Ingat saya
Cover



penulis : Rin Muna
dibuat : Wednesday, 04 July 2018 10:32 am
diubah : 2 bulan yang lalu
vote cerita :
0 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 5 (0 votes, rata-rata: 0.00 dari 5)
Anda harus masuk untuk memberikan rating cerita ini.
Loading ... Loading ...
  Tag


  Kategori

  Penulis Terpopuler
score: 2449  Liliana Tan
score: 1977  Dimas Joko
score: 1227  Gusti A.P.
score: 1186  Liamderla
score: 1139  Tala Auna
score: 999  Andi


  Cerita Terpopuler


FrankFurt

Bab 2 – Ranting Ranti

SINOPSIS

“Andi… bangun! Sebentar lagi azan subuh.” Ranti melirik jam dinding sembari menggoyangkan tubuh Andi.

            Andi mengangkat tubuhnya sembari mengucek kedua matanya yang masih mengantuk.

            “Cepat mandi! Surau sudah menunggumu!” Ranti mengikat rambutnya dan bergegas ke dapur untuk menjerang air panas.

            Andi bergegas ke sumur dengan menggunakan senter untuk menerangi jalannya. Secepatnya ia mandi, tubuhnya yang kecil menggigil setiap tersentuh air sumur di subuh hari. Namun, ia tak pernah menyerah. Pada siraman ketiga, ia akan terbiasa dan menikmatinya.

            Pagi buta mereka sudah sibuk, melakukan aktivitas yang biasa dilakukan kedua orang tuanya. Ranti berperan sebagai ibu untuk Sinta dan Andi. Andi yang masih berusia tujuh tahun, cukup mengerti keadaan yang mereka jalani saat ini. Berbeda dengan Sinta yang masih terus menanyakan keberadaan kedua orang tuanya.

             Ranti menghela napas saat menakar beras yang akan ia masak. Hanya tersisa segenggam beras untuk mereka makan esok.

            Ranti mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Melihat kebun kecil mereka yang terisi aneka tanaman. Ranti memang sangat senang berkebun bersama Emak. Itulah sebabnya di pekarangan belakang rumahnya ditumbuhi aneka tanaman sayur dan buah.

            “Jika beras habis, aku masih bisa menggantinya dengan singkong,” gumam Ranti sembari tersenyum menghibur dirinya sendiri. Ia tak ingin menyerah dengan keadaan. Ia tak ingin mengharap belas kasih dari orang lain. Namun, ia tetap tak pernah bisa menolak ketika Bu Yogi memberi aneka sembako untuknya.

            “Ini rejeki untuk adik-adikmu. Jangan menolaknya! Ibu hanya perantara.” Kalimat itu terus terngiang di telinga Ranti, membuatnya tak bisa menolak pemberian Bu Yogi.

            “Mbak, kaos kaki aku di mana?” teriakan Andi membuyarkan lamunan Ranti.

            “Cari saja di lemari!” Suara Ranti tak kalah kerasnya.

            “Nggak ada Mbak.” Andi masih berteriak dari dalam kamarnya.

            Ranti bergegas masuk ke dalam kamar. Mencari kaos kaki yang dicari Andi. Akhirnya ia menemukannya di bawah ranjang tidur mereka. “Lain kali jangan taruh sembarangan!”

            “Maaf Mbak.” Andi meraih kaos kaki dari tangan Ranti.

            “Mbak masih buat sarapan. Bangunkan Sinta dan ajak dia mandi dulu!” pinta Ranti bergegas kembali ke dapur.

            Beberapa menit kemudian mereka sudah duduk di meja makan dengan seragam sekolahnya. Sinta belum bersekolah, namun Ranti selalu membawanya serta ke sekolah. Sebab tak ada yang menjaganya di rumah. Ia tak mungkin terus-menerus merepotkan tetangga. Hanya sesekali ia mengiyakan tawaran Bu Yogi untuk meninggalkan Sinta bersamanya. Kini, Ranti sudah di penghujung kelulusan SD. Ia masih tidak tahu akan melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi atau memilih berhenti mengejar cita-cita demi kedua adiknya.

