Ingat saya
Cover



penulis : fauzanfadli
dibuat : Tuesday, 21 October 2014 7:30 pm
diubah : 4 tahun yang lalu
vote cerita :
3 votes, average: 1.33 out of 53 votes, average: 1.33 out of 53 votes, average: 1.33 out of 53 votes, average: 1.33 out of 53 votes, average: 1.33 out of 5 (3 votes, rata-rata: 1.33 dari 5)
Anda harus masuk untuk memberikan rating cerita ini.
Loading ... Loading ...
  Tag


  Kategori

FrankFurt

Morning Mother

SINOPSIS

Memulai hari dengan wajah penuh binar akhir-akhir ini adlaah hal langka untuk saya. Sudah lebihd ari dua minggu belakangan, saya terpaksa tidur larut. Bahkan sampai dini hari. Memang benar apa yang di bilang Bang Haji, begadang jangan begadang, kalau tidak ada perlunya.

Tapi, percayalah, Bang Haji. Saya begadang sangat ada perlunya. Saya bersedeia menjelaskan keperluan saya kepada Bang Haji jika beliau ada waktu. Sungguh!

Bangun pagi selalu membuat kepala saya berat. Bukan karena pusing tidak keruan, tapi karena otak ini dipaksa untuk mengimajikan adegan demi adegan yang akan saya jalani hari itu. Saya merasa beruntung karena harus menunaikan kewajiban salat. Saat subuh, membasuh wajah dengan air segar sedikit banyak mengajak jiwa saya kembali ke raga. Gerakan-gerakan dalam salat pun alhamdulillah mampu membuat saya sedikit bertenaga.

Dulu, kalau tidak salah saat sekolah menengah, saya membayangkan kalau saya akan menggilai rutinitas bekerja. Mematut diri di pagi hari dan bersantai di sore harinya. Ini adalah tahun keempat saya melakukan impian saya itu. Pengulangan yang terintegrasi dalam rutinitas membuat saya buta warna. Bukannya saya kini merasa buta akan warna dunia, sesekali masih ada bonus drama penuh warna, sih. Tapi tetap saja, repetisi ini bikin saya statis.

Setelah berjibaku dengan Microsoft Excel semalam suntuk, saya memaksa diri untuk rebah di kasur. Jujur saja, saya rindu saat-saat tubuh ini mendamba kantuk di malam hari. Karena kantuk selalu saja datang di saat krusial. Seperti saat meeting mingguan atau presentasi di hadapan BOD perusahaan klien yang paling loyal. Ingin rasanya mengingatkan kantuk untuk datang pada waktu yang diperlukan. Tapi siapa yang bisa menyalahkan kantuk? Siapa?

Hampir pukul dua dini hari. Saya menenggak satu gelas air putih cepat-cepat. Saya punya teori, kalau perut kembung dan tenggorokan basah, tidur nyenyak akan lebih mudah datang. Leher bagian atas sudah sangat tegang seperti hubungan Pak SBY dan Bu Mega. Menggelengkannya sampai bunyi kretek-kretek tidak banyak membantu. Kantung mata ini rasanya sudha mampu menampung semua keluh kesah para TKW di luar negeri. Warna hitamn ya lebih gelap dari masa depan karir Ustadz Guntur Bumi di ranah hiburan.

Ohya, ada satu trik menjemput lelap yang selalu saya lakukan saat emergensi-tidur seperti ini. Mematikan ponsel lalu membaca buku. Memaksa mata agar terasa pedas lalu dengan tidak sadar masuk ke alam mimpi. Sayangnya, saya sudah lupa bagaimana mimpi bisa terjadi. Saat terpejam. Saya akan lupa.

Kemudian saya tertidur.

Tidak ada yang bisa saya ceritakan dalam tidur.

Karena semuanya gelap.

Atau saya terlalu lelah. Entahlah.

Yang saya tahu, dan senantiasa terjadi adalah bunyi alarm yang nguing-nguing bergema di kamar. Merajuk untuk menggapainya dan menekan tombol snooze.

Selepas ibadah Subuh. Saya kembali memanjakan mata. Tidur sejenak. Karena itu kan artinya snooze? Belum genap mata ini terpejam, salah satu sisi kasur saya terenyak. Ada yang duduk di balik punggung saya. Mengetuk sa ya lembut dan perlahan.

