Ingat saya
Cover



penulis : S. R. Siola
dibuat : Thursday, 11 January 2018 9:48 am
diubah : 8 bulan yang lalu
vote cerita :
0 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 5 (0 votes, rata-rata: 0.00 dari 5)
Anda harus masuk untuk memberikan rating cerita ini.
Loading ... Loading ...
  Tag


  Kategori

FrankFurt

Menulis: Mengubah Dunia!

SINOPSIS

Menulis: Mengubah Dunia!

 

Salamun alaikum. Apa kabar semua, di pagi ini? Semoga cuaca pagi hari ini (di sini, Makassar, sedang hujan) mendukung aktivitas dan rutinitas kerja kita. Semoga selalu semangat, positif, dan berkarya dalam nama Tuhan. Amin.

 

Pasca kecelakaan motor, Sabtu sore kemarin, saya ambil cuti menulis. Kendati libur, kegiatan baca buku tetap jalan. Alhamdulillah kondisi saya semakin sehat, dan siap mengkaji sedikit dari budaya literasi yang ramai ditekuni oleh para penulis, pegiat literasi, dan pemerhati dunia sastra ini. Bahasan kali ini tidak akan melebar ke mana-mana, tetap fokus pada pembahasan menulis. 

 

Pertanyaan, apa sih menulis itu? Mengapa sekelompok orang senang dengan kegiatan menulis? Apa yang mereka cari dari kegiatan ini? Apakah sekedar untuk menghabiskan waktu, kesenangan, dan kepuasan hobi belaka? Ataukah menulis merupakan ajang aktualisasi diri yang merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia, menurut Abraham Maslow? Ataukah ada alasan lain yang terkait dengan personality, misalnya? Ataukah memang, menulis itu adalah hal yang tak terpisah dari kehidupan manusia. Bahwa, manusia terlahir memang ditakdirkan untuk selalu menulis, yaitu menuliskan takdirnya sendiri?! 

 

Baik. sesi pertanyaan kita tutup, dan bagaimana selanjutnya? Mari kita kupas secara sederhana dan ringan.

 

Di banyak kepala, terutama pakar literasi, kegiatan menulis mempunyai makna masing-masing. Ada di antara mereka yang memaknai kegiatan menulis sebagai bentuk komunikasi atau menyampaikan pesan non verbal kepada orang lain. Zaman dulu, orang-orang menghubungkan dua lautan dengan kegiatan surat-menyurat, termasuk urusan perdagangan, negoisasi politik kerajaan/pemerintahan suatu bangsa, dan lainnya. Target mereka apa? Menaklukkan lawan dan menguasai dunia!     

 

Ada juga yang memandang kegiatan ini sebagai alat propaganda, misalnya menyampaikan pesan-pesan politik dan ideologi. Biasanya, tulisan jenis ini berbentuk naskah pidato para  pemimpin negara. Seorang orator ulung sekali pun, tidak akan menyepelekan konsep awal dari apa yang akan disampaikannya. Mereka mecatat ide dan gagasan di secarik kertas kecil. Meski demikian, potongan kertas kecil itu mampu menggetarkan dunia!  

 

Sebagian lagi menggunakan media ini sebagai alat ekspresi diri, yaitu menuangkan cita, rasa, dan imaginasinya. Umumnya, mereka adalah para seniman dan budayawan. Selain  mengekspresi diri dalam bentuk karya sastra, fiksi dan non fiksi, mereka juga melakukan bedah gagasan terhadap karya satra lainnya, seperti review cerpen dan novel. Mereka menggarisbawahi poin-poin yang sekiranya memberi manfaat dan ilmu baru kepada orang lain. Termasuk juga kritik dan saran. Tentu saja, kritik tidak selalu berwajah angker,  membunuh karya dan mematikan kreativitas seseorang. Sebaliknya, sangat berperan dalam mengembangkan potensi dan kreativitas olang lain untuk semakin maju dan berkembang. Jadi sekali lagi, kritik sosial bagi para seniman dan budayawan adalah tidak selalu buruk, bahkan perlu untuk dipandang secara positif. Tujuannya apa? Merias dan menghias wajah peradaban menjadi lebih indah dan cantik dipandang mata kemanusiaan.

 

Dipercaya juga bahwa, menulis merupakan mediator yang paling andal mendukung sebuah gerakan kesadaran dan perubahan yang fundamental sebuah bangsa. Menulis dapat mengubah wajah dunia!  Bukankah ada banyak jalan untuk sebuah perubahan postif? Nah, menulis adalah salah satunya. Hanya saja, jenis tulisan seperti ini tidak boleh asal. Isinya tidak sekedar rangkaian-rangkaian kata yang emosional, melainkan memiliki kemampuan menginpirasi, memotivasi, rasional, mengubah mind-set orang-orang dan bahkan tradisi/sejarah. Tentu saja, model tulisan yang terakhir disebutkan, termasuk jenis tulisan yang tidak selalu menyenangkan hati orang banyak. Untuk jenis tulisan menginpirasi banyak ditekuni oleh pakar-pakar motivasi, para cendikiawan, dan praktisi agama. Sekedar informasi tambahan, Syahid Muthahhari dan Dr. Ali Shariati masuk dalam golongan ini. Pemikiran mereka dipercaya hidup dan menghidupkan. Tulisan-tulisan mereka mengubah wajah dunia!    