***

            Sepulang sekolah, Ranti langsung berganti pakaian. Bergegas menuju kebun untuk mengambil singkong dan beberapa sayuran. Ia tak pernah meninggalkan Sinta, selalu ia bawa kemana saja bahkan ke kebun sekalipun.

            Karena hanya memiliki segenggam beras, Ranti harus pandai membuat hidangan untuk kedua adiknya.

            “Sinta, kamu jangan ke mana-mana ya! Mbak mau masak dulu.” Ranti meletakkan keranjang sayuran di atas meja. Memastikan Sinta duduk manis di kursi.

            Sinta mengangguk, asyik mengajak boneka kesayangannya bercerita.

            Ranti tersenyum melihat Sinta yang sudah asyik bermain. Ia sudah jarang menanyakan keberadaan kedua orang tuanya. Lama-lama, Sinta akan melupakannya.

            Ranti memotong-motong kangkung, jagung dan singkong untuk ia masak bersama segenggam beras yang masih tersisa.  Mungkin ini akan terasa aneh. Tapi, setidaknya cukup untuk mereka makan bertiga.

            “Ini makanan apa Mbak?” tanya Andi ketika Ranti menghidangkan makanan yang baru saja selesai ia masak. Ia mengamati makanan yang terhidang di depannya. Seperti sayuran, tapi ada bubur nasinya. “Ini sayur atau bubur?”

            “Makan saja!” suara Ranti parau, tak kuasa menahan kesedihan. Seandainya Bapak dan Emak masih ada. Pastilah kebutuhan gizi kedua adiknya akan selalu terpenuhi.

            Andi tak banyak bicara. Ia melahap habis makanan yang dihidangkan Ranti. Sama dengan Sinta. Ia hanya menurut saja apa kata Mbak Ranti.

            Keesokan harinya, Ranti hanya bisa menghidangkan singkong.

            Andi menyadari kesulitan Mbak Ranti. Namun, ia tak ingin banyak bertanya. Itu akan membuat Mbak Ranti semakin marah.

            Andi berjalan perlahan menuju kandang ayam. Ia membawa sekaleng biji jagung untuk pakan ayam-ayamnya.

            Andi memperhatikan satu per satu ayam-ayam miliknya. Sebenarnya ini ayam-ayam milik Bapak. Bapak senang sekali memelihara ayam. Dan selalu mengajak Andi untuk memberi pakan ayam-ayamnya.

            Dua ekor induk ayam baru saja turun dari kandangnya. Ia mengintip dari celah-celah kandang. Sudah ada empat telur di sana. Andi tersenyum senang. “Akan ada penghuni baru di kandang ini,” batin Andi.

            Andi menangkap seekor ayam yang lumayan gemuk. Membawanya ke pasar untuk ia jual. Lumayan, hasil penjualan ayam ini bisa ia berikan ke Mbak Ranti untuk membeli beras.

            “Mbak, ini ada sedikit uang untuk membeli beras.” Andi mengulurkan beberapa lembar uang untuk Ranti.

            “Kamu punya uang dari mana? Tidak mencuri, kan?” Ranti mendelik.

            Andi menggeleng.

            “Lalu dapat dari mana? Mengemis?”

            Andi menggeleng lagi.

            “Bilang sama Mbak. Kamu dapat uang ini dari mana!?” Ranti meninggikan nada suaranya.

            “Tadi aku menjual satu ekor ayamku ke pasar. Ini uang hasil jual ayam Mbak. Aku tidak mencuri dan tidak mengemis.” Andi menyodorkan kembali uang itu di wajah Ranti.

            “Kamu jual ayam Bapak?”

            “Aku merawatnya bersama Bapak. Aku juga berhak atas ayam itu Mbak. Lagipula, dua ekor betinaku sedang bertelur. Aku berniat untuk menekuni hobiku beternak. Kalau dijual ke pasar, hasilnya lumayan Mbak.” Andi mengerdipkan matanya.

            “Tapi An…”

            “Andi masih kecil?”

            Ranti tersenyum memandang tubuh Andi yang tak lagi semungil dulu.

            “Andi laki-laki. Tidak harus menjadi dewasa dulu untuk menjaga Mbak Ranti dan Sinta.”