Dek, sudah tidur lagi?,” itu suara Mama.

Hmm? Baru mau, Ma. Kenapa?,”

Semalam Ayah nanyain kamu. Dia khawatir. Mama juga. Kami mikirin kamu, ndhuk,” tambahnya pelan. Sentuhannya yang sangat nyaman masih meraba-rabai punggung saya. “Kamu kerja terus. Jarang di rumah, ndhuk. Pergi pagi pulang larut. Nggak cape?,” suara Mama terdengar seperti me-nina-bobo-kan saya.

Nggakpapa kok, Ma. Lintang kan masih muda. Mama sama Ayah doain Lintang biar sehat terus aja, yah,” saya berusaha menjawabnya dalam kantuk.

Insyaallah doa buat kamu setiap hari, ndhuk. Kamu juga doain Mama ya, Lin,” saya merasakan sentuhan tangan Mama lambat laun menghilang. Saya telah tiba di alam tidur lagi.

Kalau Mama sudah nggak ada, kamu baik-baik ya sama Ayah, ndhuk” samar-samar, saya mendengr suara Mama begitu lirih. Suaya sudah nyaris mencapai dimensi beta. Tapi mengapa suara itu terdengar sangat nyata?

***

 

Berkunjung ke panti jompo membuat semangan saya meraung-raung kembali. Setelah satu minggu bekerja, menjejalkan otak dengan tumpukan pekerjaan, drama perkantoran, dan segala macam intrik, rasanya saya perlu refreshing sedikit. Ada satu artikel dari Huffington Post yang pernah saya baca kemarin dulu, tentang diagram kebahagian. Level tertinggi diduduki oleh “going on a vacation” dan “helping each other”. Saya memilih yang kedua. Lebih praktis.

Sebuah rumah tua yang cukup terawat. Bersih dengan dominasi dinding putih dan pekarangan penuh rumput tebal yang aman untuk para lansia. Pernah beberapa kali ada satu atau dua lansia yang terjatuh di sana karena licin, tapi alhamdulillah tidak sampai cidera serius. Resepsionis menyambut saya lembut, aroma karbol tercium dari beberapa kamar. Saya terus berjalan, ke kamar nomor seratus empat. Rasanya sudah seperti berbulan-bulan saya tidak berkeluh kesah di hadapan Nyai Salamah.

Kamu cantik sekali hari ini, ndhuk. Kenapa rambutmu dipotong. Nyai suka melihatnya panjang terurai. Lebih elegan”

Habis Lebaran nanti, saya mau mulai pakai kerudung, Nyai”

Alhamdulillah! Insyallah istiqamah ya, ndhuk

Insyaallah, Nyai”

Sambil membersihkan lemari pakaian Nyai Salamah. Saya berbagi beban dengannya. Mengungkapkan betapa aku sudah tidak tahan lagi tinggal di rumah bersama ayah. Bukan karena sifatnya yang semakin kasar hari demi hari, tetapi karena saya merasa terbebani dengan janji saya kepada Mama.

Belum genap dua tahun sejak saya terpaksa mengucapkan janji itu. Saat Mama beranjak dari kamar saya subuh itu. Bergumam lirih dan menitipkan ayah kepada saya. Hari itu rasanya seperti kiamat. Matahari belum puas menancap di ufuk tertingginya saat Mama dilarikan ke rumah sakit. Saya masih mengenakan pakaian tidur. Ayah jatuh berkali-kali di undakan depan rumah. terlalu terburu-buru menyalakan Kijang bututnya. Tenggorokan saya seperti tercekat dalam. Menahan tangis dan teriakan sambil memandangi Mama yang kejang-kejang di pangkuan. Tuhan, pagi itu Mama masih membelai punggung saya. Jika Ayah tidak menampar saya dengan keras, saya yakin saya sudah tidak sadarkan diri.

