Ingat saya
Cover



penulis : Budhsan eminore
dibuat : Friday, 25 May 2018 7:15 pm
diubah : 2 bulan yang lalu
vote cerita :
0 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 5 (0 votes, rata-rata: 0.00 dari 5)
Anda harus masuk untuk memberikan rating cerita ini.
Loading ... Loading ...
  Tag


  Kategori

FrankFurt

THIS IS ME (Pintu Masuk Jalan Keluar)

SINOPSIS

MAWAR NOT KE EMPAT

 

 

 

 

 

Sebenarnya bingkisan itu ingin ku titipkan pada Gandi sebagai kado sederhana di hari pernikahan Yodhe yang akan berlangsung pada bulan Januari mendatang, akan tetapi kesulitan beruntun yang mendera panjang di dalamnya menjadi keraguan pahit yang tetap harus kutelan, penumbang hebat hasrat pada keinginan tersebut.

 

 

 

Puncak dari ambisiku yang telah padam mereda saat mendengar rekaman voicenote suara sumbangmu di smartphone milik Andre intel, mengusir keputus-asaan yang menikam batinku malam itu. Aku cukup terhibur pada usahamu sefasih mungkin melantunkan bait demi bait syair laguku yang berjudul “TETAP DI SINI” dengan penghayatan sempurna, menarik perhatianku secara tiba-tiba.

 

 

 

Kau mungkin belum tahu bahwa aku punya masalah serius untuk bagian tersebut, bagian tersulit yang harus berulang kali kuperbaiki saat melakukan take vokal di salah satu studio rekaman yang ada di Kota Idaman, akan tetapi olehmu bagian penghayatan itu terlihat tidak begitu sulit atau berbahaya, terkesan mudah dan biasa saja. Karena itu lah kuputuskan untuk mengirim bingkisan tersebut kepadamu, aku hanya ingin mengetahui tentang seberapa dalam lagi penghayatan yang masih harus kulatih pada lagu baruku itu, tentunya dari kaca-mata pendengaranmu.

 

 

 

Kutulis lagu itu tepat di malam Gandi mengatakan kepadaku tentang acara pernikahan kakak perempuannya (Yodhe), ia sendiri juga sebenarnya tidak sengaja bertemu denganku yang pada saat itu hanya berniat untuk menikmati udara malam di Jantung Kota Idaman, akhirnya kupaksa untuk menghabiskan sepertiga malam yang tersisa, membiarkan setiap lamunanku kembali tersesat lebih lama pada lintasan masa-silam milik Yodhe yang dulu pernah mengisi lembaran masa kecilku.

 

 

 

Keterpurukan instan itu akhirnya berhasil menjadi penggerak bagiku untuk menulis satu lagu baru yang tercipta hanya dalam waktu tiga menit, lebih unggul satu menit beberapa detik dari lagu “TETAP DI SINI” yang dulu pernah kuciptakan pada awal kedatanganmu dalam kehidupan bermusikku. Keberadaanmu saat itu menjadi awal dari hal lainnya, menjadikan sesuatu dapat terlihat cukup mudah hanya dengan memikirkanmu.

 

 

 

R*sefa, sebenarnya kau bukan satu-satunya insan hawa yang telah berhasil menginspirasiku dalam menulis lagu. Sebelumnya aku telah bertemu dengan insan hawa lainnya, kenangan milik mereka berlima seperti mutiara-mutiara ungu yang terdampar abadi dan karam di dasar jiwa-ku, berselimut lautan kelam perasaanku. Sesekali kuberanikan diri untuk berenang dan menyelam ke sana demi dapat menyapa salah satu di antara mereka kemudian kembali ke permukaan dengan sebuah karya.

 

 

 

Aku akan sedikit bercerita padamu tentang siapa saja insan hawa yang lebih dulu tiba sebelum kedatanganmu, mereka hadir secara bergantian untuk membantuku dalam menemukan tulisan-tulisan ini yang kemudian tersulam singkat pada nada-nada sederhana permainan guitarku, masing-masing dari mereka juga merupakan tokoh utama setiap episode panjang yang kujalani saat masih menjadi peserta didik di salah satu sekolah kejuruan ternama milik pemerintah Kota Idaman.

