Ingat saya
Cover



penulis : Gusti A.P.
dibuat : Saturday, 02 May 2015 2:59 am
diubah : 2 tahun yang lalu
vote cerita :
28 votes, average: 4.71 out of 528 votes, average: 4.71 out of 528 votes, average: 4.71 out of 528 votes, average: 4.71 out of 528 votes, average: 4.71 out of 5 (28 votes, rata-rata: 4.71 dari 5)
Anda harus masuk untuk memberikan rating cerita ini.
Loading ... Loading ...
  Tag


  Kategori

FrankFurt

Demokrasi Batagor (Cerpen)

SINOPSIS

DEMOKRASI BATAGOR

 

oleh: Gusti A.P.

 

        Matahari bersinar begitu terik saat aku baru pulang dari tempat bimbel siang itu. Belakangan ini aku memang berubah menjadi sangat rajin. Lupakan playstation, komik, ngeband, Andina pacarku yang cantik, bola basket, dan segala tetek bengek yang lainnya. Sekarang saatnya berjuang untuk menghadapi SBMPTN! Buat kami yang baru saja lulus SMU, UAN bukanlah perang terakhir. Masih ada ‘perang besar’ yang menunggu di belakangnya, apalagi kalau bukan tes SBMPTN? Dan untuk itu aku gak main-main.

 

       Raymond si anak metal langsung bertobat begitu sudah duduk di kelas tiga. Kusingkirkan kaset-kaset, komik-komik, majalah-majalah game dan musik, juga CD-CD PS yang memenuhi lemariku. Kuganti dengan buku-buku kumpulan soal SBMPTN yang tebalnya rata-rata 350 halaman itu. Nggak ada yang hasil beli lah. Mana punya aku uang sebanyak itu??? Semua buku-buku itu aku dapat dari hasil ‘nodong’ kakak-kakak kelasku yang terdahulu hehehe. Ini baru namanya strategi

 

        Aku korbankan karir basketku yang cemerlang untuk konsentrasi pada bimbel dan berbagai les. Aku nggak mau ikut jalur minat bakat. Padahal dengan  kemampuan basketku aku bisa dengan mudah masuk ke universitas yang aku dambakan seperti teman-teman seekskul yang lain. Tapi aku ngotot ingin mencoba menempuh jalur SBMPTN. Hanya untuk membuktikan kepada mereka yang nyinyir bahwa atlet pun punya otak.

*****

         Saat aku melewati balai kota, ratusan orang sudah berkumpul di sana. Mereka meneriakkan slogan-slogan dan tuntutan-tuntutan kepada pemerintah sambil membawa kertas dan spanduk warna-warni. Jalanan jadi macet. Aparat keamanan tampak sibuk mengamankan jalan, berjaga kalau-kalau ada kerusuhan. Seorang pria ceking berdiri di atas pick-up sambil meneriakkan kata-katanya lewat halo-halo yang ia pegang. Rupanya ia pemimpin mereka.

 

        “Sodara-sodara, kita rakyat kecil sudah terlalu banyak menderita! Rakyat kelaparan! Rakyat butuh makan! Tapi apa yang dikerjakan para wakil-wakil rakyat di dalam sana, Sodara-sodara?!” teriaknya menggebu-gebu.

 

        “MENE KETEHEEE?!!!” sahut orang-orang itu.

 

        “NOTHING, SODARA-SODARA! MEREKA CUMA ONGKANG-ONGKANG DI ATAS PENDERITAAN KITA, SODARA-SODARA! APA KITA HARUS DIAM SAJA MENDIAMKAN SEMUA ITU, SODARA-SODARA?!! SETIAP ASPIRASI KITA SELALU DIABAIKAN, SODARA-SODARA!!!” semburnya lagi lebih keras, dengan irama seperti rapper sekelas Eminem.

 

        “CAPEEEKK DEEEH!!!” Para demonstran menjawab koor.

*****

 

        Sepulang dari bimbel, Raymond sang mantan atlet basket sekolah yang sudah berniat untuk lulus SBMPTN jalur reguler, malah bertemu dengan sekelompok demonstran di depan balai kota. Sambil terus berpikir tentang apa makna demokrasi yang sebenarnya, ia pun terlibat pembicaraan ringan dengan Cak Ji, si pedagang batagor yang sangat humoris.

*****

        Yahoo, Readers. I’m back! Sebulan aku vakum dari GWP karena banyak yang harus dibereskan di real life. Sampai saat ini aku masih berkutat dengan referensi dan membereskan naskah-naskah mengambangku. Karena gemes liat anak-anak aliansi pada ngeksis di bulan kemarin, aku pun memutuskan untuk posting di awal bulan Mei. Walaupun… yang kuposting adalah naskah-naskah lamaku yang sudah pernah dipublish di beberapa majalah seperti Hai dan Kawanku.

 

          Tapi yang kutampilkan di sini versi editannya lho. Akan kuusahakan lebih rapi, bahkan daripada versi cetaknya. Seru sih rasanya ngedit tulisan-tulisan lama. Secara dulu dan sekarang pasti pola pikirku udah banyak yang berubah dong.

 

      Cerpen ini adalah cerpen pertamaku yang berhasil menembus media nasional. Dimuat di Majalah HAI edisi 28 Agustus-3 September 2006. Waktu itu aku masih kelas 2 SMA.

 

       Versi editan ini tidak hanya memperbaiki kesalahan EYD, typo, dan tanda baca. Banyak bagian yang kuubah, seperti kalimat-kalimatnya lebih diefektifkan, diksinya lebih divariasikan, dan seting kota Malangnya lebih kukentalkan di sini. Ikuti lanjutannya ya. Aku sedang mengedit cerpen ini dan akan kuposting pagi ini juga. Sebagai bonus, nantinya aku akan menampilkan proses kreatif pembuatan cerpen ini.