Sudahlah, ndhuk. Mama kamu sudah tenang di sana. Kita yang masih hidup sebaiknya sebisa mungkin menjaga amanah dari yang sudah tiada,”

Saya sudah hampir meledak sebelum berangkat ke sini, Nyai. Ayah sudah keterlaluan! Dulu ayah tidak pernah seperti ini. Dulu saat ada mama, ayah jauh lebih tenang,” Lalu saya kembali ke ranjang Nyai Salamah. Membukakan pakaiannya dan membasuh kulitnya dengan lap basah. Sangat perlahan. Nyai Salamah menyunggingkan senyum simpul. Matanya seakan berbicara betapa ia senang dimandikan seperti ini. “Mau makan apa hari ini, Nyai?”

Apa saja. Kalau ada bubur ketan hitam lebih bagus”

Di usianya yang hampir tujuh puluh, Nyai Salamah sebenarnya masih dapat dikatakan cukup bugar. Beliau menderita stroke satu tahun lalu. Tapi kini kondisinya sudah jauh lebih baik. Paling tidak, beliau sudah bisa ke kamar mandi sendiri. Berjalan merembet di dinding sambil membunyikan lonceng mungil yang selalu dibawa kemanapun. Melihat parasnya yang teduh, saya tidak pernah membayangkan bisa sedekat ini dengan beliau.

Mendengar setiap kisah penjajahan, romantisme tahun empat puluhan, sampai drama keluarga beliau yang pun tiada habis. Saya senang membuat Nyai Salamah nyaman dan merawatnya agar tetap bersih. Hal itu membuat saya tetap hidup dan waras di tengah rutinitas pekerjaan. Belum lagi urusan Ayah yang tiada habis. Saya takjub betapa kehilangan dapat berdampak begitu besar terhadap seseorang. Saya sayang dengan Ayah. Hanya dia satu-satunya orang tua kandung yang saya miliki sekarang. Sampai kapanpun, saya tidak akan menemukan alasan untuk menelantarkan Ayah. Walau seringkali saya berpikir untuk menitipkan Ayah di panti, tapi sosok Nyai Salamah selalu membuat ide itu urung dan terdengar konyol.

Bubur ini enak sekali, ndhuk. Tapi akan lebih enak kalau Nyai memakannya di rumah sendiri. Disuapi anak sendiri”

***

 

Memang tidak ada yang istimewa dari rumah ini. Jalan setapak dengan perdu di kanan kiri, naung dengan tanaman rambat, serta kolam ikan mas yang penuh lumut tidak banyak berubah belakangan ini. Saya ingat, betapa Mama suka menghabiskan sore di Teras ini. Bayangan itu masih terlalu jelas. Saya belum berhasil bertemu dengan ruang ikhlas dalam hati ini. Mungkin saya butuh lebih banyak waktu. Atau distraksi yang lebih kuat.

Ayah, tidak banyak yang bisa diharapkan dari lelaki tua itu. Rasa terpukul dan kehilangannya terhadap Mama seperti seratus kali lipat dari yang saya rasakan. Bola matanya kini lebih gelap. Kelam dan besar. Jenggot dan kumisnya sudah begitu berantakan sampai saya hampir jijik saat melihatnya sarapan pagi tadi. Ia menyuap nasi uduk dengan lahap, tanpa satu pun kata sapaan untukku yang duduk di depannya. Ya, sekarang cuma saya dan Ayah yang berbagi meja makan ini.

“Lintang ada kerjaan di Medan, Yah. Berangkat besok malam,”

Ayah mengangguk nyaris tak terlihat.

“Aku sudah memesan Mbak Timah untuk mengantar makanan setiap pagi dan malam buat Ayah,”

Ayah masih sibuk dengan nasi uduknya. Tidak mau repot-repot membalas percakapanku. Tidak pula berniat mengangkat wajahnya dan memandang saya.

Hati saya mencelos. Nafsu makan saya mendadak hilang. Saya terlalu marah untuk dapat mengunyah dan menelan sesuatu. Oh, mungkin ada satu yang bisa saya makan, itu adalah hati saya sendiri. Karena saya rasa bentuknya sudah tidak keruan. Hancur.

Pagi itu saya berangkat kerja dengan lemas. Tenaga saya sudah hampir habis. Bukan karena lapar, tapi menghadapi Ayah dengan watak yang baru seperti ini pelan-pelan menggerogoti semangat hidup saya juga. Saya paham, dia kehilangan isteri tercintanya. Saya pun demikian. Apa arti seorang isteri lebih dalam dari arti seorang ibu? Saya tidak mengerti. Kaerana bukan hanya ia yang berhak untuk sedih. Saya pun punya hak yang sama untuk larut menangisi kepergian Mama.

