Ingat saya
Cover



penulis : dewilinggasari
dibuat : Friday, 19 May 2017 6:43 am
diubah : 5 bulan yang lalu
vote cerita :
0 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 5 (0 votes, rata-rata: 0.00 dari 5)
Anda harus masuk untuk memberikan rating cerita ini.
Loading ... Loading ...
  Tag


  Kategori

FrankFurt

P E R J A L A N A N

SINOPSIS

*Perjalanan menorehkan kisah yang berbeda, ketika seorang kelana meninggalkan rumah tinggal menuju suatu peta tujuan dengan aneka cara, kesan serta pengalaman baru yang memberikan inspirasi dan pencerahan. Perjalanan antara satu orang pasti berbeda dengan yang lain, masing-masing melihat dari sudut pandang dan pengalaman yang berlainan. Kisah-kisah perjalanan akan menginspirasi kelana yang lain untuk  menuju, membuktikan kebenaran kisah itu, memperkaya pengalaman hidup. Perjalanan selalu memberikan penyegaran setelah hari-hari yang sibuk, menekan, melelahkan serta dipenuhi dengan aneka konflik.

 

Ayo berangkat …..

 

“Mengesankan ….” Penerbangan Perintis Timika – Ewer

 

Senin, 25 Juli 2016

Sedianya saya berniat menunggu Kapal Tatamalau yang akan sandar di Dermaga Pomako, Timika esok, Selasa, 26 Juli 2016 untuk menuju ke Dermaga Baru Agats, Asmat, kembali ke tempat tugas setelah libur panjang. Akan tetapi Pesawat Pilatus satu baling-baling, dengan kapasitas delapan orang penumpang termasuk pilot bersiap terbang ke Bandar Udara Peintis Ewer, Kabupaten Asmat dalam rangka pelayanan tugas daerah. Saya ditelepon, apakah bersedia berangkat sekarang, sebelum sempat beristirahat di Timika Golden Hotel? Pasti saya siap, perjalanan udara lebih cepat dan mudah dari pada mesti menempuh satu jam perjalanan dari hotel ke dermaga kemudian 10 jam pelayaran, sampai di tujuan pada gelap malam.     

 

Perasaan yang mencekam beberapa menit sebelum penerbangan adalah gamang, keselamatan manusia akan berada ditangan pilot, di dalam perut burung besi, melayang sekitar 40 menit hingga sampai di landasan pacu bandar udara perintis, Ewer. Akan tetapi, Tuhan berkuasa atas takdir serta keselamatan manusia. Dalam 22 tahun ketika memilih bertugas di wilayah Papua, saya dan semua orang yang menetap di wilayah ini amat tergantung kepada penerbangan perintis, baik jenis pesawat Cessna, Pilatus atau Twin Otter dalam rangka mobilitas udara.

 

Akan tetapi, perasaan gamang perlahan memudar berganti takjub, ketika Pesawat Pilatus perlahan meraung, bergerak pasti menuju landasan pacu Bandar Udara Moses Kilangin, Timika. Raungan pesawat semakin kuat kemudian burung besi itupun mengudara, landasan pacu tertinggal  jauh di bawah dan semakin jauh. Tata kota Timika tampak sebagai konsentrasi  pemukiman yang ramai berserakan dengan atap seng aneka warna, sekejab, kemudian hilang di kejauhan. Pemandangan beralih rupa, adalah limbah beracun maha luas melebihi lahan tata kota yang bersumber dari proyek raksasa PT. Freeport Indonesia. Sumber limbah beracun itu mengalir laksana anak sungai yang kian membesar dan bermuara menuju lepas  pantai.

 

Pesawat terus meraung, kali ini saya satu-satunya penumpang bersama seorang pilot berkebangsaan asing. Sesaat pilot Pilatus itu sempat menoleh ke arah belakang, mengacungkan jempol, saya balas dengan menganggukkan kepala sambil terus menjepret pemandangan yang mengesankan. Hutan demikian hijau membentang berbatas horizon, air sungai meliuk-liuk seakan ular naga, bergerak dari hulu menuju muara, awan putih teramat lembut bergumpal-gumpal melayang di ketinggian, ditiup angin, menuju entah. Semakin lama awan semakin tebal, berkilau ditimpa hangat sinar mentari, beberapa detik pesawat terjebak dalam kabut putih, namun cuaca kembali cerah dan bersahabat.  Di bawah pesawat awan tampak sebagai hamparan putih teramat tebal dan luas seakan tak hendak sampai pada ujungnya, di atas langit sebiru batu safir. Rasa gamang tak lagi bersisa.

 

Awan putih pun perlahan menepi, hutan luas serta sungai-sangai yang berkelok indah kembali nampak sebagai panorama yang mengesankan. Mega-mega kembali tampak seakan gumpalan kapas putih dan lembut helai kain sutera pembalut luka. Jarak menuju landasan pacu Bandara Ewer sebagai gerbang udara Kabupaten Asmat semakin dekat. Ketika dengung mesin menurun, hutan yang luas menghijau berubah menjadi batas langit, biru dan samar. Pesawat memutar, memposisikan diri tepat untuk landing di landasan pacu, pohon-pohon tampak semakin dekat, pemukiman Kampung Ewer dan Sau tampak sekilas dari  balik kaca jendela.  Ketika roda pesawat menyentuh landasan pacu terasa guncangan yang mengejutkan, pesawat terus melaju menuju akhir perjalanan, gerakan terasa demikian cepat dan mencemaskan. Pada dua sisi jendela kaca, pohon-pohon seakan ikut pula berlari, sesunggunnya tumbuhan itu selalu berhenti.

 

Ketika akhirnya pesawat memutar kemudian berhenti, penerbangan singkat ini sampai pada tujuan dengan selamat. “Terima kasih, sampai bertemu kembali”, saya sempatkan melambai pada pilot, iapun melambai dalam sikap bersahabat.

 

 



   0 komentar     |        132 views

Untuk melaporkan cerita ini kamu harus masuk dulu.

Tinggalkan komentar

Anda harus masuk untuk meninggalkan komentar


komentar :

  
Powered by Gramedia Pustaka Utama