 

Secara personal, orang-orang juga melakukan kegiatan menulis untuk mengabadikan kenangan-kenangan manis dan pahit pribadi mereka. Biasanya, jenis tulisan ini untuk kepuasan, kesenangan, dan beberapa juga shock therapy. Olehnya, tulisan ini tidak terikat oleh kaidah-kaidah berbahasa Indonesia yang benar (EYD). Tapi pertanyaan, apakah ada yang dicari oleh penulis tipe ini dari tulisan-tulisan/diary mereka? Tentu saja! Apakah itu? Jawabnya tidak lain adalah momentum. Mereka menciptakan momentum baru untuk bisa berpindah dari kondisi fatal kepada momentum yang lebih baik dan mendukung. Mereka ingin mengubah hidup mereka lebih baik dari masa lalu!

 

Oh, ya, ada juga kelompok yang menjadikan kegiatan menulis/literasi untuk bagaimana meraup keuntungan materi sebanyak-banyaknya. Beberapa orang memanfaatkan tulisan atau blognya sebagai mesin penghasil uang. Bagi mereka, writing is the great way to make money. Tapi biasanya, orang-orang ideal tidak akan menjual tulisan dan buah akal-budinya sedemikian rendahnya di blog-blog murahan dan amatiran. Bagi mereka, uang hanya boleh sebagai tanda penghargaan terhadap profesionalitas mereka. Bukan semata alat barter dari transaksi ekonomi.

 

Kita kembali ke pembahasan sebelumnya.  Pertanyaan, apakah semua orang sepakat untuk berada di jalur ini,  yaitu kebebasan berpendapat dan menuangkannya dalam bentuk tulisan?  Jawabannya, tidak! Masih banyak yang antipati, terutama orang-orang yang sulit menerima perubahan. Ini sesuai dengan fakta banyaknya buku dan karya sastra yang dinilai berseberangan dengan ideologi negara tertentu, ditolak dan ditarik peredarannya oleh negara. Sebutlah, karya-karya Pramoedya Anantatur. Karya penulis profesional ini dilarang edar oleh pemerintahan orde baru. Bahkan, penulisnya dijebloskan dalam penjara. Tulisan-tulisan bernuansa Marxisme, atau misal LGBT sebagai produk budaya liberal, termasuk kitab-kitab bernuansa Ahlulbait as yang kerap dicurigai dan dianggap membahayakan (misal, Imamah dan politik Syiah), dan yang paling sensitif adalah kritik terhadap tokoh/pendiri agama selalu dimaknai dengan penistaan agama (seperti kritik terhadap Nabi Besar Muhammad Saw, para kiyai, dan lainnya). 

 

Pertanyaan, apa tak boleh kita menolak tulisan-tulisan yang tak senada dengan keyakinan kita? Boleh, dong! Apa salah kita berunjuk rasa, mengerahkan massa, membakar emosi para demonstran hingga melakukan tindakan-tindakan anarkis (fisik) terhadap seorang penulis/sebuah karya tulis buah pemikiran orang lain? Tak salah dong! Lalu bagaimana kita menjawabnya?

 

Para pemerhati literasi dunia berbeda pendapat dalam hal ini. Bagi mereka yang hidup di tengah-tengah masyarakat religi/agama mayoritas (misal: Arab Saudi, Indonesia Vatikan, Thailand, Nepal), kehadiran buku-buku atau tulisan yang muatannya dianggap berbeda nilai dengan agama mayoritas, tentu saja lebih rentan munculnya penolakan bernuansa anarkisme dan kekerasan fisik. Perbedaan pendapat lebih dimaknai dengan penolakan, hinaan, ejekan, kritik, bahkan penistaan.  Sehingga, cenderung ada pembatasan terhadap kebebasan berpendapat, pers, dan media. Tapi, saya tidak menganggap pembatasan ini sebagai penjara. Melainkan terdapat nilai-nilai yang mesti dijunjungtinggi oleh para pegiat literasi. Inilah yang disebut kode etik jurnalistik atau etika menulis. Meski pun (bisa saja)  kode etik ini berbeda-beda di tiap negara dan komunitas. 

 

Di sisi lain, penganut aliran kebebasan yang menjunjungtinggi prinsip kebebasan dan persamaan (liberty, egality,and equality), perbedaan pendapat merupakan fenomena yang sah-sah saja, dan mereka berhak atas perlindungan hukum yang berlaku. Bagi mereka, kekuatan senjata tidak akan pernah mampu menumbangkan sebuah ideologi. Banyak negara yang tumbang dikarenakan idologi yang dianutnya, tapi betapa banyak yang hidup dan berkembang menjadi neo-neo-isme lainnya. Di sinilah saya percaya bahwa kegiatan menulis tidak sekedar the activity or skill of marking coherent words on paper and composing text, melainkan sebuah kemampuan membaca masa depan dan sejarah. Menulis adalah kedinamisan, kepemimpinan, dan rasionalitas. Menulis adalah cinta, kepekaan, solidaritas, dan pengorbanan. Menulis adalah pembebasan, kemerdekaan dan kehidupan.  Menulis adalah kegiatan membangun peradaban yang pilarnya adalah membaca dan berpikir kreatif. Sekali lagi, di sinilah saya percaya bahwa hanya tulisan yang mempu mengubah dunia!

 

Yuk, kita budayakan menulis! (S. R. Siola/11/01/2018)



   0 komentar     |        140 views

Untuk melaporkan cerita ini kamu harus masuk dulu.

Tinggalkan komentar

Anda harus masuk untuk meninggalkan komentar


komentar :

  
Powered by Gramedia Pustaka Utama