Ingat saya
Cover



penulis : Gusti A.P.
dibuat : Thursday, 12 February 2015 11:44 am
diubah : 2 tahun yang lalu
vote cerita :
27 votes, average: 4.44 out of 527 votes, average: 4.44 out of 527 votes, average: 4.44 out of 527 votes, average: 4.44 out of 527 votes, average: 4.44 out of 5 (27 votes, rata-rata: 4.44 dari 5)
Anda harus masuk untuk memberikan rating cerita ini.
Loading ... Loading ...
  Tag


  Kategori

FrankFurt

Lampu Jalan (Cerpen)

SINOPSIS

 

LAMPU JALAN

 

by Gusti A.P.

 

Bagi Nur Cahyo, tak ada yang lebih menyebalkan daripada sebuah lampu jalan yang berdiri di samping rumahnya. Lampu jalan itu terletak di dalam parit beton. Sehingga untuk menyalakan lampu, orang harus rela turun ke parit untuk menekan saklarnya. Karena lampu itu berdiri di sebelah rumahnya, otomatis urusan menyalakan lampu jalan menjadi “tanggung jawab Nur Cahyo”.

 

Namun, lama-lama Nur Cahyo muak. Parit itu sangat bau dan penuh sampah. Tak ada yang mau membersihkannya. Ketika Nur Cahyo mengeluh pada Pak RT, malah dia yang disuruh membersihkan parit itu. Sendirian. Nur Cahyo ngambek.

 

Pikirannya sudah kusut karena statusnya sebagai guru honorer yang tak segera diangkat jadi PNS. Dia pikir semua orang tak ada yang peduli dengannya. Tak peduli bahwa dia terseok-seok membiayai keluarganya dengan gaji kecil. Tak peduli dengan perasaan jengkelnya karena harkat hidupnya berhenti di status “guru honorer”. Tak peduli bahwa ia harus menjepit hidungnya tiap kali harus turun ke parit busuk demi menyalakan lampu.

 

Maka Nur Cahyo pun memutuskan untuk berhenti menjadi peduli. Dia berhenti turun ke parit dan otomatis berhenti menyalakan lampu. Bahkan walaupun para tetangganya mulai berdemo karena resah akibat jalanan menjadi gelap.

 

“Taik! Kalau mau nyalakan, nyalakan saja sendiri!” teriaknya histerik di depan orang-orang itu.

 

Nur Cahyo sampai dicap jadi orang gila. Tapi dia tak peduli. Lagipula kalau dia dituduh “gila”, malah “untung”. Mana ada “orang gila” yang bisa peduli.

 

Sebuah lampu jalan yang sejatinya merupakan solusi ironisnya malah menjadi sumber masalah. Nur Cahyo kemudian malah bertengkar dengan istrinya gara-gara lampu. Pada akhirnya, permasalahan lampu jalan ini mulai memakan korban… Satu demi satu…

Ikuti lanjutannya ya πŸ˜€ Ini cerpen yang aku tulis di tahun 2008. Cerpen ini menjadi Juara V Peksimenal (Pekan Seni Mahasiswa Regional), tingkat regional di Jember. Kemudian cerpen ini masuk ke dalam antologi komunitas “Aku Ingin Melukis Wajahmu”.

 

Sebagai bonus, aku melampirkan proses kreatif pembuatan cerpen ini dalam bab tersendiri lho. Gimana? Baik kan aku? Hahahahaha…

 

Special thanks buat Pak Rahadi, daku sudah mengedit cerpen ini setelah dapat komentar di bawah. Dikit sih, nayamul lah. Semoga menambah believability. Akhirnya malah ngedit keseluruhan. Cerpen ini sekarang berbeda dengan versi Peksimenalnya, dan semoga lebih baik.

 

Enjoy…

 



   68 komentar     |        2,281 views

Untuk melaporkan cerita ini kamu harus masuk dulu.

Tinggalkan komentar

Anda harus masuk untuk meninggalkan komentar


komentar :
black or blue alison

Oya, tapi covernya bisa jauh banget gitu ya? Masa anak sekolah lagi pacaran..

April 4, 2015, 7:34 pm
    Gusti A.P. Gusti A.P.

    Hehe itu cover buatannya Yuumei dari Deviant Art. Artis kesayanganku XD Iseng aja “minjem” gambar dia :3 (Itu dari serial Project: WE)

    Dia ga pernah nggambar orang berumur sih XD Adanya ini. Ya pake aja deh. Biarpun mekso hehe.

    Itu kayaknya nggak pacaran sih. Cuma nongkrong doang XD

    April 5, 2015, 8:03 am
black or blue alison

Namanya udah Nur, Cahyo pula. Mungkin blio emang terlahir untuk deket2 ama lampu :). Suka banget dengan caramu menebar sindiran dan satir di hampir tiap paragrafnya, realitas yg memang bikin mbleneg. Oya, saya nemu banyak banget tanda seru, sampe kadang berasa kalo naratornya lagi marah-marah. Kalo hanya unyuk penegasan IMO, gak perlu di tiap paragraf juga. Seperti kata laknat di akhir itu yang pake capslock, sebaiknya pake huruf kecil karena gak mengubah maknanya kok :). Lain dari itu, ini cerpen apik banget sampe bikin saya geregetan sama tetangga dan Pak RT geblek. Pantaslah kiranya jadi juara.

Semoga berkenan, salam kenal ya Gusti.

April 4, 2015, 7:32 pm
    Gusti A.P. Gusti A.P.

    Hai Alison XD Salam kenal juga πŸ˜€ Terimakasih atas apresiasinya buat Lampu Jalan :)

    Hehehe… Ya, aku pas nulis juga terlalu menghayati sih XD Tapi yang penting atmosfer ceritanya pas kan hihihi πŸ˜‰

    April 5, 2015, 8:01 am
Naomi-Leon naomi-leon

Hai Kak,

WOW BAGUS BANGET #merinding

Beda bgt sm style penulisan karya2 Kakak yg lain. Jadi inget cerpen2 sastra ala Putu Wijaya. Tapi aku jd putus asa baca cerpen2 smcam ini. Ga ada bounce backnya. Si tokoh utama udah sial, tambah sial lagi. Minimal Pak RT dicemplungin di got dong *request* πŸ˜€

5 bintang melayang….

February 21, 2015, 1:05 pm
    Gusti A.P. Gusti A.P.

    Wah, kau ke sini juga XD Makasih banyak yaaa :) Iya, karena sebenarnya ditulisnya sudah lama. Tapi diedit bagian dalemnya. Ini memang ditulis ala cerpen koran (walau belum ada koran yg mau muat TvT *tersenyum pedih).

    Hihihi, nulisnya habis baca kumcer Kompas sih. Kok ya kebetulan ceritanya ttg kesialan dan ketidakbahagiaan semua. Ngaruh deh. C’est La Vie XD

    February 21, 2015, 2:01 pm
saya comnvra

saya suka realisme. berhasil dihadirkan di sini dengan lugas.
ceritanya kena. nyatanya orang kita emang suka banget mendelegasikan kerjaan macam gitu ke orang tertentu, lalu dibayar pake kata-kata lamis doang. termasuk saya. :p

voted. collected.

February 20, 2015, 11:28 pm
    Gusti A.P. Gusti A.P.

    Hai Vra XD Thanks a lot buat apresiasinya πŸ˜€ Senang karena pesannya berhasil tersampaikan πŸ˜€

    February 20, 2015, 11:44 pm
1 2

  
Powered by Gramedia Pustaka Utama