Ingat saya
Cover



penulis : dewilinggasari
dibuat : Monday, 01 May 2017 10:50 am
diubah : 6 bulan yang lalu
vote cerita :
0 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 5 (0 votes, rata-rata: 0.00 dari 5)
Anda harus masuk untuk memberikan rating cerita ini.
Loading ... Loading ...
  Tag


  Kategori

FrankFurt

“J E J A K ‘

SINOPSIS

Sekapur Sirih

 

Catatan Perjalanan yang terangkum dalam satu judul “Jejak” ialah sebuah reportase yang mungkin bersifat lebih pribadi, dalam arti emosi serta harapan si penulis ikut serta melarut dalam setiap keping liputan yang selayaknya disuratkan. Catatan ini merupakan kesimpulan dari serangkaian kerja penulisan teramat panjang yang hanya berakhir bila roh yang menggerakkan tangan penulis tak mendapatkan ijin lagi untuk menyatu dalam raga. Menulis adalah suatu aktivitas berat yang tak mudah dihentikan, mula-mula adalah hobi, perlahan-lahan menjadi obsesi, kerja keras, dan akhirnya rutinitas yang menyertai kehidupan sehari-hari. Setiap orang dapat berbagi pengalaman dengan banyak cara, menghadirkan catatan ke tangan pembaca adalah salah satu upaya.

Pada Oktober 2013 rekan fotografer Anton Bayu Samudera berkunjung yang ketiga kali ke wilayah Asmat untuk mengabadikan ivent Pesta Budaya yang ke-29. Ia berniat menghadirkan reportase yang lebih spesifik tentang Asmat, ialah Buku Foto yang dilengkapi dengan teks. Saya mendukung gagasan termaksud, tentu saja dengan upaya cermat membagi waktu dan konsentrasi untuk hunting, menyusun teks, mengkordinir beberapa fotografer serta menempuh hari-hari panjang sebelum reportase tersebut layak diterbitkan. Tujuh bulan kemudian tepatnya pada Juni 2014 kami bertemu di Jakarta setelah beberapa kali telepon dan sms untuk menyatukan waktu, karena kesibukan yang terhindarkan.

Maka hari itu, kami terjebak di jalanan yang macet dari Pancoran menuju Palmerah Selatan untuk menemui Kepala Redaksi Penerbit Buku Kompas, Mulyawan Karim. Suasana macet sungguh “memilukan” bagi setiap orang yang dikejar waktu. Saya terbahak dengan gaya hidup abang dan none Jakarta yang lebih banyak kehilangan waktu dalam perjalanan dari pada di tempat tujuan, “Siapa suruh datang Jakarta?” Saya pun teringat akan wacana geografi dari M Baiquni terbit 2004 untuk memindahkan ibu kota negara ke luar Jawa, mungkin ke Kalimantan, mengingat Jakarta sudah terlalu padat, macet, banjir dengan udara yang polusi. Layakkah presiden dan jajaran kabinet menetap kemudian melaksanakan tugas-tugas negara di tempat yang sesak semacam ini?

Sementara situs-situs pengembangan masyarakat mesti dibangun di seluruh kepulauan dalam rangka pemerataan serta keadilan. Menurut hemat saya, presiden dan seluruh jajaran kabinet selayaknya menetap pada suatu wilayah dengan tata kota seperti Kuala Kencana, kota terindah di Indonesia yang dibangun dengan hasil emas Freeport. Tata kota yang elegan, kolaborasi antara kecanggihan teknologi  serta kehijauan alam, hutan yang luas membentang, meciptakan suatu kultur yang sejuk yang memberikan kemungkinan bagi kepala negara beserta seluruh jajarannya untuk bekerja dengan optimal kemudian  memberikan yang terbaik bagi rakyatnya.

Jalanan masih jua macet, saya cuma tersenyum sambil merasakan tulang punggung yang mulai terasa ngilu, karena terlalu lama duduk di taksi. Jakarta demikian luas, seorang “musafir” tiba-tiba merasa dirinya terlalu kecil, nyaris tak berdaya di tengah himpitan jutaan manusia yang berjuang bagi kehidupannya. Akan tetapi, perjalanan yang dirundung macet akhirnya sampai juga pada tujuan. Jalan Palmerah Selatan adalah alamat dasyat yang saya kenal sejak kana-kanak dari majalah Bobo, dimana kiranya tempat itu berada dan siapa orang-orang yang berwenang di dalamnya, bagaimana mereka bekerja keras sehingga dapat memperoleh kewenangan itu? Pertanyaan itu pernah berkecamuk dan masih tetap berkecamuk dalam pikiran hingga hari ini.

