Ingat saya
Cover



penulis : Ayunnia Zahaav
dibuat : Friday, 13 April 2018 5:34 pm
diubah : 4 bulan yang lalu
vote cerita :
1 vote, average: 5.00 out of 51 vote, average: 5.00 out of 51 vote, average: 5.00 out of 51 vote, average: 5.00 out of 51 vote, average: 5.00 out of 5 (1 votes, rata-rata: 5.00 dari 5)
Anda harus masuk untuk memberikan rating cerita ini.
Loading ... Loading ...
  Tag


  Kategori

FrankFurt

Kakak Ipar

SINOPSIS

Gemercik hujan setetes demi setetes menyelinap ke dalam kamar. Sengaja Bayu membuka jendela kamarnya supaya dapat melihat hujan secara langsung.

Akhir-akhir ini Bayu sengaja menghabiskan waktunya di dalam kamar setelah pulang kerja. Walaupun anaknya yang masih berusia satu tahun sering merengek minta di kawani main bola di halaman. Sudah hampir sebulan Bayu tidak terlihat seperti biasanya. Bayu yang dulu periang, penyayang, banyak cerita, dan selalu memanfaatkan waktu senggangnya untuk berkumpul dengan Sasa istrinya, Arda anaknya dan seorang wanita tua yang sudah hampir sepuluh tahun menjada, Marni kakak ipar Bayu.
“Mas, makan yuk? Sudah Sasa siapin di dapur.” Sontak suara Sasa membuyarkan lamunan Bayu di tengah riuhnya hujan yang semakin lebat.
“Oh.. ya sayang.” Bayu membuntuti istrinya ke meja makan.
Semua makan tanpa bersuara satu patah kata pun. Sibuk dengan makanan dan fikiran masing-masing.
“Uhuuukk…uhuukkk…uhuukkk….”
“Mbak nggak apa-apa?” Tanya Sasa mendengar batukan kakaknya.
“Nngak.” Jawaban singkat Marni sambil mengambil segelas air dan beranjak dari meja makan.
Setelah selesai makan malam, Sasa membersihkan dapur kemudian menyusul Bayu ke kamar.
“Mas, Sasa tau mas banyak kerjaan di kantor. Pulang udah capek dan pengen istirahat. Tapi…”
“Sayang, mas sayang Sasa dan juga Arda. Mas hanya ingin kasih yang terbaik buat kalian berdua. Maafkan mas kalau akhir-akhir ini mas sering buat kalian kecewa. Maafkan mas.” Lirih Bayu setengah bisik ke telinga Sasa yang berada dalam pelukannya. Sasa tidak berkata apapun lagi, hanya membalas pelukan suaminya yang begitu ia cintai.

***
Kring..kring..kring…
“Halo, kenapa sayang?” Tanya Bayu setelah baru saja meninggalkan ruang meeting.
“Halo mas, dari tadi kok nggak di angkat teleponnya?”
“Mas lagi rapat sayang, kenapa? Kok menangis?” Tanya Bayu mendengar isakan istrinya.
“Mbak Marni mas, Mbak Marni masuk rumah sakit.” Tamgisam Sasa semakin kuat.
“Astaga… iya…iya, mas segera ke sana. Kamu tenang ya sayang.” Tanpa menunggu jawaban Sasa lagi, Bayu menutup telepon dab bergegas ke rumah sakit.
“Mas.” Sasa memeluk Bayu.
“Tenang sayang ya, sekarang Mbak Marni dimana?”
“Dia sedang diperiksa oleh dokter mas.” Sasa masih terisak.
“Sasa nggak mau kehilangan Mbak Marni mas, Mbak Marni adalah orangtua Sasa satu satunya setelah ibu dan ayah meninggal..” Bayu membelai rambut Sasa dan berusaha membuatnya tenang.
Tak lama berselang, dokter keluar dari ruangan Marni.
“Bagaimana kakak saya dok?”
“Dengan berat hati saya harus menyampaikan ini. Bu Marni mengidap penyakit Arteri koroner atau penyakit jantung iskemik. Keterlambatan pemanganan membuat kami tidak bisa melakukan yang terbaik.” Jelas dokter.
“Kenapa kakak saya dok? Dia nggak meninggal kan dok?” seolah Sasa nggak menerima penjelasan dari dokter.
“Bu Marni belum meninggal, setelah didiagnosa usia Bu Marni tidak lebih dari sebulan lagi bu.”
Pernyataan dokter tersebut membuat Sasa terpukul, dia merasa gagal menjadi adik yang baik. Dari hari itu, Sasa selau membawa Marni keliling-keliling taman rumah sakit di sisa umur Marni. Sementara Bayu hanya sesekali datang, itu pun jika diminta oleh Sasa.
“Sa, Mbak ingin pulang.”
“Iya, kita akan pulang, tapi mbak sembuh dulu ya? Sasa janji, apapun yang mbak minta, Sasa kabulkan tapi dengan syarat mbak harus semangat untuk sembuh.”
“Mbak mau pulang sekarang, Sasa!!”Ucapan Marni membuat Sasa tidak punya pilihan lain. Setelah dapat izin dari pihak rumah sakit, akhirnya Marni dibawa pulang ke rumah.

