Ingat saya
Cover



penulis : Ando Ajo
dibuat : Thursday, 21 May 2015 2:26 pm
diubah : 2 bulan yang lalu
vote cerita :
3 votes, average: 4.67 out of 53 votes, average: 4.67 out of 53 votes, average: 4.67 out of 53 votes, average: 4.67 out of 53 votes, average: 4.67 out of 5 (3 votes, rata-rata: 4.67 dari 5)
Anda harus masuk untuk memberikan rating cerita ini.
Loading ... Loading ...
  Tag


  Kategori

FrankFurt

ISS-45. When the Terra Going Down

SINOPSIS

Bagaimana bila tanah tempat kau berpijak, tak lagi bisa ditanami? Atau aliran air yang hanya menyisakan kubangan racun, polutan, hingga kau harus menyabung nyawa demi setetes kesegaran? Bagaimana bila alam tak lagi bersahabat? Bukan padamu saja, pada tumbuhan yang merangas, pada hewan yang satu per satu punah.

Bagaimana, jika bumi tak lagi bisa ditempati, tiada sejengkal tanah yang bisa ditinggali, tiada bisa menaruh harapan?

Bagaimana, bila bumi tak lagi bisa memberi kehidupan?

Di masa mendatang. Lonjakan penduduk dunia mencapai batasnya. Setiap jengkal tanah yang ada, menjadi perebutan. Tetanggamu, geng yang mengatasnamakan persaudaraan, pemerintahmu, bahkan negara-negara superpower. Tidak ada lagi hukum dunia soal moral dan lainnya, yang ada; kekuatan senjata dan persekutuan. Kau suka, kau rebut.

Masalah sosial menjadi pemandangan keseharian. Kau akan berpikir untuk tidak mengacuhkan apa yang ada di hadapan. Yaa, kecuali, jika yang ada di hadapanmu sesuatu yang sangat kau butuhkan. Kebanyakan, tanpa permisi atau meminta.

Kau lihat, kau rebut. Beres. Dan hidupmu akan bertambah sehari lagi. Yaa, jika kau tidak mengalami kendala berarti.

Tahu yang kumaksud?

Keroyokan. Pukulan bertubi-tubi yang mendera kepalamu, punggungmu, dadamu, perutmu, sekujur tubuhmu. Atau, rentetan timah panas yang siap mencabut nyawamu seperti kau menginjak tikus got. Tidak berharga sama sekali. Dentuman peledak rakitan yang siap melumat tubuhmu menjadi daging cincang.

Kau pikir itu tidak sepadan?

Jangan bercanda!

Kau tidak hidup di zaman aku dilahirkan ini. Jika iya, aku rasa, kau juga akan dengan senang hati merampas milik mereka-mereka yang tak berdaya.

Jangan munafik!

Aku sangat yakin, kau pun tidak akan segan-segan menikmati tubuh saudaramu sendiri, meniduri saudarimu sendiri. Aku tidak bercanda. Yaa, kau mungkin akan gila, dan menjadi kanibal juga sebagaimana mereka-mereka yang terbuang. Dibuang oleh mereka-mereka yang bertaring. Berkuasa.

Tidak ada lagi pepohonan yang bisa kau lihat, tempat kau bernaung dari terik mentari, atau sekadar memejamkan mata menikmati hembusan angin, membaca novel percintaan. He-eh, Pangeran Berkuda? Putri Tidur? Cinderella? Kau pikir bisa menikmati itu? Tidak ada sebatang pohon pun yang bisa kau jadikan sandaran. Tidak juga sebatang kecil ilalang. Rumput. Yang ada hanya kekeringan di mana-mana. Tanah tandus yang akan menerbangkan kabut-kabut tebal saat angin panas berhembus.

Tidak ada yang tersisa di lautan. Sampah-sampah yang bertumpuk menjadi pulau-pulau kecil, lambat-laun saling bertaut, hingga kau bisa dengan bebas berlarian, bermain bola di atasnya. Laut tak lebih dari timbunan racun.

