Ingat saya
Cover



dibuat : Friday, 22 September 2017 3:35 pm
diubah : 1 bulan yang lalu
vote cerita :
1 vote, average: 3.00 out of 51 vote, average: 3.00 out of 51 vote, average: 3.00 out of 51 vote, average: 3.00 out of 51 vote, average: 3.00 out of 5 (1 votes, rata-rata: 3.00 dari 5)
Anda harus masuk untuk memberikan rating cerita ini.
Loading ... Loading ...
  Tag


  Kategori

FrankFurt

Recipienter

SINOPSIS

BAB 1 : Pesan Tak Berarti

 

          Kota ini begitu gelap dan kotor. Matahari seakan tak ingin mengintip sedikitpun di ufuk timur penuh kalbu. Jyna berlari-lari kecil menyusuri jalanan yang becek. Melewati para pedagang yang sibuk meneriakan harga barang yang dijajakannya. Rambut merah ikal yang tertutupi oleh tudung berwarna lusuh membuat siluet cahaya kecil pada setiap langkah Jyna. Dipelukannya terlihat tumpukan kertas kuarto dengan berbagai coretan yang menurutnya penting.

          “Permisi,” ucapnya pelan ketika melewati seorang pedagang yang menata dagangannya. Kaki kurusnya dengan cekatan menikung setiap kelok keramaian pasar di kota Toketos. Saat tangga sebuah apartemen kumuh terlihat, Jyna mulai membuka tudungnya. Surai merah itu ia kibaskan sedikit agar tak menghalangi matanya. Setelah Ia meniti tangga sebanyak dua kali tanjakan, Jyna memasuki sebuah apartemen paling ujung.

          “Terlambat dua menit.” Ucap seorang pria berperawakan jangkung dan berambut panjang sebahu. Dari posisi tubuh dan letaknya, terlihat pria itu sedang menunggu Jyna di ambang pintu. Jyna memperhatikan mata pria tersebut dengan lekat. Lalu senyumnya mengembang setelah menyadari mata kelabu hampa milik pria itu.

          “Jalanan sebesar apa yang kau harapkan ada di Toketos? Kota ini hanya sebesar tujuh desa terkecil di London, Rist.” Jyna meletakkan tumpukan kertas yang dibawanya di atas meja tamu yang di kelilingi kursi antik dari Swedia.

          “Apa yang kau bawa? Ini bahasa Tionghoa?” Tanya pria itu, Irist, sambil memperhatikan satu per satu kertas yang di bawa Jyna. Rentetan tulisan yang terlihat seperti coretan asal di kertas itu membuat kepala Irist sedikit pening.

          “Pekerjaan untuk Han dari Mr. Kingrton. Katanya ada yang aneh dengan maksud dari naskah novel kasar yang ditulis oleh Fritz Donald, penulis lepas penerbitan milik Mr. Kingrton asal Tiongkok yang meninggal bulan lalu.” Ucap Jyna sambil mengingat-ingat perkataan Mr. Kingrton yang tadi pagi Ia temui di Terminal Antar Dimensi.

           “Hmm… aku mengerti. Mr. Kingrton tidak memintaku untuk menerjemahkan semua isi naskah ini padanya, kan?” Ucap Han yang kini memakai tubuh Irist. Mata Han yang berwarna kuning cerah menatap Jyna penuh selidik.

          Jyna menggeleng “Mr. Kingrton hanya memintaku agar dapat memahami apa yang aneh dalam cerita yang di tulis Fritz. Semacam pesan kematian?”

          Han mengangguk-angguk mendengar asumsi Jyna. Dan dengan sekejap Han larut dalam tugasnya. Seperti yang seharusnya, para Boarder wajib melakukan tugas dengan cepat dan praktis. Jyna hanya menghela nafas dengan pelan, sedikit kecewa. Padahal Ia berharap dapat mengobrol dengan Irist lebih lama.

          Tangan pucat Jyna membuka jendela ruangan dengan hati-hati. Hiruk pikuk kota Toketos begitu familiar di otaknya selama dua tahun belakangan ini. Satu-satunya kota tanpa Negara di dunia ini membuatnya dapat mengetahui apa yang manusia biasa tak tahu. Pikiran Jyna melayang pada masa-masa yang tak dirindukannya.

