Ingat saya
Cover



dibuat : Friday, 15 December 2017 11:36 pm
diubah : 6 bulan yang lalu
vote cerita :
2 votes, average: 3.50 out of 52 votes, average: 3.50 out of 52 votes, average: 3.50 out of 52 votes, average: 3.50 out of 52 votes, average: 3.50 out of 5 (2 votes, rata-rata: 3.50 dari 5)
Anda harus masuk untuk memberikan rating cerita ini.
Loading ... Loading ...
  Tag


  Kategori

FrankFurt

Kumpulan Kisah Ringkas yang Tidak Berarti Sama Sekali

SINOPSIS

Hikayat Kamar Mandi

Daun pintu bergayut pada rangka plastiknya. Moko melihatnya tampak seperti burung jalak pada punggung kerbau atau ikan-ikan remora di perut hiu. Tapi ia tak tahu simbiosis jenis apa yang dilakukan daun pintu tersebut. Yang ia tahu, ialah penyebabnya.

Mayat seseorang yang ia kenal betul tergeletak di ambang pintu di hadapannya. Dan Moko, dengan kedongkolan murni, menganggapnya sebagai perkara yang pantas diabaikan. Sementara itu, tempurung kepalanya memeras organ di dalamnya dan, ia mendapati kesimpulan bahwa sebaiknya, orang-orang menganggap kejadian barusan sebagai pelajaran penting.

Moko tak bermaksud membunuhnya. Tetapi di sisi lain, ia punya prinsip yang sudah sekian tahun ia pegang benar. Membunuh dan melanggar prinsip baginya bukanlah dua hal yang dapat diperbandingkan. Membunuh bisa saja sebagai bentuk lepas kendali diri. Tapi melanggar prinsip hidup, baginya, tolol belaka kalau orang melakukannya.

“Kalau orang itu tidak kuhentikan menggedor-gedor pintuku, ia pasti akan menggedor-gedor pintumu di lain waktu dan terus seperti itu,” kata Moko kepada seseorang di sampingnya yang menjadikan mayat di hadapannya sebagai tontonan.

“Masalahnya?” tanya orang itu.

“Ia tak pernah membaca kitab suci,” jawab Moko.

“Bukan. Tahimu belum kausiram,” kata orang itu.

Surat Botol

Di tumpukan sampah yang membendung parit, Argus Panoptes melihat sebuah botol anggur Eagle Hawk: Cabernet Sauvignon. Penasaran dengan keberadaan botol itu, ia mengambil dan memerhatikannya. Di dalam botol tersebut, terdapat sebuah gulungan kertas kecokelatan. Surat botol, gumam Argus.

Rasa penasaran kedua membisikkan perintah untuk membuka botol di tangannya. Argus membuka botol itu. Lalu dikeluarkannya gulungan kertas dari botol tersebut. Ia buka gulungan kertas itu, kemudian membacanya:

“Kau tolol dan karena kau tolol, kau menjadikan rasa penasaran sebagai penentu keputusan. Kau tolol dan karena kau tolol, kau membuat setiap perkara yang kautemui adalah ‘milik’ dengan kekuasaan penuh. Kau tolol dan karena kau tolol, kau menganggap setiap ‘kemungkinan’ yang kautemui adalah dua hal yang menjadikanmu hakim di atasnya. Kau tolol dan karena kau tolol, kau bersikeras kalau kau adalah satu-satunya organisme yang memiliki ‘hak’. Dan kau tolol dan karena kau tolol, kau tidak menjadikan ‘berpikir’ adalah ‘hak’ yang selalu dan seharusnya melekat di dalam kepalamu.”

Orang Asing di Sudut Jalan Sepi

Kretek kelima tinggal 1,258 cm saat aku sadar ada orang asing di sudut jalan sepi sekitar tiga puluh langkah dari tempatku berjongkok sedang melihatku dengan pandangan bertanya-tanya. Aku jadi ingat sebuah teks yang kutulis soal cara pandang seseorang beserta maksud yang terkandung di dalamnya.

“Orang yang melihatmu demikian adalah orang yang melihatmu demikian adalah orang yang melihatmu tidak demikian.” Begitulah sedikit bagian dari teks yang sekarang entah di mana keberadaannya atau mungkin, memang tak pernah ada sebelumnya.

Sesaat setelah aku membuang-buang waktu dan kemampuan berpikir, orang asing di sudut jalan sepi itu sudah pergi entah ke mana atau pergi dijemput siapa, aku tidak tahu. Tidak penting, memang. Tapi sebagaimana orang yang tingkat konsentrasinya berada di bawah telapak kaki, aku tetap memikirkannya sambil memantik kretek keenam setelah kutemukan mancis yang terjatuh dan teronggok di belakang sepatuku.

Orang asing di sudut jalan sepi itu, kalau aku tidak salah lihat atau tidak salah ia mengenakan pakaian yang akan kusebutkan, memakai flanel hitam motif kotak-kotak kecil perpaduan garis putih dan merah dan celana jins biru keabu-abuan dan sepatu Converse Chuck Taylor All Star hitam yang mungkin ia kira orisinil karena kalau dilihat dari gayanya, ia memiliki kepercayaan diri yang cukup dengan setelan tersebut atau, ia kelewat terburu-buru dan menjadikannya tampak seperti orang kebingungan bahkan dalam hal memadukan pakaian.

Sebetulnya aku ingin menyapanya lebih dulu sebagai bentuk orang yang cukup pengetahuan soal hubungan manusia-dengan-manusia. Tetapi, sebelum sapaan “Assalamualaikum” atau sekadar panggilan “Mas” sambil disertai senyum, orang asing di sudut jalan sepi itu sudah pergi entah ke mana atau pergi dijemput siapa.

Setelah diam beberapa detik dan seperti yang sudah kukatakan kalau tingkat konsentrasiku berada di bawah telapak kaki, aku kembali diam saja sambil masih mengapit kretek keenam yang masih mengepul di sela-sela jari telunjuk dan jari tengah tangan kiri sambil sesekali membuang ludah.

Orang asing di sudut jalan sepi itu masih menghilang setelah sebelumnya sebuah mobil jenis MPV warna hitam kembali melanjutkan perjalanan. Aku bangkit untuk kemudian berjalan dan menyandung sebuah botol anggur merah yang sudah kosong.

Masalah Besar

Sembari mengencangkan sabuk, aku keluar dan membanting pintu dengan ketidakpedulian bahwa yang baru saja kutinggalkan adalah kamar kontrakanku. Papan kecil bertuliskan: “Ketuk sebelum masuk. Tutup setelah keluar.” terjatuh dan gemanya memenuhi koridor dan menggelikan.

Empat puluh lima detik sebelumnya, kau bilang padaku:

“Kau bahkan tak tahu seperti apa pentingnya sebuah kenikmatan. Aku bukan pembanding, memang. Tapi dengan keadaanmu yang demikian menyedihkan, mending kau belajar dulu meluruskan tanganmu. Sikumu terlalu lentur dan pinggangmu seperti cuma berisi tulang tanpa sendi. Aku menerima ajakan pacaran darimu karena sebelumnya, di kantor, kudengar kalau barangmulah yang paling besar.”



   0 komentar     |        117 views

Untuk melaporkan cerita ini kamu harus masuk dulu.

Tinggalkan komentar

Anda harus masuk untuk meninggalkan komentar


komentar :

  
Powered by Gramedia Pustaka Utama