Kebutuhan akan tempat tinggal, makan, demi hidup, membuat semua orang tidak lagi mengindahkan ekosistem, lingkungan. Satu-satunya alasan kau bisa bernapas berpijak di bumi yang gersang, adalah; ganggang laut dan saudara-saudarinya yang masih setia menyediakan oksigen. Dan itu pun kau tidak bisa berharap banyak. Setiap sepuluh langkah, kau akan menemui mereka-mereka yang menderita pernapasan. Oksigen yang menipis. Bergulung di sudut-sudut bangunan usang. Atau terkapar sebab tak seorang pun akan mengacuhkan. Tergolek tak bernyawa di tengah jalan.

Yaa, ada beberapa tempat di bumi yang masih hijau asri. Terlindung tembok-tembok tebal dan tinggi, lengkap dengan para penjilat yang menjaga di balik barikade-barikade tajam berduri, senapan laras panjang. Istana-istana, kastil-kastil yang dinaungi kaca-kaca tebal anti peluru. Peranti-peranti canggih termutakhir yang akan memerangkap oksigen bagi penghuninya saja, dan membuang karbon dioksidanya pada mereka yang terbuang, padamu.

Kau menunggu hujan, membasahi tenggorokanmu yang kering, dahagamu yang menyiksa? Kuberi tahu, jangan berharap! Di seluruh belahan bumi, hujan turun tidak lebih dari sepuluh kali dalam setahun. Bisa kau bayangkan? Baiklah, kuanggap kau bisa. Kuberi tahu lagi, hujan tak lagi pernah sama. Air yang kau tampung telah terkontaminasi. Sulfur, bahan bakar fosil, dan nitrogen yang akan menghasilkan sulfur dioksida dan nitrogen oksida. Kau pikir masih bisa bertahan? Baiklah, bagaimana bila kukatakan jika alam memberikan perlawanan? Bumi marah dan menyerang balik umat manusia?

Kau tidak percaya? Kuberi tahu, bumi memerintahkan atmosfer untuk meramu racun bersama hujan dan kedua zat tadi. Hingga di dalam air hujan yang kau tunggu itu terkandung asam sulfat dan asam nitrat.

Kau masih akan menunggu curahan air yang tak lebih dari hujan asam itu? Melepaskan dahagamu?

Aku rasa kau lebih gila daripada kami.

Bagaimana?

Yaa, aku rasa kau akan berharap hidup di zaman di mana pandangan filosofis dan intelektual berhimpun menjadi kesatuan. Sanātana-dharmaBelajar tentang moralitas kehidupan sehari-hari yang berdasarkan pada; karma, darma, dan norma. Kau tahu yang kumaksud? Hindu.

Atau kau berharap hidup di zamannya Konfusius masih berdiri tegap. Mendengarkan setiap ajaran yang ia bawa. Belajar tentang filsafat hidup. Moralitas pribadi dan sistem pemerintahan. Atau sekadar syair-syair merdu nan membuai.

Atau berharap bisa mendengar suara Siddhartha Gautama yang mengajarkanmu jika hidup adalah saling bergantungan, membutuhkan satu sama lain. Lengkap melengkapi. Mengajarkanmu Delapan Jalan Kebenaran, Samsara, saling berbagi kasih atas nama kebaikan.

Atau mungkin kau ingin duduk bersama, mendengarkan Isa putra Maryam atau Jesus berkhotbah. Mengajakmu ke jalan kebaikan. Mungkin pula kau berharap hidup di zaman di mana Muhammad putra Abdullah berdakwah menyampaikan risalah Tuhan.

Kau terlambat sobat, terlambat. Mereka sudah terlalu jauh kau tinggalkan. Kau mungkin berharap dunia ini kiamat saja. Sama, mereka-mereka yang terbuang juga berharap yang sama.

Sepertiku…

 

 

———————————————————————————————————————————————–

Sumber ilustrasi; http://2.bp.blogspot.com/-TA99QpmyHWc/UZZG7yD1EfI/AAAAAAAAAOg/YvVL8r6jXKI/s1600/wallpaper-supernova.jpg

 

Catatan;

 

Terra: nama lain dari Bumi, dari bahasa Latin.