          Di zaman era ilmu pengetahuan sains dan sihir di jadikan satu, manusia memikirkan bagaimana cara untuk mendapatkan kemampuan orang-orang hebat pada zaman dulu. Para ilmuan dan penyihir terbaik di dunia dikumpulkan, membuat sebuah relasi, dan akhirnya ‘Revolusi Kematian’ pun tercipta. Dunia tempat Jyna berpijak kini, hanyalah dunia ilusi yang diciptakan untuk mendukung proyek tersebut.

Toketos, yang dalam bahasa Yunani artinya kurungan, menjadi nama kota virtual pada pelosok dimensi ini. Di kota ini jugalah inti sihir dari proyek itu berjalan. Proyek itu membuat dua penemuan, Recipienter dan Boarder.

Recipienter adalah replika manusia yang terbentuk dari sihir elemen dasar tanah. Bentuk mereka seperti halnya manusia. Rambut, mata, hidung, mulut, telinga, kaki dan tangan, sangat menyerupai manusia. Organ dalamnya pun dibuat semirip mungkin dengan manusia. Sehingga manusia biasa tak akan dapat membedakan antara manusia asli dengan Recipienter. Yang membedakan hanyalah satu, Recipienter tak memiliki emosi. Mereka lebih menyerupai robot hidup secara harfiah. Dan satu lagi, mereka hanyalah wadah untuk Boarder.

Lalu Boarder adalah roh yang di masukan ke dalam Recipienter. Einteins, Nicola Tesla, Adolf Hitler atau siapapun itu, dapat di ambil kembali rohnya jika mendapatkan DNA mereka. Satu Recipienter dapat memuat maksimal lima Boarder di dalam tubuhnya. Proyek ini mengambil dasar dari kepribadian ganda untuk meminimalisir produksi Recipienter berlebih. Boarder hanyalah segumpal kemampuan, intuisi, dan cara pikir seseorang. Namun sifat yang menonjol tetap melekat pada mereka. Walaupun tidak memiliki memori tentang kehidupan mereka sebelumnya, Boarder selalu mengetahuinya lewat sejarah yang mereka pelajari kembali.

Ekor mata Jyna kembali menatap Irist, tepatnya tubuh Irist karena sekarang tubuhnya sedang di pakai Han untuk penyelidikan. Bisa terlihat pada pupil mata Irist yang kuning. Ada tiga Boarder di tubuh Irist.

Si Kuning adalah Han. Orang Asia yang pintar semua bahasa. Menurut cerita Irist, Han adalah teman penemunya yang sangat cerdas dalam komunikasi, dalam usia empat tahun Han sudah bisa berkomunikasi dalam empat bahasa, China, Korea, Jepang, dan Philipina. Namun Han bunuh diri saat usianya menginjak remaja. Karena tekanan orangtuanya dan lingkungan yang mengucilkannya.

Si Biru adalah Luke. Seorang warga Jerman mantan perwira polisi. Jyna tidak mengetahui apa-apa tentang asal muasal Luke. Tapi, yang Jyna ketahui Luke merupakan orang yang sangat ahli dalam hal spionase dan beladiri. Jyna pernah mengira Luke merupakan orang penting di dalam NAZI dahulu, namun ia buang semua pikiran kelamnya perihal Luke.

Si Merah adalah Rexy. Seorang anak keturunan Inggris dan merupakan anak dari seorang professor ternama di zamannya. Entah siapa.

Mereka bertiga merupakan bagian dari Irist. Tiga orang penuh potensi yang tidak terlihat oleh masyarakat luas. Membuat tubuh Irist sangat berguna dan dapat di andalkan oleh beberapa orang penting dalam menangani kasus. Oleh karena itu Irist dikenal sebagai Recipienter Detektif. Beberapa orang penting pernah menemui Irist untuk menyelesaikan kasus yang mereka punya. Tidak ada satu pun kasus yang gagal sepanjang sejarah Jyna bekerja sebagai asisten Irist. Dan yang Jyna tahu, sebelumnya pun memang selalu berhasil.

Deritan pintu terdengar dan seorang pria berjas hitam muncul di baliknya. Topi Fedora yang menempel di kepala pria itu di lepaskan. Terlihatlah wajah oriental yang menyunggingkan senyum pada Jyna.

“Toshi!” seru Jyna tak percaya.

“Selamat pagi Jyna, kudengar kau sudah mendapat dokumen kasus baru dari Mr. Kingrton?” lugas Kawamura Toshi.

