitas menulisnya kian bernas. Walau ia masih kesulitan untuk menuntaskan judul perjudul tapi dia bahagia amunisi yang sempat hilang satu dasawarsa kembali bergejolak. Seperti dejavu. Menulis itu memang jiwa yang indah. menulis itu adalah soulmate yang tak terpisahkan. Jika tuhan sudah memberi kita kesempatan kita harus gunakan. Perduli setan jika banyak yang tak senang. Ini berkah. Ini kesempatan kedua yang wajib diperjuangkan.

Jika ingat masa lalu. Ingat bagaimana rasanya ditolak penerbit di mana-mana. naskah dikembalikan media di mana-mana. Kemudian satu titik terang muncul. Tiba-tiba kamu iseng merubah gaya menulismu. Naskahmu dilirik penerbit dan majalah ternama. Dan semua tiba-tiba berada dalam genggaman. Kemudian kamu kaget. Seperti mengalami shock therapy. Kamu jaid kehilangan semangat menulis. Kamu jadi galau. Kamu jadi berpikir hal-hal idiot. Dan kamu mati suri sekian lama sampai orang-orang di sekitarmu menegur dna kamu terbangun dari tidur.

Kemudian Tala mendapatkan acuan dari buku Agus Noor yang berjudul Cerita Buat Para Kekasih. Ia merasa hidup. Terinspirasi. Seperti Agus Noor, Seno Gumira Ajidarma, Raditya Dika, Ika Natassha mereka identik dengan karya mereka walau beda genre. Ia pun begitu pula seperti kata Pak Dory dan Amita, sahabatnya sesama penulis. Ia punya ciri khas yang sayang jika tidak diteruskan. Sayang jika hanya terhenti pada satu judul saja. Kali ini, ia akan ambil kesempatan kedua dari tuhan. Really.

There are dark shadows on teh earth, but its light are strongers in the contrast. (Charles Dickens)



   6 komentar     |        872 views

Untuk melaporkan cerita ini kamu harus masuk dulu.

Tinggalkan komentar

Anda harus masuk untuk meninggalkan komentar


komentar :
Ria Indria Ria Indria

Hay Kak Tala Auna… Saya tertarik sekali dengan kaka… Kaka posting ceritanya banyak banget dan bikin saya penasaran. Akhirnya saya baca hampir semua cerita-cerita yang kaka posting. Tapi saya kaget. Saya bingung dengan cerita-cerita kaka. Klo boleh tau, ini model tulisan yang kayak gimana ya kak? Soalnya saya masih baru banget di dunia menulis. Kaka posting tulisan yang singkat banget. Ini jenis FF kah? Ato gimana? Atau lebih kearah curhatan hidup? Bagi2 ya kak ilmunya…
Salam kenal kaka Tala… :)

May 16, 2015, 8:32 am
    Tala Auna Tala Auna

    Hiii Ria. salam kenal. FF itu Fan Fiction ya? Ini bukan itu. Dari cara saya memposting banyak cerita kamu bisa menilai betapa nggak konsisten dan complicatednya saya. Ini gaya tulisan suka-suka jadi nggak jelas juga arahnya ke mana? sastra kan luas ya mungkin ini semua sub bagian dari sastra yang di jus. Hihihi.

    May 18, 2015, 5:06 am
    Ria Indria Ria Indria

    Bukan fanfiction kak maksudnya.Tapi flash fiction. hehe…
    aku juga masih bingung tulisan kaka ini jenisnya apa. Semangaatt menulis mba :)

    May 30, 2015, 6:12 pm
Alantika Putri Alantika Putri

Ini menyentuh sekali, mba Tala.
Adakalanya orang yang jenius kalah dengan orang yang rajin. Itu benar.

Selamat datang kembali di dunia kepenulisan. :)

Terus menulis ya mba Tala. Dan, sekali lagi… salam kenal. :)

May 14, 2015, 4:46 pm
    Tala Auna Tala Auna

    tengkyu ya. semoga kamu kian sukses nulisnya dan jangan menyerah. syukuri intensitas menulismu jangan seperti saya semua tergantung mood dan fokus. ini realitas kisah nyata saya yang difiksikan.

    May 18, 2015, 5:02 am
    Alantika Putri Alantika Putri

    Sayang sekali ya mba, moody dan inkonsistensi itu memang jurang. Hahaha. Amin. Tengkyu, semoga kamu juga.

    May 18, 2015, 8:28 am

  
Powered by Gramedia Pustaka Utama