         Enjoy, Guys :)

 

NB: Menulis buat pembaca muda dengan umur yang tidak lagi muda memang merupakan tantangan tersendiri (buseeet…emang setua apa gue? Ah, biasa aja deh. Cuma seperempat abad lebih dikit kok. Itu masih termasuk remaja loh! Karena sebenarnya seseorang dianggap benar-benar dewasa, dan struktur otaknya sudah benar-benar matang baru di usia 30 tahun. Ini kudapat dari jurnal psikologi yang pernah kuterjemahkan lho).

 

Terutama karena perkembangan tren di kalangan anak muda begitu cepat berganti. Jargon-jargon dan bahasa gaul misalnya. Kalau jarang liat TV (infotainment misalnya :v *ngeeek), pasti bakal ketinggalan banyak istilah ajaib. Apa yang dulu populer di masaku, belum tentu tetap populer di masa sekarang. Nggak heran angkatan 80-90-an kayak gue suka mojok sendiri dan mengenang-ngenang masa Doraemon masih menjadi raja acara TV Minggu. Hihihi…

 

Karena itu special thanks buat Kamalia Fauzia yang mengoreksiku soal istilah ujian masuk universitas di sini. Ternyata ujian masuk bersama yang reguler itu namanya jadi SBMPTN sekarang (Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri). Sedangkan SNMPTN berubah menjadi ujian seleksi jalur prestasi. Heeeh… please deh, pemerentah! Jangan suka gonta-ganti istilah napa? Toh artinya sama aja. Merepotkan guru, murid, penulis, dan percetakan buku aja! XD

 

Aku mendapat banyak masukan bagi cerpen ini. Dari Alison, Ikhzi, dan teman-teman yang sudah berbaik hati meluangkan komentar di sini. Aku sedang mencerna saran-saran kalian dan mulai mengedit lagi cerpen ini. Sabar ya. But thanks a lot sudah menyadarkanku akan hal-hal yang tadinya nggak terpikir sama sekali.

 

Keep writing and sharing your appreciation, Minna!



   66 komentar     |        4,836 views

Untuk melaporkan cerita ini kamu harus masuk dulu.

Tinggalkan komentar

Anda harus masuk untuk meninggalkan komentar


komentar :
Eka Herlyanti Herlyanti

Maaf baru muncul di penghujung bulan yah. Better late than never, I hope hihihi.
Dari jalan cerita sih gak ada yang ganjil. Malah ini menghibur dan sesuai sama situasi politik di bulan Mei ini hihihi. Dan juga lucu tentunya.
Yang aku kurang sreg itu adalah penggunaan kata halo-halo dan aplikasi. Bisa diganti pake toa (yang suka demo dan jadi panitia acara kayaknya udah pada tau nama alat ini hehehe).
Kalo untuk yang aplikasi, memang itu artinya penerapan, tapi menurutku kurang pas aja. Cocoknya adalah “produk” dari demokrasi. Tapi tentu itu cuman saran.
Terus aku agak kesulitan juga mengartikan maksud dari “Demokrasi Batagor” selain guyonan Cak Ji seandainya dia jadi presiden nanti.
Hmm, boleh dong order satu buku kumpulan cerpennya.
Voted.

May 31, 2015, 5:59 pm
    Gusti A.P. Gusti A.P.

    Hohoho…ayo Mbak, ditunggu comebacknya hehhe…

    Nah, soal diksi itu udah lumayan sering dispot sama komentator di bawah ><

    Thanks again, Mbak

    June 1, 2015, 12:43 am
    Gusti A.P. Gusti A.P.

    Aduh…kok kepotong ><

    Thanks again, Mbak

    June 1, 2015, 12:45 am
    Gusti A.P. Gusti A.P.

    Soal pemesanan buku ntar di grup aja yak

    Btw, ditunggu come-backnya nih. Cerpen ini akan kureboot bulan ini. Moga sempat

    June 1, 2015, 11:06 am
Adhies

selesai xD…

guyonannya cukup menghibur, seenggaknya bikin aku mesem-mesem…

pesan moralnya juga dapet, pantes kalo cerpen ini terbit di majalah. *prok2

May 16, 2015, 12:35 pm
    Gusti A.P. Gusti A.P.

    Thanks, Papady XD

    Iya sih, tapi itu…hanyalah masa lalu… *menatap langit dengan sendu.

    Aku pasang cerita-cerita lamaku di sini biar aku bisa move-on bikin yang baru XD

    May 16, 2015, 1:08 pm
Ray Amur Ray Amur

Tok..tok!
Ane berkunjung gan, hehe.
Vote dulu sebelum lanjut

May 13, 2015, 6:15 am
    Gusti A.P. Gusti A.P.

    Monggo-monggo pinarak, Mas πŸ˜€ Duh baik sekali kasih oleh-oleh blimbing XD πŸ˜€

    Monggo didahar dulu batagornya XD

    Mei ini nggak publish cerita di sini kah? Repost cerita hasil editing yang kemarin mungkin? :)

    May 13, 2015, 8:52 am
    Ray Amur Ray Amur

    lagi galau bulan ini, galau Madrid gak lolos ke Final UCL, haha. Alasan.

    Obat galaunya ya Batagor ini.

    May 14, 2015, 2:01 pm
    Gusti A.P. Gusti A.P.

    oalah XD

    obat galau itu obat hati, Mas… Ceilaa *cessshhh XD

    *buru-buru masukin tanduk, terus ganti pasang lingkaran halo di atas kepala XD

    May 15, 2015, 12:02 am
1 2

  
Powered by Gramedia Pustaka Utama