Ingat saya
Cover



penulis : dewilinggasari
dibuat : Thursday, 14 February 2019 1:05 pm
diubah : 1 minggu yang lalu
vote cerita :
2 votes, average: 5.00 out of 52 votes, average: 5.00 out of 52 votes, average: 5.00 out of 52 votes, average: 5.00 out of 52 votes, average: 5.00 out of 5 (2 votes, rata-rata: 5.00 dari 5)
Anda harus masuk untuk memberikan rating cerita ini.
Loading ... Loading ...
  Tag


  Kategori

FrankFurt

MENGGAMBAR BINTANG –Cerita tentang Seorang Anak Asmat

SINOPSIS

*Seorang dibedakan bukan,

karena laki-laki atau perempuan,

tetapi kemampuannya berprestasi

dan bersikap baik … .

 

Prolog

 

Kini  aku berada di dalam kabin Luthfansa, Airabus A380, pesawat seharga 289 juta dollar, maskapai penerbangan Jerman dalam perjalanan ke Amsterdam untuk memulai study gender S2. Beragam perasaan berkecamuk seolah tanpa ujung ketika mesin pesawat mulai berdengung untuk memulai penerbangan panjang, transit di Singapura kemudian menuju Schippol Airport selama kurang lebih 12 jam. Sepuluh tahun lalu saat masih gadis belia di tanah berlumpur Asmat –Papua aku tak pernah membayangkan untuk sampai pada hari ini. Hidup selalu berselubung kabut misteri, setelah melalui malam panjang berlumuran hitam tinta sampai kiranya pada fajar benderang dengan cahaya emas sang surya. Sekilas aku menatap ke deretan kursi penumpang, rata-rata adalah orang-orang berkulit putih atau sawo matang. Hanya beberapa berkulit hitam serta berambut ikal, aku sempat bertatapan dengan seorang ibu dengan penampilan sama, kulit yang teramat legam. Mungkin orang Afrika, kami sempat tersenyum menyatakan kebersamaan dan persamaan.

Ketika pramugari yang ayu dan santun menawarkan gula-gula di atas piring yang indah aku  memungutnya dua butir. Penerbangan selalu diawali dengan mengulum gula-gula. Kemudian pesawat raksasa ini bergerak  menempatkan diri di ujung landasan pacu, di atas langit sama birunya dengan laut. Kali ini penerbanganku yang kedua ke luar negeri, setelah satu semester di Lemonosov Moscow State University untuk penulisan skripsi. Tanpa sadar rasa gentar menyergap, aku akan menetap untuk jangka waktu yang cukup panjang pada suatu tempat yang sama sekali baru dengan kebiasaan serta adat isti adat yang berbeda pula. Aku akan menjadi bagian kecil di dalamnya, aku tak pernah tahu –tak seorangpun akan tahu apa yang akan terjadi pada hari-hari mendatang, bahkan satu jam setelah pesawat ini mengudara. Akan tetapi, aku berkesungguhan untuk melaluinya.

Ketika dengan kekuatan pasti pesawat mulai menukik tanpa sadar sepasang mataku terpejam dan berembun. Wajah mama kembali terbayang, seorang perempuan bersahaja yang berpulang menuju keabadian sebelum aku sempat beranjak dewasa. Andai mama bisa mengantar pada perjalanan panjang hari ini, tetapi takdir hidup menghendaki berbeda. Aku seorang diri dengan  kenangan tak pernah pudar akan kehadiran mama, tanpa nasehat serta kasih sayangnya, akankah aku memiliki kesempatan yang sangat baik memenangkan bea siswa DPLK, menyelesaikan berkas-berkas, surat rekomendasi, peluang pada sebuah universitas di Amsterdam kemudian duduk pada lambung Airbus?

Udara dingin di dalam kabin seakan menyedotku ke masa lalu, suatu kurun waktu yang cukup panjang dengan asam garam serta pahit getir yang harus kutelan tanpa kenal ampun. Aku tak harus menyesali segala yang pernah terjadi, ingatan akan terus mengenang sejauh apapun kaki melangkah untuk mencapai cita-cita –menggambar bintang.

 

Adakah engkau ingin mendengar ceritaku?



   0 komentar     |        76 views

Untuk melaporkan cerita ini kamu harus masuk dulu.

Tinggalkan komentar

Anda harus masuk untuk meninggalkan komentar


komentar :

  
Powered by Gramedia Pustaka Utama