Lucunya, dunia ini seperti punya mekanisme otomatis. Saat seseorang sednag tidak bersemangat, ia akan menghadiahinya dengan sejuta kejutan. Seperti siang itu di kantor. Usai merampungkan laporan bulanan yang print out-nya bisa menutupi seluruh permukaan dinding di rumah saya, Ibu Boss menghampiri saya, tampak seperti tanpa tedeng aling-aling.

“Lintang, setengah jam lagi jangan lupa kita ada meeting dengan direksi, ya. Tentang proyek Medan yang besok kamu tangani. Memo tiket dan akomodasi juga jangan lupa kamu ambil ke GA. Kita mau buka usaha baru. Saya mau kamu yang pimpin pilot project ini,”

“Hmmm, satu lagi, cuci muka kamu. Make up sedikit. Kamu jelek sekali hari ini,”

“Baik, Bu,”

Ada dua hal yang salah dari percakapan itu. Pertama, Ibu Boss tidak mengucapkan ‘tolong’ saat meminta saya ikut meeting dadakan sepenting ini. Dan itu menyinggung saya. Kedua, saya tidak mengucapkan ‘terima kasih’ saat Ibu Boss mengoreksi penampilan saya. Dan itu melegakan saya.

Perusahaan saya sedang berkembang pesat. Selain membangun beberapa perumahan, mal, dan hotel, ternyata masih belum cukup bagi para Direksi. Mereka akan membangun rumah sakit di salah satu perumahan yang sudah developed lingkungannya di pusat kota Medan. Saya? Memang belum lama menjabat Asisten Manager Business Development, titah Ibu Boss untuk melimpahkan pilot project ini kepada saya sebenarnya sebuah kehormatan. Paling tidak, beliau mulai memercayai bawahannya yang tidak seberapa cantik ini.

Meeting berlangsung biasa. Diselingi beberapa percakapan tentang isu politik dan kemanusiaan yang sedang jadi headline. “Pimpro dari pihak rumah sakitnya sudah di jalan. Beliau kena macet, jadi agak telat. Ah! Itu dia!”

Dari dalam ruang meeting, tampak seorang lelaki paruh baya, mungkin sekitar empat pulih lima, ramping dan tegap dengan garis muka kokoh serta rambut yang mulai memutih di sana-sini.

“Silakan masuk, Dok,”

“Perkenalkan, Ini Dokter Setiawan Jaya dari Rumah Sakit Patra Medika. Biasa saya panggil Dokter Iwan. Silakan duduk, Dok!,”

Bukan kah ini Dokter Iwan yang dulu sempat merawat Mama? Tanyaku dalam hati. Tapi mengapa ia sekarang tampak lebih tampan?

“Hai semuanya, maaf saya terlambat. Macetnya sudah tidak manusiawi,”

Dokter Iwan memberikan presentasi yang bagus. Ia menjelaskan rencana pembangunan rumah sakit dengan mendetail dan informatif. Rencananya, rumah sakit yang akan kami bangun adalah rumah sakit umum dan ada sayap khusus Ibu & Anak.. Menurut Dokter Iwan, hal ini penting karena selain pertimbangan bisnis, rumah sakit Ibu & Anak juga sedang sangat berkembang. Kami akan membangun dan menyeiakan teknologi pengobatan dan perawatan dengan alat dan tenaga ahli yang lebih canggih. Spesialisasi seperti ini cukup disukai Direksiyang turut hadir dan sesekali menganggukkan kepala. Sesi tanya jawab berlangsung ringan. Dokter Iwan seperti sudah menjawab semua pertanyaan kami dalam presentasinya barusan. Dua jam lebih sepuluh menit. Meeting pun usai.

“Lintang? Kamu kerja di sini? Bagaimana kondisi Ayah kamu? Ginjalnya sudah tidak ada masalah, kan?”



   0 komentar     |        417 views

Untuk melaporkan cerita ini kamu harus masuk dulu.

Tinggalkan komentar

Anda harus masuk untuk meninggalkan komentar


komentar :

  
Powered by Gramedia Pustaka Utama