Ingat saya
Cover



dibuat : Tuesday, 05 June 2018 3:06 pm
diubah : 2 minggu yang lalu
vote cerita :
1 vote, average: 5.00 out of 51 vote, average: 5.00 out of 51 vote, average: 5.00 out of 51 vote, average: 5.00 out of 51 vote, average: 5.00 out of 5 (1 votes, rata-rata: 5.00 dari 5)
Anda harus masuk untuk memberikan rating cerita ini.
Loading ... Loading ...
  Tag


  Kategori

FrankFurt

HISTORY

SINOPSIS

BAB I : HISTORY

Suatu malam di bulan Juni tahun 2005, satu bulan sebelum kenaikan kelas 5 sekolah dasar saat usiaku baru menginjak ke-11 tahun, adalah kejadian yang sampai kapanpun tidak ingin aku alami lagi. Saat itu, seorang anak perempuan bungsu yang baru meninggalkan seragam merah putih diperhadapkan dengan situasi yang mengharuskannya untuk merelakan. Ibu yang memutuskan untuk pergi meninggalkan rumah karena suaminya bermain perempuan di luar sana tidak tahan tetap berada satu atap dengan laki-laki itu, yang sudah menemaninya selama 19 tahun dan memberikannya tiga orang anak. Banyak perubahan besar yang harus dihadapi olehnya. Bangun tidur pada hari sekolah menjadi momok besar baginya. Ia yang selalu melihat senyum manis Ibunya yang membangunkannya dari tidur lelap, menyiapkan baju seragam dan sarapan pagi untuknya, dan tak lupa mengikat rambut panjang anaknya dengan model yang berbeda setiap hari, semuanya itu mendadak berubah total. Ia dibangunkan oleh asisten rumah tangga, pun baju seragam dan sarapan pagi disiapkan oleh asisten tersebut. Hanya satu hal yang Ibunya lakukan dan tidak digantikan oleh asisten rumah tangga, yaitu mengikat rambut panjangnya. Alhasil, ia pun membiarkan rambut panjangnya terurai tidak rapi, karena saat itu ia juga tidak dapat mengikat rambutnya sendiri. Walau setiap hari Ibunya mengunjunginya, tetap ada yang berkurang dalam hidupnya, yang jika serpihan itu disatukan tetap tidak akan pernah utuh.

Di usianya yang masih sangat muda, ia harus menerima kenyataan bahwa ia mendapatkan seorang Ayah dan seorang Ibu tiri baru di dalam kehidupannya. Ditambah lagi, Ibu yang harus pindah agama karena pernikahannya itu. Ayahnya pun memilih kembali ke agama yang dulu dianutnya sebelum menikahi Ibunya di tahun 1984 silam. Ia juga menemukan hal yang paling menggelikan dalam hidupnya, yaitu menyaksikan bagaimana seseorang yang dulunya terlihat perhatian dan penyayang kepadanya menjadi seseorang yang berubah 180 derajat dalam sekejap setelah berhasil menggenggam hati Sang Ayah. Ia menemukan pada akhirnya Ibu tirinya “terlihat” perhatian dan menyayanginya, bukanlah hal yang benar adanya.

Sang Ayah yang selalu melakukan perjalanan dinas dua kali dalam sebulan pun dimanfaatkan Ibu tirinya untuk melakukan hal yang ia inginkan, yaitu bagaimana caranya Si Anak Bungsu dapat keluar dari rumah itu, menjauh dari Ayahnya. Masih teringat jelas saat-saat ia pulang sekolah dan ingin segera menyantap makan siang, tapi yang ia lihat di balik tudung saji di atas meja makan hanyalah sisa duri ikan, tanpa ada lagi lauk atau sayur yang tersisa. Hal itu selalu ia hadapi saat perjalanan dinas Ayahnya. Sering mengalami kelaparan yang harus ditanggungnya dari siang hingga keesokan hari memiliki dampak hingga sekarang, ketika dokter memvonisnya menderita sakit pembengkakan lambung yang cukup parah. Tidak hanya kelaparan yang ia rasakan, tapi juga kegelapan di malam hari saat listik padam. Ia hanya diam seorang diri tanpa ada satu orangpun yang naik ke kamarnya di lantai dua untuk memberikan lampu charge atau lilin sebagai penerang. Ia baru menyadari ternyata sedari awal sudah diatur oleh Ibu tirinya agar Ia memiliki kamar di lantai dua, dimana seluruh aktifitas keluarga dilakukan di lantai satu. Kamar Ayah dan Ibu tirinya, ruang tamu, ruang menonton, dapur, ruang makan bahkan kamar pembantu pun ada di lantai satu. Lantai dua hanya ada kamarnya dan ruang kantor, yang pada malam hari jelas tidak ada siapapun kecuali dirinya. Bisa dikatakan bahwa Ia cukup akrab dengan rasa lapar dan kesendirian.