Layaknya seorang penjaga, Toshi memperhatikan Han lekat. Setiap Recipienter memiliki seorang penanggung jawab. Ketika penemu Irist meninggal, Kawamura Toshi yang merupakan seorang perwira polisi keamanan di Toketos menggantikannya. Karena Toshi jugalah karir Irist sebagai Recipienter detektif naik daun. Bagaimana tidak? Populeritas Toshi sebagai perwira berbakat di umur yang sangat muda begitu mengagumkan. Sudah banyak kasus level tinggi yang di tangani Toshi sempurna di pecahkannya. Dengan tugasnya sebagai penjaga Recipienter Detektif pun tak aneh lagi.

“Mr. Kingrton terlihat seperti mayat hidup ketika aku melihatnya.” Jyna mengubah posisinya dengan bersender pada jendela.

Toshi terkekeh mendengar ucapan Jyna “Bagaimana tidak? Dia bagai kehilangan anaknya sendiri.”

“Padahal sudah satu bulan,” Komentar Jyna heran.

“Selama apapun waktu berjalan, rasa kehilangan itu bagai penyakit yang menggerogoti tubuh manusia jika merelakan saja tak sanggup dilakukan.” Toshi ikut bersender di samping jendela.

“Bahasamu berat.”

Toshi hanya tertawa kecil mendengar betapa polosnya Jyna. Lirikan mata violet Jyna menusuk tajam pandangan Toshi. Secara naluriah Toshi pun berdehem menghentikan tawanya. Sinyal bahaya itu diterima dengan baik. Toshi tak mau terbunuh oleh aura anggun dan mematikan milik Jyna. Yang ia kagumi.  

Padahal, dua tahun yang lalu Toshi menatap Jyna sebagai remaja puber putus asa yang ia temukan bersama Irist di pinggir pantai. Mirip sekali dengan putri duyung yang terdampar dan minta bantuan pada sang pangeran dan penjaganya. Ironis.

“Sudahlah, Jyna. Tatapanmu membuatku takut.” Toshi menyerah.

“Tawamu mengejekku, kan?” Jyna merajuk.  

          “Aku tidak bermaksud begitu. Kau adalah gadis eropa yang paling manis. Mana mungkin aku mengejekmu.”

          “Untuk apa memuji dengan membawa asal kebangsaan? Gayamu benar-benar kuno, Toshi.” Ketika kata-kata itu keluar dari kerongkongan Jyna, hal ganjil terlintas di otaknya “Ngomong-ngomong soal kebangsaan, Fritz Donald rasanya bukan nama untuk orang Tiongkok.”

          “Unn, kau benar, Jyna. Nama itu lebih terlihat seperti orang Eropa.” Toshi bersidekap dan menaruh ibu jari tangan kanan di dagu. Matanya menatap langit-langit. Sedang berpikir. Rasanya Toshi mengingat sesuatu perihal Fritz Donald. Apa ada yang dilupakannya?

          “Apa wajahnya seperti orang asia?” Tanya Jyna penasaran. Mr. Kingrton sama sekali tak memberi gambaran seperti apa Fritz Donald yang di maksud.

          Toshi menggeleng “Sayang sekali, bukan aku yang menangani kasus bunuh diri itu.”    

          “Bunuh diri?” Jyna mengerjap tak percaya. Tindakan kampungan itu ternyata masih tren di zaman modern seperti sekarang.

          “Yup, dia ditemukan telah meninggal sambil memegang gelas berisi larutan racun.”

          “Sayang sekali,” ujar Jyna mencoba iba.

          “Namun sepertinya bukan begitu,” Ujar Han berdiri mantap. Seluruh lembar naskah novel kasar itu telah Ia babat habis dalam kurun waktu satu jam kurang. Pupil mata kuningnya menatap dengan puas Toshi dan Jyna bergantian.

          “Sepertinya kabar bagus,” Toshi memasukkan tangannya kedalam saku celana.

          “Bagaimana hasilnya? Apa isi ceritanya?” serbu Jyna penuh rasa ingin tahu. Jyna dengan cekatan mendekati Han untuk mendengarkan dengan jelas apa yang Han katakan. Ini yang Jyna tunggu-tunggu sedari tadi. Hal yang membuatnya bertahan menjadi asisten Recipienter. Hasil dari penyelidikan yang selalu sukses membuatnya berdebar-debar.

          Han pun membuka mulut “Cerita ini tak ada artinya.”

 



   0 komentar     |        63 views

Untuk melaporkan cerita ini kamu harus masuk dulu.

Tinggalkan komentar

Anda harus masuk untuk meninggalkan komentar


komentar :

  
Powered by Gramedia Pustaka Utama