 

 

 

Akan kumulai dengan nama Yodhe, insan hawa pembuka dalam alenia ini. Dia adalah jawaban atas kedatanganku di sekolah itu, masa silamku bersamanya menyibukanku dengan pemenuhan materi di album perdana yang berjudul IDENTITAS HITAM“. Album ini bercerita tentang kehidupan jalanan yang dulu pernah kunikmati sebelum tiba di sekolah itu, lembaran kelam yang masih ingin kupertahankan.

 

 

 

Insan hawa selanjutnya bernama Malla, inspirasi dalam pemenuhan materi di albumku yang berjudul “PUISI BIDADARI“. Materi pada album ini akan menceritakan kepadamu tentang perasaan yang berhasil kupendam secara diam-diam atas kehadiran sosoknya di dua semester tingkat perdanaku saat menjalani masa karantina, perasaan yang masih terbendung bungkam sampai saat ini.

 

 

 

Lalu, keberadaan insan hawa bernama Wiema yang berada tidak jauh dari Malla, menjadi tempat pengalihan sementara perasaan kemarin, kenyataannya insan hawa itu juga turut berpartisipasi dalam pemenuhan materi pada album yang kutulis di semester ketiga dengan judul “BIAS BINTANG“. Album yang akan memperlihatkan padamu tentang lika-liku kisah singkat perjalanan cinta di antara aku dan gadis berkulit putih mulus merona yang tidak pernah lepas  dengan kacamata tebalnya.

 

 

 

Saat hubungan kemarin berada di titik kebuntuan, hadirnya sosok mendiang Ameiy berhasil menjadi inspirasiku dalam pemenuhan materi di album “TIADA YANG SEPERTIMU” yang kutulis di penghujung semester ke empat. Album ini kemungkinan besar akan sanggup memberi kesaksian bisu kepadamu akan rasa kehilangan mendalamku ketika di paksa harus berhadapan dengan kenyataan pahit, berita duka kepergian kakak angkatku itu secara tiba-tiba dari dunia ini.

 

 

 

Sepeninggal dari sana, nama Decka turut terseret dalam cerita ini. Cewek jutek itu menjadi teman keseharianku saat tersesat di pintu masuk semester kelima, konflik argumen yang kerab meledak secara tiba-tiba di antara kami ternyata malah menjadi peluang gersang bagiku untuk menulis materi baru di album selanjutnya yang ku beri judul “LANGKAH SENJA“.

 

 

 

Saat aku telah berhasil lolos ke putaran final, semester keenam sekaligus semester akhir yang ku awali dengan semangat empat lima untuk menunggu-nunggu kehadiran insan hawa selanjutnya. Rasa penasaran akan cerita apa yang akan di sajikan olehnya, menjadi hantu paling kunantikan pada saat itu. Ketika telah merasa puas dalam penantian panjang yang tidak pernah berujung, akhirnya ku beranikan diri untuk melakukan pencarian. Aku terlihat sibuk mendekati hampir seluruh insan hawa yang juga menjadi peserta didik di sekolah itu, menjadi orang lain untuk sementara waktu. Namun pembunuhan karakterku pada saat itu tidak cukup gemilang karena tidak satu pun dari mereka yang bersedia memerankan tokoh utama sebagai insan hawa pada ceritaku untuk menuntaskan episode terakhir di sekolah itu, semester keenam yang begitu kelam untuk di kenang.

 

 

 

Kulewati semester itu tanpa berkarya, tanpa kehadiran sebuah album penutup yang harusnya berhasil kumiliki sebelum pergi meninggalkan sekolah itu untuk waktu yang lama. Perasaan kalut akan kenyataan tersebut ternyata malah memperlihatkan padaku akan kabut tebal ambisi berlebih yang pada saat itu tenggah menyelimuti jalan pikiranku, mengajariku untuk sejenak melihat ke belakang agar dapat menyaksikan kembali kenangan milik ke lima insan hawa itu, membuatku harus menyadari pengaruh besar yang telah di titipkan oleh masing-masing dari mereka dulu di perjalananku sebelum tiba di semester akhir, keistimewaan karakter yang terpungkiri.

 

 

 

Keadaan tersebut akhirnya membuatku terlihat lebih akrab pergi ke masa-lalu, tempat di mana dapat kusentuh kembali kenangan milik mereka berlima. Perlahan, aku mulai terbiasa melakukan pembenahan materi di masing-masing album. Semakin kucoba untuk merapikannya, semakin kusadari bahwa catatan ringan itu masih sangat berantakan. Aku mulai di kelilingi oleh perasaan bersalah, telah menggunakan hari-hariku yang tersisa di sekolah itu hanya untuk penantian panjang dan pencarian buram, kesalahan ini lah yang ingin kutebus dengan jalan jika kelak aku telah berhasil lolos dari sana sebagai seorang alumni, kupastikan bahwa aku lain dari kemarin.