Polutan: bahan-bahan yang mengakibatkan terjadinya polusi.

Karbon Dioksida: CO2 ; Zat Asam Arang; senyawa karbon dengan oksigen, berupa gas tanpa warna, lebih berat dari udara, tidak terbakar, dan larut dalam air.

Sulfur: massa getas berwarna kuning, tetapi juga dapat berbentuk lain. Belerang. Unsur atom 16, berlambang S, dan bobot atom 32,06.

Nitrogen: Zat Lemas; gas tidak berwarna, tidak berasa, tidak berbau, dan tidak beracun. Unsur atom 7, berlambang N, dan bobot atom 14,0067.

Sulfur Dioksida: SO2 ; senyawa kimia yang merupakan gas beracun dengan bau menyengat. Akibat aktifitas gunung api dan beberapa pemrosesan industri. Batu bara dan minyak bumi juga mengandung senyawa belerang, hasil pembakarannya juga menghasilkan gas belerang dioksida. Oksidasi (penggabungan) lanjut dari SO2 dibantu dengan katalis (zat yang mempercepat/memperlambat reaksi) seperti NO2 (Nitrogen Dioksida) akan membentuk H2SO4 (Asam Sulfat) sehingga akan membentuk hujan asam.

Nitrogen Oksida: NO2 ; senyawa yang sering digunakan sebagai bahan sintesis untuk pembuatan asam nitrit, yang produksinya mencapai jutaan ton per tahun. Gas ini berwarna merah-kecoklatan dan merupakan gas beracun, baunya menyengat, dan merupakan salah satu polutan (sumber polusi) udara yang utama.

Asam Sulfat: H2SO; merupakan asam mineral (anorganik) yang kuat. Zat ini larut dalam air pada semua perbandingan. Merupakan komponen utama terbentuknya hujan asam.

Asam Nitrat: HNOsejenis cairan korosif (penyebab pengikisan) yang tak berwarna, dan merupakan asam beracun yang dapat menyebabkan luka bakar.

Huja Asam:  hujan dengan pH (tingkat keasaman) di bawah 5,6. Disebabkan oleh belerang (sulfur) yang merupakan pengotor dalam bahan bakar fosil, serta nitrogen di udara, yang bereaksi dengan oksigen. Membentuk sulfur dioksida dan nitrogen oksida. Zat-zat ini berdifusi (bercampur) ke atmosfer dan bereaksi dengan air untuk membentuk asam sulfat dan asam nitrat yang mudah larut, sehingga jatuh bersama air hujan. Air hujan yang asam tersebut akan meningkatkan kadar keasaman tanah dan air permukaan yang berbahaya bagi kehidupan ikan dan tanaman.

Sanātana-dharma: sebutan agama Hindu oleh penganut agama itu sendiri.

Samsara: atau sangsara; dalam agama Buddha; sebuah keadaan tumimbal lahir (kelahiran kembali) yang berulang-ulang tanpa henti. Selain agama Buddha, kata samsara juga ditemukan dalam agama Hindu, Jainisme, serta beberapa agama terkait lainnya, dan merujuk kepada konsep reinkarnasi atau kelahiran kembali menurut tradisi filosofikal India.

 



   2 komentar     |        844 views

Untuk melaporkan cerita ini kamu harus masuk dulu.

Tinggalkan komentar

Anda harus masuk untuk meninggalkan komentar


komentar :
aya wijaya ayawijaya

Kebayang ngerinya setting km. Detail & mengancam bulu kuduk. Di tunggu lanjutannya.
Oia, index-nya kl kata2 itu umum di pakai rasany tdk prlu dicantumkn atau dterangkn lbh jauh :)

May 23, 2015, 4:36 pm
    Ando Ajo Ando Ajo

    Mbak Aya :)
    terima kasih masukannya, akan ane ingat itu :)

    May 25, 2015, 11:50 am

  
Powered by Gramedia Pustaka Utama