Ia bukannya tidak punya nyali untuk mengatakan yang sebenarnya kepada Ayahnya apa yang dilakukan oleh Ibu tirinya, justru ia sudah pernah mengatakannya, dan hasilnya sungguh mengecewakan. Ia menyadari bahwa sinetron-sinetron yang dulu ia tonton tentang kejahatan Ibu tiri itu benar adanya, dan bahwa Ayahnya lebih percaya kepada wanita mudanya itu daripada anak kandungnya sendiri. Sungguh cerita sinetron itu nyata adanya. Sejak saat itu, ia harus menerima bahwa ia tidaklah lebih berharga dari wanita muda yang baru dikenal oleh Ayahnya itu. Sang Ibu yang diceritakan olehnya pun memberikan respon marah dan ingin melabrak Ibu tirinya. Ia tidak mengijinkannya karena tidak ingin masalah ini menjadi lebih besar lagi, toh ia berpikir bahwa Ayahnya tidak akan membelanya juga. Sang Ibu pun menuruti keinginannya, tapi Beliau mengajukan keinginan atas anak bungsunya itu. Ibunya berharap bahwa ia pindah dan tinggal di rumah Ibunya bersama dengan Ayah tirinya. Saat itu ia tidak langsung mengiyakan ataupun menolak. Ia pun meminta waktu untuk mempertimbangkan hal tersebut. Sampai suatu ketika, pindah dan tinggal bersama Ibunya adalah satu-satunya hal yang harus ia lakukan.

Pada kenyataannya, belum dua tahun ia mampu mengatasi masa-masa berat perceraian orang tuanya, Sang Ayah, cinta pertama dalam hidupnya, memutuskan untuk pindah segera bersama Ibu tirinya ke kota lain karena masalah pekerjaan, tanpa bertanya apakah anak bungsunya itu akan ikut dengannya atau tidak. Terkesan sepele, tapi ia merasa berhasil diusir dari kehidupan Ayahnya. Tepat tanggal 7 April 2007, dua hari setelah ulang tahunnya, ia membereskan pakaian, boneka dan barang-barangnya yang lain ke dalam kardus, sendiri.

Hari itu adalah hari dimana ia pindah dan tinggal di rumah Ibunya. Bayangkan betapa sedihnya ia ketika membereskan barang-barang pindahannya dari rumah Ayahnya tanpa ada yang membantu, bahkan asisten rumah tangga pun tidak. Sang Ibu tiri pun tidak naik ke kamarnya untuk melihat. Ketika kardus-kardus telah siap, Ayahnya meminta penjaga rumah untuk mengangkutnya ke atas mobil pick up. Saat Si Anak Bungsu akan melangkah keluar dari kamarnya, Ayahnya berpesan agar ia dapat menjaga diri dan harus berhasil dalam sekolah. Perpisahan hari itu ditutup dengan pelukan yang entah mengapa rasanya sakit dan menyesakkan dada. Satu tahun setelah ia pindah ke rumah Ibunya, barulah Ayah dan Ibu tirinya pindah. Ia baru menyadari, ia telah dibohongi oleh Ayahnya yang dulu berkata bahwa Beliau akan segera pindah, dan ia juga baru tahu bahwa hal ini terjadi atas permintaan Ibunya yang ingin ia cepat meninggalkan rumah Ayahnya itu, dengan alasan bahwa mental anaknya akan terganggu jika semakin lama menderita disana. Entah siapa yang harus ia salahkan atau ia bela saat itu.



   0 komentar     |        31 views

Untuk melaporkan cerita ini kamu harus masuk dulu.

Tinggalkan komentar

Anda harus masuk untuk meninggalkan komentar


komentar :

  
Powered by Gramedia Pustaka Utama