 

 

 

Sejak saat itu aku mencoba untuk menarik diri, sedapat mungkin lebih tertutup pada insan hawa di sekitarku dan berlaku lebih keras pada diri sendiri agar kenangan milik Yodhe, Malla, Wiema, Ameiy dan Decka tidak terusik oleh mereka. Segenap lamunanku hanya kuperbolehkan terjebak di belantara masa-silam milik kelima insan hawa tersebut, lalu membiarkan malamku terlelap di atas bayangannya yang menjadi arah pada langkahku di keesokan hari. Aku harus bertahan di sana sebelum karya-karya ini berhasil kujadikan nyata bagi dunia fana, tempat di mana hanya ragaku saja yang dapat bertahan bungkam meredam alasan.

 

 

 

Duniaku telah menjadi gelap gulita sepeninggal dari kelima insan hawa itu, tetap berjalan di sana adalah keharusan yang masih ingin terus kupenuhi. Sekalipun telah berkali-kali jatuh dan terpuruk dalam keadaan cukup parah secara berulang, sedikit pun hal tersebut tidak akan pernah mampu meracuni pikiranku agar menghancurkan dunia itu. Melihat fajar di ufuk timur sebagai satu-satunya “haRapan” dari impian yang terabaikan, saat itu lah kau datang bersama hal-hal kecil yang berpijar terang, memberi warna hangat dalam duniaku yang pada saat ini belum sepenuhnya sanggup untuk kuperlihatkan kepadamu R*sefa

 

 

 

Inilah alasan dari kesendirian yang dengan mudahnya tercipta, alasan kepedihan yang dengan sengaja pula kurasakan beserta alasan kenapa pada akhirnya kuputuskan untuk menghapus keseluruhan naskah lagu yang kemarin terinspirasi olehmu dan membiarkan satu di antaranya tak tersentuh. Biarlah aku berlaku lebih keras dari ini terhadap diriku sendiri sebelum aku berhasil menggantung “haRapan” ini di tempat yang telah kupastikan lalu biarkan lah aku menjadi bodoh dengan berpura-pura tidak pernah mengenalmu, insan hawa yang menjadi sepenuhnya materi di album ROSE’FA yang kini juga harus menghilang bersama buku lainnya.

 

 

 

Aku menggunakan nama ROSE’FA karena untukku, kau adalah “Mawar di not ke Empat”. Ini karena pada saat untuk yang pertama kalinya aku mampu menyentuh tatapan milikmu, kutemukan salah satu insan hawa kemarin terjebak di sana, di sepasang bolam matamu. Insan hawa itu adalah “Mawar” yang harus memutih saat aku baru saja tiba di penghujung semester ke “Empat”, kedatanganmu kemarin setidaknya telah berhasil untuk menghidupkan kembali catatan usang miliknya yang kemudian sanggup memberi kekuatan pada keyakinan ini untuk kembali melanjutkan langkah meski telah semakin parah. Sebagai ungkapan rasa terima-kasih dariku untuk hal tersebut, lagu “TETAP DISINI” ku biarkan utuh agar kelak dapat menjadi bukti bahwa albumku ROSE’FA yang kini telah menghilang memang benar-benar pernah ada.

 

 

 

Inilah kekuatan pada lagu “TETAP DISINI” yang kuciptakan pada awal kedatanganmu dalam kehidupanku dulu, lagu yang terinspirasi oleh seorang insan hawa yang ku kenal tidak lebih dari 4 jam di pukul 4 sore dan hanya kuperlukan waktu 4 menit dalam penulisan materi hingga setelah 4 kali melakukan penguasaan vokal dan mengantongi 4 pilihan genre, akhirnya lagu tersebut berhasil ku kemas di sebuah studio rekaman sederhana tepat pukul 4 sore pada keesokan harinya dengan durasi lagu sepenuhnya berada di angka 4 menit 40 detik.

 

 

 

 

 

To be continues…


 

 



   0 komentar     |        64 views

Untuk melaporkan cerita ini kamu harus masuk dulu.

Tinggalkan komentar

Anda harus masuk untuk meninggalkan komentar


komentar :

  
Powered by Gramedia Pustaka Utama