Ingat saya
Cover



penulis : dewilinggasari
dibuat : Wednesday, 03 May 2017 7:25 am
diubah : 1 minggu yang lalu
vote cerita :
1 vote, average: 5.00 out of 51 vote, average: 5.00 out of 51 vote, average: 5.00 out of 51 vote, average: 5.00 out of 51 vote, average: 5.00 out of 5 (1 votes, rata-rata: 5.00 dari 5)
Anda harus masuk untuk memberikan rating cerita ini.
Loading ... Loading ...
  Tag


  Kategori

FrankFurt

MENAPAK JEJAK

SINOPSIS

Puisi, dapat menjadi dermaga bagi sekalian pengembara atau
–pencari—untuk sejenak hening, melabuhkan hati dalam perjalanan
hidup yang teramat panjang dan tak diketahui dimana ujung yang
penghabisan. Jejak yang membekas akan tetap tercetak hingga
ombak laut atau badai gurun datang menghantam, maka musnahlah
segalanya tanpa kesan –Jejak– pengalaman hidup adalah pelajaran
paling berharga bila seseorang mampu melihat suka duka hidup
dengan bijaksana. Tiada kesedihan yang tidak mampu membuat
seseorang menjadi lebih matang, tak ada air mata yang mengucur
dengan sia-sia, tak ada bahagia abadi, pun tak pernah ada kepahitan
tanpa madu pengobatan

Rina Ningsih, sahabat masa SMP pernah menyarankan pesan
via face book, supaya saya menulis biografi untuk “menyimpan
setiap jejak” yang pernah tercatat, persoalannya saya tak merasa
cukup berarti dan mampu untuk menulis biografi, catatan yang
biasa diterbitkan oleh tokoh besar. Akan tetapi, melupakan jejak
yang telah tercetak di sepanjang titian waktu menjadi hal yang amat
disayangkan. Oleh sebab itu saya berkeputusan untuk menerbitkan
puisi, hobi yang saya mulai sejak masih SMP sekitar tahun 1982
–kegemaran yang tidak mudah tersalur, karena menghadirkan puisi
ternyata memerlukan kemampuan maksimal dalam penulisan.
Sebagai seorang peneliti saya dituntut –atau mengharuskan diri–
untuk mampu menerbitkan penulisan etnografi, beberapa judul
tentang Suku Asmat telah hadir ke tangan pembaca. Kemudian
saya mengikuti kata hati untuk menulis beberapa judul novel. Ketika
suasana hati sampai pada titik jenuh saya memutuskan kembali untuk
berpulang pada hobi masa remaja, yaitu menulis puisi.

Secara etimologis istilah puisi berasal dari kata bahasa Yunani
poesis, yang berarti membangun, membentuk, membuat, menciptakan
. Menurut Hudan Hidayat, salah satu dari sekian sastrawan terkemuka
tanah air yang begitu intens membimbing talent-talent berbakat yang
banyak bertebaran di dunia sastra maya dewasa ini : puisi seolah
bayang diri — ada tapi sukar dan bahkan tak terpegang maknanya,
tiada tapi ada, ada tapi tiada. Puncak puisi, maka, adalah Tuhan itu
sendiri, turunannya adalah roh kita, turunannya sedikit lagi adalah
bahasa. Pada ketinggiannya: pengasingan benda benda, seolah
roh yang tak ingin terlihat, walau dalam tubuh” (lifespirit –Imron
Tohari– kemudian.com, 10 Mei 2010). Dengan menulis puisi saya
mencoba berbagi pengalaman hidup tanpa harus mengungkapkan
secara riel kejadian yang telah lalu, karena puisi adalah bayang diri,
ada namun tak tergenggam benar sosok sesungguhnya. Dalam hal ini
puisi mencapai tingkat seni tertinggi, ketika sang pembaca berpikir,
bertanya-tanya, menginterprestasi, dan berapresiasi. Pengalaman
seperti apa yang telah terjadi di balik penciptaan sebuah puisi?

Munir, seorang rekan yang sudah aktif mengakses ke internet
menyarankan bergabung di komunitas penulis, kemudian.com
untuk berapresiasi dalam puisi. Saya perlu menimbang beberapa
lama sebelum akhirnya bergabung, pada Januari 2010, saya merevisi
kembali puisi yang saya tulis sejak tahun 1982, 1986, 1997, dan pada
tahun-tahun setelah itu. Harap-harap cemas saya posting puisi dari
ke hari –apakah karya saya akan mendapat tanggapan positif dari
rekan-rekan penulis?

Saya sungguh berbesar hati, bahwa user kemudian.com
memberi apresiasi positif dan sambutan hangat pada karya yang
saya posting. Tanpa adanya kehadiran kemudian.com serta apresiasi
dari rekan-rekan penulis, kiranya saya tidak akan pernah melangkah
hingga sejauh ini. Mencermati Remy Silado yang menerbitkan 200
judul puisi, maka saya mengikuti pula jejak serupa untuk menerbitkan
jumlah judul puisi yang sama.

Penghargaan setinggi-tingginya saya sampaikan kepada
admin, Rizki dan Tiva yang telah menyediakan media lepas bagi
sekalian penulis untuk berinteraksi tanpa baytas ruang dan waktu.
Terima kasih kepada man Atek –Atik Bintoro–paman bagi
seluruh kemudianers, yang memiliki kemampuan mumpuni dalam
membedah puisi, sehingga sosok si-aku dapat ditangkap dengan
pasti dari bayangan kata-kata yang berkelebat. Terima kasih kepada,
adikku Laila, deajeng Yugata, adinda Sena Supriatna, para sahabat,
Samalona, Cupupart, Lifespirit –Imron Tohari– Shinichi Kudo,
Race Sky, Cunek Junaedi, Kholil Ahmad, Panah Hujan, Fani Ijo,
nona manis Arydhmayanti dan seluruh user kemudian.com yang
tidak bisa disebutkan satu per satu. Terima kasih kepada paitua
Judhirobert Dadana yang selalu mencermati setiap judul puisi,
setiap hari dan menyediakan diri sebagai donatur dalam penerbitan
kumpulan puisi ini. Kepada kedua bidadariku yang jelita, Dewanti
Dadana dan Kinanti Dadana, maka kehadiranmulah yang mebuatku
hari-hari tetap bercahaya, kalaulah malam datang lebih panjang dari
batas waktu sesungguhnya.

Harapan tertinggi, bahwa Menapak Jejak dapat menjadi satu
dari kepingan mosaik yang akan menjadi bagian dari kehidupan
sastra Indonesia secara totalita.

Salam,

Dewi Linggasari

 



   0 komentar     |        638 views

Untuk melaporkan cerita ini kamu harus masuk dulu.

Tinggalkan komentar

Anda harus masuk untuk meninggalkan komentar


komentar :

  
Powered by Gramedia Pustaka Utama