Saya merasakan sebuah hari yang membawa perjalanan mengesankan ketika memasuki halaman Gramedia kemudian melewati pintu masuk Kompas Gramedia dan sesaat kemudian saya bersama Anton telah berada di dalam relung gedung dengan kolaborasi gaya kuno sekaligus kontemporer. Tak lama kemudian kami telah duduk dengan Kepala redaksi Penerbit Buku Kompas, Mulyawan Karim yang dipanggil akrab dengan sebutan Bang Muke. Perkenalan yang singkat dan akrab terjadi, saya berikan beberapa judul buku tentang Asmat serta novel yang pernah saya terbitkan. “Berapa lama Bu Dewi tugas di Papua?” Bang Muke bertanya.

“Dua puluh tahun”, saya menjawab.

“Dua puluh tahun?” Bang Muke tampak heran dan nyaris tak percaya.

“Saya ke Papua pada tahun1994 sampai sekarang dan entah kapan, mungkin sampai akhir tugas sebagai PNS”.

“Mengapa tidak menerbitkan satu buku yang berisi tentang pengalaman perjalanan yang mengisahkan banyak tempat dengan aneka budaya yang berbeda pula?” ide tersebut tiba-tiba terucap oleh Bang Muke.

Saya terhenyak dengan ide tak terduga itu, dalam pembicaraan yang bersahabat selanjutnya saya berfikir dan tetap berfikir untuk membagi waktu, konsentrasi serta bekerja keras menyusun kata-kata hingga menjadi kalimat, paragraf, halaman, bab, dan berakhir menjadi sebuah judul yang layak diterbitkan. Terlalu gegabah untuk tidak menanggapi ide Bang Muke, saya bahkan menggali ulang ingatan akan masa kanak-kanak yang mengesankan di Perkebunan Teh Kaligua Banyumas, masa remaja di Kota Batik Pekalongan, masa kuliah di Jurusan Antropologi UGM Yogyakarta, sebelum akhirnya memulai perjalanan panjang ke Papua.

Setelah minum kopi, berbincang-bincang mengenai seluk-beluk penerbitan buku akhirnya kami berpamit dan kembali terjebak ke dalam jalanan yang macet. Bang Tito, seorang rekan ikut pula bergabung, ia telah menjual motor dan mobil, karena merasa gamang dengan situasi jalan raya yang semakin padat dan memilih menumpang kendaraan umum untuk mobilitas di dalam kota. Berulang kali Bang Tito berkeluh kesah dengan kemacetan yang sering kali membakar darah hingga mendidih. Saya kembali terbahak-bahak, “Kami di Papua dalam hal ini merasa lebih nyaman, hutan luas membentang memberikan udara segar, penduduk amat jarang, di Asmat kami bahkan tak pernah tahu apa yang namanya macet, dari rumah ke kantor dengan motor listrik hanya lima menit, ha … ha … ha ….”

Sampai di pemberhentian bus Bang Tito berhenti, kami melambai kemudian taksi kembali merayap menyusuri jalan yang tak pernah sunyi. “Sangat baik menerbitkan biografi dalam bentuk catatan perjalanan”, Anton memberikan pendapat. Tanpa sadar aku mengangguk, sebuah gerak ringan bagi jawaban yang berkonsekuensi besar. Akan tetapi, seorang penulis harus mampu menanggung konsekuensi itu.

Bila akhirnya saya bisa menyelesaikan buku ini dan berbagi pengalaman yang mungkin tak pernah dirasakan siapapun, maka saya selalu berharap, bahwa pengalaman –betapa pun pahit– selalu menjadi guru yang baik. Semakin hari manusia semakin bertambah umur dan semakin bertambah dewasa, dan harap bijak mensikapi setiap peristiwa. Bahkan malam terpanjang pun akhirnya akan runtuh di ambang fajar. Betapa susah dan senang, suka dan duka hanya dua bersaudara yang senantiasa bersisihan dan bergantian hadir seakan siang dan malam, seperti halnya gelombang air laut, sesaat pasang kemudian surut.

Adakah yang harus disesali? Setiap  jejak perjalanan meninggalkan kisah tersendiri dalam sebuah nilai yang wajib disyukuri. Semoga buku ini dapat menjadi manfaat dan inspirasi.

Selamat Membaca ….

 

 

 

Dewi Linggasari

 



   0 komentar     |        123 views

Untuk melaporkan cerita ini kamu harus masuk dulu.

Tinggalkan komentar

Anda harus masuk untuk meninggalkan komentar


komentar :

  
Powered by Gramedia Pustaka Utama