***

“Mbak, hari ini kan hari Minggu. Kita jalan-jalan ya? Tapi Sasa ke pasar dulu beli perlengkapan kita. Mbak tunggu disini ya?” Marni manggut tanpa bersuara.
Seperti biasa, tipap pagi, Bayu menatap pemandangan luar darti celah jendela kamarnya. Arda masih pulas di ranjang kecilnya di sudut kamar. Tiba-tiba suara pintu terbuka didengar oleh Bayu.
“Mbak Marni? Ada yang bisa Bayu bantu? Mbak mau apa biar Bayu ambilin?” kata Bayu mendekati Marni.
“Tidak perlu.” JAWAB Marni singkat sambil menutup pintu dan menguncinya dengan susah payah. Perlahan dia memutar kursi rodanya lebih dekat ke Bayu. Hal itu membuat Bayu menelan ludah beberapa kali.
“Bayu, kamu ingat permintaan saya dua bulan lalu kan?”.
Akhirnya, pertanyaan yang selalu dihindari Bayu terulang lagi.
“Sekarang umurku tinggal beberapa hari lagi. Ini permintaan terakhirku Bayu. Tolonglah, aku sangat mencintaimu, kasih aku kesempatan untuk merasakan cintamu.” Perlahan telapak tangan Bayu di raih oleh Marni.
Bayu semakin panik. Hal inilah yang selama dua bulan terakhir menggulung di fikiran Bayu. Dia tidak habis fikir, sejak menjanda, Marni memilih untuk tinggal bersama Sasa adik tunggalnya, tentu juga dengan Bayu dan Arda. Awalnya Bayu senang karena dia sudah menganggap Marni sebagai orang tuanya sendiri. Marni memang baik, sesekali juga dulu Marni mempersiapkan sarapan dan keperluan kantor Bayu ketika Sasa mengandung dan kemudian sibuk mengurus Arda. Tidak ada kecurigaan apapun di benak Bayu sampai dua bulan lalu Marni menyatakan cintanya pada Bayu.
“Bayu???” tiba-tiba Marni meraba dada Bayu. Bayu panik nggak ketulungan.
“Mbak, Bayu sudah menganggap mbak sebagai orangtua Bayu sendiri. Nngak mungkin Bayu ngelakuin hal-hal yang tidak wajar mbak.” Bayu berusaha lembut, karena melihat kondisi Marni yang lemah.
“Tolonglah Bayu… aku tidak meminta apapun darimu. Dan aku tidak akan cerita pada Sasa. Aku hanya ingin merasakan cintamu walau hanya sebentar saja. Tolonglah Bayu.” Tanpa diduga Marni mulai membuka kancing bajunya.
“Mbak.. mbak…” Bayu berusaha menahan.
“Tunggu apalagi Bayu, mumpung Sasa nggak ada.” Suara Marni sebenarnya lemah, tapi bagi Bayu itu seperti suara dari neraka.
“Istigfar mbak, istigfar..” tak ada pilihan lain, Bayu terpaksa melompat dari jendela untuk menghidari Marni.
Keesokan hariny, penyakit Marni kian parah. Sesuai diagnosa dokter, umur Marni tinggal dua hari lagi. Marni dibawa kembali ke rumah sakit. Bayu tidak memberi tahu sedikit pun pada Sasa tentang apa yang sudah terjadi, ia takut akan ada masalah baru lagi kalau ia cerita.
“Dok, gimana keadaan kakak saya dok?” Harapan besar terlihat dari raut wajah Sasa agar kakaknya tetap hidup.
