Ingat saya
Cover



penulis : Antsomenia
dibuat : Wednesday, 03 December 2014 8:53 am
diubah : 3 tahun yang lalu
vote cerita :
3 votes, average: 5.00 out of 53 votes, average: 5.00 out of 53 votes, average: 5.00 out of 53 votes, average: 5.00 out of 53 votes, average: 5.00 out of 5 (3 votes, rata-rata: 5.00 dari 5)
Anda harus masuk untuk memberikan rating cerita ini.
Loading ... Loading ...
  Tag


  Kategori

FrankFurt

[CERPEN] Menunggu Ombak tuk Menjemput

SINOPSIS

            Botol minuman jeruk yang masih menyisakan setengah isinya, berputar-putar di genggaman tangannya. Dia menatap botol itu dalam-dalam seolah mengharapkan dirinya hanyut ditelan cairan asam itu. Senyum getir sedikit tersirat di wajahnya. Ia masih membeku dan terdiam.

            “Jadi kau memberitahuku kabar gembira itu?” ucap pria itu sembari tetap menggenggam botol minumannya.

            “Ya. Kau adalah sahabatku. Tentu saja aku ingin kau mendengar kabar itu. Bukankah kau sendiri yang telah beribu kali berkata ‘mau sampai kapan kau menolak setiap cowo yang menyatakan cintanya padamu dan tetap nyaman dengan status jomblomu’ padaku. Sekarang aku menemukan orang yang tepat,” seorang wanita bercerita dengan sangat antusiasnya. Rambut hitam sebahunya tersibak ditiup angin malam yang menyapu daerah tepian Danau Maninjau.

            Sate padang yang masih mengepulkan asap terasa dingin jika disajikan di tengah suasana beku layaknya es batu yang mengapung di dalam segelas teh yang tersaji di atas meja mereka. Kabar gembira bagi Renata sama sekali tak ada manis-manisnya di hadapan Mario. Malah bagi Mario, itu seperti kumpulan tusuk sate yang terbang dan menghunus bilik-bilik jantungnya. Lezat dan menyakitkan.

            “Dua tahun semenjak kita lulus SMA, kita pergi ke universitas yang berbeda, dan kuharap kau akan menemukan jodoh yang lebih baik. Oh.. kejam sekali bagiku melihat kenyataan, kau jatuh cinta kepada Danny, orang paling berengsek di SMA kita. Kau kena pelet?” bibir Mario berkerut, tidak sanggup menampung beribu kata yang ingin dia lontarkan kepada sahabatnya.

            “Tenang, tenang. Selama dua tahun ini Danny telah banyak berubah. Maksudku, berubah menjadi lebih baik. Dan dia selalu memberikan perhatiannya padaku. Sesuai harapanmu, kan? Akhirnya aku bisa membuka hati kepada seorang cowo dan aku menemukan yang tepat,” senyum Renata merekah. Menghangatkan udara malam yang berlalu di antara nafasnya.

            Mario makin mengeras. Ekspresinya menajam dan memastikan semua yang di dengarnya adalah dongeng belaka. “Ta.. Tapi, aku tidak yakin dia berubah karena dia ingin menjadi orang yang lebih baik. Itu pasti akal-akalannya dia saja demi mendapatkanmu.”

            “Ssst..” Renata meletakkan telunjuknya di depan bibir Mario. “Kau terlalu banyak termakan postingan-postingan kampanye hitam. Kau tidak tahu tentang dia saat ini. Aku yang lebih tahu.”

            “Terserah. Tapi aku yakin, sekeras apa pun induk macan dilatih, dia tidak akan pernah menjadi seekor kucing jinak yang bisa bermanja-manja di pangkuan majikannya.”

            Renata yang sejatinya telah mengenal Mario selama bertahun-tahun hanya tersenyum simpul. Dia tidak akan menjawab omelan Mario lebih banyak lagi. Itu percuma, dia tahu itu. Mario adalah orang yang luar biasa keras kepalanya. Termasuk keras kepala dengan prinsip ‘aku tak akan berpacaran sebelum menjadi miliuner’. Ya, mimpi gilanya itu sukses menjadikannya seorang pemuda berhati perawan hingga saat ini.

            “Bagaimana denganmu? Masih bertingkah bodoh juga? Mendesakku agar menanggalkan status jomblo ini sementara kau masih bersikeras untuk tetap menjomblo juga? Itu seperti seekor tikus yang memaksakan anaknya untuk terbang sementara dirinya tidak mampu melakukannya,” Renata melontarkan pertanyaan yang mampu membuat Mario bergidik.

            “Aku berbeda denganmu,” Sahut Mario. “Kau layak mendapatkan kebahagiaan. Kau cantik, kaya, baik. Tak ada alasan bagimu untuk menutup dirimu dari dunia ini, termasuk cinta. Dan aku juga berkata seperti itu karena iba melihat lelaki-lelaki terburuk hingga terbaik yang datang ke hadapanmu untuk menyatakan cintanya, dan dengan  seenak perutmu, kau tolak mentah-mentah.”

