Ingat saya
Cover



penulis : bare
dibuat : Tuesday, 17 October 2017 12:48 am
diubah : 1 bulan yang lalu
vote cerita :
0 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 5 (0 votes, rata-rata: 0.00 dari 5)
Anda harus masuk untuk memberikan rating cerita ini.
Loading ... Loading ...
  Tag


  Kategori

FrankFurt

Makrab

SINOPSIS

nada Danilla membias lewat udara.

 

sementara raga mulai lelah, terpeluk kantuk, tergilas cemas dan tersesat didalam rindu yang membelukar. sepasang mata setia pada kehangatan kenangan yang kian merasuk kedalam angan, menghadirkan bayang-bayang yang semakin terang ketika malam semakin jatuh ke peraduan.

 

asap hanyalah warna udara yang arogan, menyusup ke dalam rongga paru-paru namun tak pernah bisa mengalihkan rindu. kepada kamu yang dulu sempat menitipkan senyum pada sepenggal cerita tentang makrab dan dingin udara, yang dulu mengingatkan untuk tak sering-sering membiarkan asap menyusupk ke dalam paru. aku Rindu!

 

kau tak disini, namun bayangmu selalu melulu di dalam kepalaku.

 

mengingatkanku pada senyuman itu yang dulu sering meneduhkan egoku. apa kabar hari ini? lihat tanda tanya itu jurang pemisah antara kebodohan dan keinginanku memilikimu sekali lagi.

 

 

makrab pernah membuat kita jatuh cinta, di dingin malam dan kantuk yang mengundang dan mata kita yang saling pandang

 

jauh sudah terlepas aku pada kisah dan haru di sepanjang jalan menuju pelukanmu, lengan yang dulu biasa melingkar di pundakku, kini menjadi lambaian perpisahan yang kaku dan membiru. perlahan dan sangat pelan kisah terlupakan satu-persatu olehmu, tersisa hanya candu akan temu dalam benakku yang entah kapan akan bisa terjamah pemahamanmu. tenanglah, aku masih memegang pintamu yang tak lagu mau aku datang padamu. aku hanya harap yang senyap seperti capung tanpa sayap, merayap dalam ketiadaan lalu mati tergilas roda kendaraan.

 

mengingatmu aku tak ingin, namun selalu saja kau datang dalam lelap tidur, menyapa sebagai raga dengan pesona yang sama saat kita masih berjuang menyikapi rindu yang sederhana. senyumanmu beberapa hari lalu aku simpan meski senyum itu bukan untukku, namun setidaknya sebelum aku benar-benar membeku dan hati semakin mebiru, aku masih bisa melihat senyum itu.

 

senyum semestaku



   0 komentar     |        34 views

Untuk melaporkan cerita ini kamu harus masuk dulu.

Tinggalkan komentar

Anda harus masuk untuk meninggalkan komentar


komentar :

  
Powered by Gramedia Pustaka Utama