            “Oke. Kalau gitu, gimana kalau Mbak Ranti menjual sayuran-sayuran itu ke pasar?” Ranti tersenyum melipat kedua tangannya di dada. Memandang kebun kecil yang penuh aneka sayuran yang ia tanam.

            Andi mengangguk gembira. “Ide bagus Mbak. Jadi, Andi jual ayam kampung dan Mbak Ranti jual sayuran.” Andi tertawa sumringah.

            “Yes! Kita tidak perlu makan singkong setiap hari.” Ranti berjingkat memeluk adiknya.

            “Assalamu’alaikum…!” Suara Bu Yogi terdengar dari kejauhan.

            Ranti dan Andi saling memandang. “Bu Yogi!” ucap mereka bersamaan. Mereka bergegas membukakan pintu rumah.

            “Wa’alaikumussalam.” Andi dan Ranti menjawab salam sembari membukakan pintu lebar-lebar.

            Bu Yogi datang dengan dua kantong plastik berisi sembako. “Ini ada sedikit rejeki untuk kalian.”

            Andi dan Ranti saling pandang. “Tapi Bu, Ibu suda terlalu sering memberi kami makanan. Kami tidak bisa terus menerus menerimanya,” ucap Ranti.

            “Tidak baik menolak rejeki.” Bu Yogi berjalan masuk ke dapur tanpa dikomando.

            “Bu, apa ada yang bisa kami lakukan untuk membalas kebaikan Ibu?” Ranti mengikuti langkah Bu Yogi yang sedang melihat-lihat isi dapur. Sesekali ia membelalak karena tidak ada makanan atau bahan makanan sedikitpun. Hanya ada dua potong singkong rebus di atas piring.

            “Tidak ada. Ibu tidak meminta balasan apapun.”

            “Bu, apa aku boleh angon bebek-bebek Ibu?” Andi sumringah menyela pembicaraan.

            Bu Yogi tersenyum menatap Andi. “Mau?”

            Andi mengangguk penuh semangat.

            “Lebih baik Mbak Ranti saja yang menggembala bebek-bebek itu. Sebentar lagi Mbak Ranti sudah lulus sekolah. Kamu masih harus sekolah.” Sahut Ranti.

            “Tapi, Mbak…” Andi merengut.

            “Kamu tidak lanjut sekolah?” Bu Yogi menatap Ranti.

            Ranti menggelengkan kepalanya. “Biaya masuk SMP tidak sedikit Bu. Lagipula, Sinta sudah harus masuk sekolah. Ranti mau kerja saja.”

            “Kamu tidak perlu khawatir soal biaya. Ibu akan biayai sekolah kalian.”

            Ranti menggeleng. “Ranti tidak ingin sekolah, Bu.”

            “Bukankah kamu ingin jadi dokter?”

            “Itu dulu, saat Bapak masih hidup. Sekarang beda Bu. Aku tidak akan pernah menjadi dokter.”

            “Ranti yang Ibu kenal tidak seperti ini. Ranti yang ibu kenal selalu punya semangat untuk maju.”

            Ranti menundukkan kepalanya, meremas jari jemarinya. Jauh dalam lubuk hati, ia ingin sekali mengejar mimpi-mimpinya. Ia sangat memimpikan gelar sarjana, seperti harapan kedua orang tuanya. Namun, ia tidak ingin mengorbankan kedua adiknya. Ia harus berjuang demi Andi dan Sinta. Ia ingin melihat Andi dan Sinta sukses menjadi sarjana. Dan ia harus berjuang mewujudkan mimpinya. Jika ia tak bisa mewujudkan mimpinya memakai toga, maka ia harus bisa melihat Andi dan Sinta memakai toga.

***

            Ranti menggiring bebek-bebek dengan ranting karamunting di tangannya. Ia menggembala bebek-bebek milik Pak Yogi menuju kali yang tak jauh dari rumah. Kini ia sudah tak pernah lagi mengenakan seragam sekolah. Namun, ia selalu meminjam buku di perpustakaan dan membawanya saat menggembala bebek.

            Ranti menyandarkan tubuhnya di akar pohon beringin. Mengamati bebek-bebek yang sedang asyik berenang di kali. Ranting karamunting tak lepas dari tangan kanannya, sedang tangan kirinya memegang buku kesehatan yang sedang ia baca. Hari mulai sore, Ranti kembali menggiring bebek-bebek itu masuk ke kandangnya.

