Ingat saya
Cover



penulis : Sheana Lee
dibuat : Friday, 09 February 2018 10:10 pm
diubah : 6 bulan yang lalu
vote cerita :
2 votes, average: 1.00 out of 52 votes, average: 1.00 out of 52 votes, average: 1.00 out of 52 votes, average: 1.00 out of 52 votes, average: 1.00 out of 5 (2 votes, rata-rata: 1.00 dari 5)
Anda harus masuk untuk memberikan rating cerita ini.
Loading ... Loading ...
  Tag


  Kategori

FrankFurt

Rainbow After Rain

SINOPSIS

 

 

Ini adalah cerita tentang perjuangan mengejar impian, cerita tentang kesempatan, persahabatan, dan juga cerita tentang lelaki humoris berwajah tirus dengan kulit eksotisnya. Lelaki yang selalu menyukai design grafis dan segudang imajinasi untuk mewujudkan mimpi-mimpinya. Cerita yang hadir setelah hujan di bulan juli.

 

 

 

***

 

Pernahkah kamu bermimpi? Apa sih impian itu? Apakah orang harus tidur dulu baru bisa bermimpi? Entahlah. Tidak ada yang tahu jawaban itu,kecuali orang-orang yang memiliki keberanian untuk melakukannya.

 

Perkenalkan namaku pelangi. Nama yang merupakan doa dari kedua orang tuaku, yang selalu berharap kalau kelak nanti aku menjadi pelangi dalam hidup mereka.

 

“Kalo pelangi besar mau jadi apa?”

 

“Pelangi mau jadi seperti ibu”

 

“Maksudnya pelangi mau jadi perempuan tua penjual kue?”Kata ibu sambil tertawa diakhir kalimatnya.

 

Aku pun ikut tertawa menanggapi perkataan ibu. “Kan, pada waktunya nanti Pelangi akan menjadi  perempuan tua.”

 

“Jadi, kamu bilang ibumu perempuan tua? Awas ya, kamu.”Kata ibu dengan nada bercanda melirik ke arahku yang duduk di sampingnya.

 

Aku hanya tertawa melihat ekspresi yang ditunjukkan oleh ibu. “Meskipun ibu tua, tapi tetap cantik kok.” Kataku sebelum ibu mendaratkan jemarinya untuk menggelitikku. Terlambat. Jemari ibu sudah mendarat dipinggangku dan menggelitikku. Kami berdua hanya tertawa.

 

“Ehm, jadi Pelangi serius mau jadi seperti ibu?”Kata ibu setelah aku menyerah karena digelitiknya.

 

“Bukan serius lagi, tapi beribu-ribu rius. Pelangi ingin jadi seperti ibu, perempuan hebat yang pernah aku kenal.” Kataku sambil tersemyum dihadapan perempuan yang usianya telah menginjak 65 tahun. Perempuan yang selalu terlihat cantik meskipun tanpa riasan bedak di wajahnya yang sudah menua. Perempuan yang selalu terlihat hebat dan selalu menjadi motivasiku dalam mengejar impian.

 

Aku  ingat, umurku waktu itu masih lima tahun. Aku masih terlalu polos untuk memaknai tentang makna sebuah impian.  Kelak aku akan jadi seperti apa? Namun satu hal yang aku yakini, impian harus selalu diperjuangkan meskipun tidak semua impian bisa terwujud.

 

 

 

 

 

 



   0 komentar     |        104 views

Untuk melaporkan cerita ini kamu harus masuk dulu.

Tinggalkan komentar

Anda harus masuk untuk meninggalkan komentar


komentar :

  
Powered by Gramedia Pustaka Utama