Ingat saya
Cover



penulis : Tala Auna
dibuat : Tuesday, 26 May 2015 7:29 am
diubah : 3 tahun yang lalu
vote cerita :
5 votes, average: 4.20 out of 55 votes, average: 4.20 out of 55 votes, average: 4.20 out of 55 votes, average: 4.20 out of 55 votes, average: 4.20 out of 5 (5 votes, rata-rata: 4.20 dari 5)
Anda harus masuk untuk memberikan rating cerita ini.
Loading ... Loading ...
  Tag


  Kategori

FrankFurt

Restorasi Hidup (CERPEN)

SINOPSIS

“Kamu harus berubah. Kamu punya tanggung jawab pada adik-adikmu.” nasehat nenek.

Kuambil seiris mendoan. tertunduk kugigit mendoan. Duduk berhadapan dengan nenek seperti duduk di hadapan hakim di pengadilan.

Waktuku memang lebih banyak di sekolah. Maklum sebentar lagi UN. Harus ikut pelajaran tambahan. Targetku harus masuk SMA favorit. Dengan akumulasi nilai yang tinggi serta nem yang tinggi akan mewujudkan ambisiku. Terlebih kedua orang tua dan kakak-kakakku sekolah di SMA itu pula. Barometer kecerdasan seseorang diuji oleh kesuksesannya menjadi murid di sekolah yang paling di tuju semua lulusan SMP. Ya, SMA favorit itu. Itu sebabnya aku lebih banyak menghabiskan waktu sendirian. Belajar dan belajar. Aku ingat pesan ibu, aku harus masuk SMA itu. Karena jikaa aku berhasil jadi murid di sekolah itu maka akan mempermudah diriku mendapatkan jalan pintas menuju PTN.

“Setidaknya kamu punya waktu bermain ata belajar bersama Teta dan Obin.”

“Nanti, nek. Sehabis UN, aku pasti akan kembali seperti dulu. Sementara ini aku harus konsentrasi pada UN dulu. Ikutan bimbel, pelajaran tambahan, browsing soal di internet. Googling macam-macam soal juga. Aku harus lulus di SMA 1.”

“Masak kamu nggak punya waktu barang setengah jam untuk mereka? Kedua kakakmu sibuk. Jarak usia mereka dengan kalian pun agak jauh. Kamu satu-satunya yang dekat dengan kedua adikmu.”

Setelah itu nenek menasehati agar aku belajar untuk membagi waktu dan nggak apatis hidup di dunia sendiri. Aku punya dua orang adik yang masih SD yang terlalu muda untuk jadi yatim piatu. Yang butuh kasih sayang karena nenek sendiri sudah kehabisan waktu untuk mengurusi semua keperluan kami. Nenek memasak, membersihkan rumah bersama kakak-kakakku, mengurusi semua kebutuhan kami termasuk mengatur uang jajan dan semua kebutuhan.

“Nenek sayang semua cucu nenek. Mau kalian saling berbagai tugas dan kasih sayang. Walau kalian sudah kehilangana orang tua tapi kaliana masih punya satu sama lain. Masih ada nenek.” tangis nenek, pecah.

Aku ikut menangis. Ya. Maafkan aku, nek. Seharusnya aku nggak boleh egois. Aku terlalu egosentris. Aku selalu merasa terasing. Selalu merasa aku harus menuju semua yang aku mau.

Kubuka pintu kamar. Kulihat adik-adikku sedang belajar. Obin dengan kaos singlet dan celana boxer bergambar Sponge Bob terlihat tekun mengerjakan tugas sekolah. Sedangkan Teta sedang menggambar komik. Dia memang bercita-citaa ingin jadi komikus. Teta ingin seperti Masashi Kishimoto atau Aoyama Gosho, penulis komik Detektif Conan yang terkenal itu. Kebetulan aku memang suka menggambar. Terlahir dengan bakat alam bisa menggambar, termasuk menggambar komik. Dulu, setahun lalu sebelum Amira meninggal, aku sering mengajari ketiga adikku menggambar komik. Kini, kebiasaan itu hilang. Aku bahkan sering marah-marah bila sedang tidur dibangukan Teta, yang minta dinilai gambar komiknya.

Teta mendongak. Memandangku dengan tatapan takut. Buru-buru menggambar lagi. Obin pun begitu nampak acuh seakan aku tak ada di kamar. Aku sedih. Nenek benar. Aku harus merubah sikapku. Haruss ingat tanggung jawab. Adik-adikku butuh perhatian dan bimbinganku.

Kata orang cewek lebih cepat dewasa. lebih duluan jatuh cinta daripada cowok. cewek lebih gampang mewek. Cewek juga manja. Gampang histeris bila putuh cinta. Cewek tuh, nggak mandiri selalu bergantung pada cowok. Semua selalu cewek. cewek. Dan aku cewek. Bulan depan ultah ke 15. Di usia semuda ini, aku sudah melewati banyak hal. bahkan sudah kehilangan banyak hal. Kedua orang tuaku. Adikku. Mobil. Bahkan rumah. Semua melayang seiring meninggalnyaa bapak akibat serang jantung tiga tahun lalu. Kemudian di susul ibu setahun lalu, dan Amira, adikku tujuh bulan lalu. Lima bulan lalu rumah kami di sita bank akibat tak mampu bayar hutang almarhum bapak. Yang tersisa hanya tanah tanpa sertifikat dan mobil yang kemudian di jual Kak Uly, untuk uang sehari-hari kami.

Di sinilah kami tinggal sekarang di rumah nenek. Aku, Kak Uly, Kak Desi, Teta, dan Obin, adik bungsu kami. Hari-hari pertama tinggal di rumah nenek terasa asing. Pertama karena rumah nenek bangunan lama terbuat dari kayu ulin yang bila malam tiba dinginnya minta ampun. Terletak di seberang sungai. bangunan tingkat dua yang nampak angker bila di lihat dari seberang jalan begitu turun dari angkot. Kedua, rumah nenek di pinggir jalan raya bukan dalam komplek seperti rumah kami dulu. Ketiga, nenek sangat disiplin. Maklum isteri polisi. Keempat banyak kebiasaan di rumah lama yang tak boleh dilakukan di rumah nenek. salah satunya makan sambil nonton teve atau baca buku. Habitku sejak kecil. Katanya nenek itu kebiasaan buruk. Memperlambat makan dan membuat makanan sering nggak dihabiskan. Mubajir. Kelima, Aku harus berbagi kamar dengan adik-adikku. Jika kedua kakakku mendapat jatah kamar di loteng, maka aku dan kedua adikku, Teta dan Obin mendapat kamar di dekat ruang makan berseberangan dengan kamar nenek. Sejak kakek meninggal, nenek memang tinggal sendirian di rumah besar ini. Kedatangan kami seperti oase baginya. Walau nenek harus kehilangan anak tunggalnya, yakni ibu kami.

Kututup jendela. Malam kian larut. Kumatikan lampu kamar. Kunyalakana lampu kecil di samping ranjang. Kita nggak bisa kembali ke masa lalu, tapi kita bisa mengambil yang terbaik dari masa lalu untuk masa kini. Jika aku ingin sukses dengan apa yang kuimpikan akau harus belajar untuk membagi diriku dengan sekitarku.



   1 komentar     |        585 views

Untuk melaporkan cerita ini kamu harus masuk dulu.

Tinggalkan komentar

Anda harus masuk untuk meninggalkan komentar


komentar :
Meli Ryv Meli Ryv

Bagus.
Mampir yuk kak ke ceritaku judulnya Aisyah

October 20, 2017, 3:28 pm

  
Powered by Gramedia Pustaka Utama