            “Bedanya denganmu?” tanya Renata.

            “Masih banyak mimpiku yang belum tercapai. Dan aku tidak ingin jika suatu saat aku gagal, ada seorang wanita yang menemaniku di dalam kegagalan. Jalan hidup, ya, aku harus jalani dan menanggungnya sendiri. Biarlah seseorang yang akan berada di sampingku itu tiba di saat aku telah sukses.”

            “Naif sekali,” kata Renata singkat.

            “Hei, itu prinsipku!” nada mario meninggi.

            “Dan kau juga harus tahu mengapa hingga saat ini aku masih betah dengan kesendirianku,” Mata Renata menusuk dalam-dalam bersama dengan suaranya yang menggema ke dalam gendang telinga Mario.

            “Apa?” tutur Mario.

            Renata tidak menjawabnya. Ia hanya menghela napas. Pandangannya yang dari tadi terfokus kepada Mario ia buang jauh-jauh ke tengah hamparan Danau Maninjau yang menggelombang. Keramba ikan yang mengapung bergoyang ke sana kemari dibuai ombak, sama seperti perasaan Renata yang dibuai oleh pembicaraan yang tengah dilakukannya.

            Bersama dengan kekalutannya, Mario memandangi jam tangannya yang menunjukkan pukul 09.00. Tampaknya ada hal lain yang harus dia lakukan dan bergegas meninggalkan pondok rumah makan di tepi danau itu.

            “Sudah malam. Aku harus pergi menemui makdang. Sudah dua hari aku pulang dan belum sempat mengunjunginya,” ucap Mario. “Mau ku antar pulang?”

            “Mario..” suara Renata bergetar.

            “Ya?”

            “Maaf, semua obrolan kita adalah kebohongan. Benar Danny menembakku, namun aku menolaknya.”

            Kalimat Renata barusan terasa seperti cipratan air danau yang menyembur ke wajah Mario. Terasa menyegarkan.

            “Lalu, maksudmu melakukan itu apa?”

            “Mengujimu..”

            “Menguji?” Mario terheran. Apakah obrolan kedua insan yang telah dua tahun tidak bertemu harus diawali dengan sebuah ujian yang harusnya hanya mereka dapati ketika berkuliah saja.

            “Ya, aku ingin melihat ekspresimu.”

            “Aku tidak mengerti.”

            “Kau mengerti!” Renata menegaskan. “Alasanku selalu menghindari cowo bukan karena aku tidak menyukai seseorang atau pun aku ini seorang lesbian. Aku melakukannya karena sedang menunggu seorang pria yang akan menjemput hatiku ke hadapannya.”

            “Siapa dia? Maksudku, pria itu, siapa?” ucap Mario yang makin terbawa heran.

            “Seseorang yang bersikeras menasihatiku namun dirinya belum mampu dia urus.”

            Mendengar jawaban Renata, Mario hanya tersenyum. Rasanya seperti rendang yang dimasak dengan kuali besar dan dibubuhi parutan kelapa yang ditangani langsung oleh koki padang secara langsung. Sebuah perasaan yang nyata dan orisinal.

            Renata meninggalkan tempat makan malam mereka. Sate yang kini hanya menyisakan sedikit panas dia tinggalkan separuh. Tampaknya dia sedang diet, atau dia punya kebiasaan ‘jangan habiskan makananmu agar kau tetap terlihat cantik’.

            “Oh ya, sampai kapan aku harus menunggu, tuan Mario?” Renata memalingkan wajahnya kebelakang, melirik Mario sedikit.

            “Sampai saatnya tiba. Yang jelas bukan sekarang, karena aku adalah orang yang keras akan prinsip yang telah kupatri sejak lama.”

            “Aku akan menunggunya, seberapa abad pun lamanya,” Renata berucap diikuti langkah kakinya yang bercampak meninggalkan tempat itu.

Malam itu Bukit Barisan yang mengelilingi Danau Maninjau terlihat bertalu-talu menasbihkan nyanyian indah. Gemerisik jangkrik saling bersahutan dari satu semak ke semak lainnya. Langit makin pekat, namun makin menjadi-jadi kehebohan malam itu. Malam yang kenyang akan kebahagian, setidaknya bagi Mario dan Renata.



   2 komentar     |        795 views

Untuk melaporkan cerita ini kamu harus masuk dulu.

Tinggalkan komentar

Anda harus masuk untuk meninggalkan komentar


komentar :
Wiwin Setyobekti Wiwin Setyobekti

manisnyaa…..

btw, itu sinopsis apa cerita ya? kalo sinopsisnya mah kepanjangan? kalo cerita, berarti nggak ada sinopisnya dong?

dah ku rate terbaik..

tetap semangat, dan salam kenal..

December 3, 2014, 2:43 pm
    Antsomenia Antsomenia

    hehe itu udah cerita. males bikin sinopsisnya. ya, ga ada sinopsis. hehe
    thanks ya.

    December 4, 2014, 4:19 pm

  
Powered by Gramedia Pustaka Utama