“Dia sudah siuman, tapi mungkin ini pertemuan terakhir, jadi tolong manfaatkan dengan baik.” Sasa langsung menerobos masuk, meninggalkan Bayu yang memilih untuk tetap di luar. Tak lama berselang Sasa keluar dari ruangan.
“Mas, kenapa nggak masuk? Mas ini kenapa sih? Ini kesempatan terakhir kita ngobrol dengan Mbak Marni. Atau jangan-jangan mas seneng Mbak Marni meninggal, biar nggak ngerepotin mas lagi? Gitu?” kecurigaan muncul di hati Sasa melihat sikap suaminya.
Bayu langsung memeluk Sasa.
“Mas sayang kamu Sasa, mas sayang kamu.”
“Kalau gitu, ayok masuk.” Kata Sasa sambil menarik tangan Bayu.
Senyum yang menurut Bayu mengerikan terpapar diwajah Marni setelah melihatnya di ruangan itu.
“Bayu.” Marni memanggil.
“Mas, Mbak Marni memanggil tuh, kok nggak nyahut?” kata Sasa.
“Oh, Ya mbak?” terpaksa Bayu menyahut.
“Masih ingat……..”Suara Marni terpotong oleh dering telepon Sasa.
“Sebentar ya mbak, Sasa angkat telepon dulu.” Sasa lalu meninggalkan ruangan itu. Tinggallah Bayu dan Marni dalam suasana menegangkan. Bayu tidak menatap wajah Marni, dia berusaha menjauh duduk di sofa sambil membaca koran yang telah disediakan.
“Bayu?”
Darah Bayu mengalir kencang mendengar manamanya dipanggil.
“Ini permintaan terakhirku. Tolong sentuh aku. Aku ingin menikmati akhir hidupku dalam pelukanmu. Aku ingin merasakan hangatnya tubuhmu.”
“Tidak penting bagiku permintaan apapun ini.” Bayu membentak sambil berdiri.
“Aku tidak akan memberikan apapun dari diriku pada siapapun selain istriku. Apalgi dengan permintaan yang menjijikkan ini. Faham !!!!”
Seketika mesin pendeteksi berbunyi sangat kencang. Pertanda Marni mengalami kritis, setelah mendengar bentakan Bayu. Tubuhnya menggeliat-geliat kesakitan dan kemudian diam.
“Mas?” Tiba-tiba Sasa ada di pintu diikuti segerombongan dokter dan suster untuk memeriksa keadaan Marni. Sasa menatap Bayu dengan mata berkaca-kaca.
“Sasa…! Maafkan mas, mas salah. Maafkan mas.” Pelukan Bayu mendara di tubuh Sasa.
“Mas, Sasa yang saeharusnya minta maaf. Sasa sudah buat mas tertekan selama ini karena mbak Marni. Sasa sudah mendengar semuanya. Maafkan Sasa Mas.” Tak henti air mata mengaliri pipi keduanya.
“Maaf, pak, bu. Kami sudah melakukan yang terbaik, tapi Tuhan berkehendak lain. Yang tabah ya bu, pak.” Kata empati pertama untuk kepergian Marni.
Bayu kembali memeluk Sasa dengan erat.
“I love you Sasa, maafkan Mas.”
Keduanya lalu larut dalam pelukan antara kesedihan dan kegembiraan atas kepergian Marni, kakak ipar Bayu.



   0 komentar     |        220 views

Untuk melaporkan cerita ini kamu harus masuk dulu.

Tinggalkan komentar

Anda harus masuk untuk meninggalkan komentar


komentar :

  
Powered by Gramedia Pustaka Utama