Ingat saya
Cover



penulis : Tirta Kelana
dibuat : Sunday, 30 July 2017 8:30 am
diubah : 3 bulan yang lalu
vote cerita :
1 vote, average: 5.00 out of 51 vote, average: 5.00 out of 51 vote, average: 5.00 out of 51 vote, average: 5.00 out of 51 vote, average: 5.00 out of 5 (1 votes, rata-rata: 5.00 dari 5)
Anda harus masuk untuk memberikan rating cerita ini.
Loading ... Loading ...
  Tag


  Kategori

FrankFurt

Mimpi Bertemu Rumi

SINOPSIS

Sinopsis

            Hazil adalah karyawan PT. Arta Prigel. Sebuah perusahaan swasta yang bergerak di bidang budidaya sawit. Ia juga adalah alumni sebuah pondok pesantren besar di Lubuk Linggau. Sebuah isyarat aneh diterimanya ketika suatu malam ia diperintah oleh gurunya untuk memanjat pohon durian. Suruhan untuk memanjat pohon durian di tengah malam tentu bukanlah suruhan biasa. Keanehan itu berubah menjadi menakutkan ketika telah sampai di atas, ia justru disuruh terjun. Hazil terjun bebas dari pohon durian itu karena “dipaksa” oleh sang guru dan berhasil mendarat tanpa terluka sedikitpun. Sang guru tidak memberi penjelasan mengenai perintah itu selain mengatakan bahwa kelak Hazil akan menjadi pejalan sunyi. Belasan tahun berlalu dan Hazil masih belum mengerti untuk apa peristiwa itu dan apa yang dimaksud pejalan sunyi? Hingga suatu malam, sebuah peristiwa musykil kembali terjadi. Hazil tertidur mendadak ketika sedang mengisi cangkir alumuniumnya dengan air panas dan saat terbangun ia telah berada di sebuah tempat yang sama sekali berbeda bersama seorang lelaki renta misterius yang kelak diketahuinya sebagai seorang sufi besar dari masa silam, maulana Jalaluddin Rumi. Ia juga berjumpa dengan seorang lelaki renta lain dengan alis tebal yang hingga akhir pertemuannya dengan kedua tokoh itu tak pernah ia ketahui nama maupun identitasnya.

Kedua orang itu mengajarkan banyak hal kepada Hazil dan ia menikmati obrolan panjangnya dengan mereka. Di akhir pertemuannya dengan maulana Rumi, ia dihadiahi selembar sorban hijau yang mulanya beliau jadikan sebagai imamah. Pertemuannya dengan kedua tokoh tersebut berakhir ketika ia kembali tertidur saat mendengarkan pembicaraan orang tua beralis tebal itu dan saat terbangun ia telah berada kembali di kamarnya. Hazil merasa telah meninggalkan kamarnya sangat lama tapi cangkirnya yang belum penuh saat ia kembali membuktikan yang sebaliknya. Hazil barusaja terbangun dari mimpi panjangnya. Tapi beberapa detik kemudian ia menyangkal kesimpulannya sendiri bahwa ia bermimpi. Sorban hijau pemberian maulana Rumi masih melingkar di lehernya!

            Pena takdir pernah menuliskan sebuah ketentuan bahwa Hazil harus kehilangan dua orang wanita yang paling dicintainya di bawah kolong langit ini. Mereka adalah Nayla dan Zetta. Nayla adalah isterinya dan Zetta adalah putri semata wayangnya. Keduanya meniggal dalam sebuah kecelakaan tunggal yang membuat Hazil terkurung dalam labirin kesedihan selama bertahun-tahun. Menyaksikan sendiri detik-detik ketika sang putri meregang nyawa adalah pemandangan paling mengerikan yang pernah ia saksikan sepanjang hidupnya. Peristiwa itu terjadi jauh sebelum ia berjumpa dengan maulana Rumi dan orang tua beralis tebal itu. Sangat panjang jalan yang harus ia lalui untuk sampai kepada kesimpulan bahwa seluruh peristiwa yang terjadi dalam hidupnya sejatinya adalah sebuah dialektika cinta. Seumpama padi yang harus dipisahkan dari batangnya, dijemur dibawah terik matahari, ditumbuk lalu ditanak diatas api yang membara untuk dapat menjadi nasi, demikianlah ia harus mengalami semua yang ia alami untuk sampai pada hakikat cinta. Seringkali, tuhan mendidik manusia dengan menerapkan mekanisme terbalik, dimana DIA memberi ujian terlebih dahulu sebelum memberi pelajarannya.

            Perihal pejalan sunyi itu menjadi terang benderang ketika Hazil berjumpa dengan wakil talkin dari tariqah qadiriyah wa naqsyabandiyah pondok pesantren suryalaya. Dari sana pula ia menyadari bahwa perjumpaannya dengan Jalaluddin Rumi dan orang tua beralis tebal itu hanyalah awal dari perjalanan ruhani yang harus ia tempuh menuju sesuatu yang lebih sejati.

 

                   

 



   0 komentar     |        219 views

Untuk melaporkan cerita ini kamu harus masuk dulu.

Tinggalkan komentar

Anda harus masuk untuk meninggalkan komentar


komentar :

  
Powered by Gramedia Pustaka Utama