            Pak Yogi sedang mengarungi kotoran bebek. Kotoran bebek ini biasa dimanfaatkan untuk pupuk organik. Beberapa warga yang bercocok tanam akan membeli kotoran bebek di sini. Tanpa dikomando, Ranti membantu Pak Yogi mengarungi kotoran-kotoran bebek. Mengikatnya dan menyusun di sudut pekarangan kandang bebek yang luas. Pak Yogi memberikan kebebasan Ranti mengambil kotoran bebek untuk dijadikan pupuk tanaman sayurnya. Setiap pagi dan sore sebelum menggembala bebek, Ranti selalu menyempatkan diri merawat tanaman di kebun belakang rumahnya.

            Selama bertahun-tahun Ranti bekerja dengan keluarga Pak Yogi. Apa saja ia kerjakan, bukan hanya menggembala bebek-bebek saja. Ia sering membantu Bu Yogi memasak juga, sebab Bu Yogi memiliki warung makan dan sering sibuk di dapur sendirian. Ia tak lagi sungkan menerima pemberian Bu Yogi. Bahkan Pak Yogi sering memberikan upah lebih untuk Ranti. Bahkan Pak Yogi memberikan seekor bebek yang kini telah menjadi sepuluh ekor bebek, Andi sangat senang merawat bebek-bebek itu.

            “Ran, ini bawa pulang untuk adik-adikmu!” Bu Yogi menyodorkan satu renteng rantang berisi makanan.

            Ranti menerima pemberian Bu Yogi. “Makasih Bu.” Ia bergegas pulang ke rumah.

            “Assalamu’alaikum…”

            “Wa’alaikumussalam…” Andi membukakan pintu rumah.

            Ranti langsung menuju dapur untuk meletakkan makanan yang diberikan Bu Yogi. Menggantinya ke wadah miliknya.

            “Masak apa?” tanya Ranti yang melihat Sinta sedang memasak. Sinta bukan lagi anak kecil berusia empat tahun. Kini, ia sudah bisa membantu Ranti membereskan rumah juga memasak.

            “Goreng telur, Mbak. Mbak Ranti bawa makanan?” Sinta memperhatikan Ranti yang sedang mengganti wadah makanan.

            “Iya. Dikasih Bu Yogi. Tadi Mbak bantu di warungnya karena warung lagi ramai.”

            “Bu Yogi selalu baik dengan kita. Apa Sinta juga boleh kerja seperti Mbak Ranti?” Sinta mengangkat telur dari penggorengan, meletakkanya di atas meja.

            “Kak! Telurnya sudah matang!” teriak Sinta memanggil Andi yang sedang membaca buku di ruang tamu.

            “Boleh. Tapi, Sinta kerjanya kalau sudah lulus sarjana. Dan tidak boleh kerja angon bebek seperti Mbak Ranti.” Ranti tersenyum, melangkahkan kakinya ke tempat mencuci piring untuk membersihkan rantang milik Bu Yogi. Kini, mereka tak lagi harus ke sumur untuk mencuci atau mandi. Sudah ada kamar mandi di rumah mereka, hadiah dari Pak Yogi karena Ranti rajin bekerja.

            “Memang kenapa kalau angon bebek, Mbak? Kata Mbak Ranti itu pekerjaan halal?”

            Ranti membalikkan tubuhnya menatap Sinta yang sudah tumbuh besar. “Iya, memang pekerjaan halal. Tapi, ada pekerjaan yang lebih baik untuk Sinta. Sinta harus bisa jadi orang sukses.”

            “Sukses itu seperti apa Mbak?”

            “Sukses itu kalau Sinta bisa mewujudkan cita-cita Sinta.”

            “Sinta tidak punya cita-cita.” Sinta menundukkan kepalanya.

            “Kenapa? Setiap anak harus punya cita-cita.” Ranti menghampiri Sinta, membelai rambutnya yang hitam dan ikal.

            “Cita-cita Mbak Ranti apa?” Sinta menatap wajah Ranti.

            Ranti tersenyum. Menghela napasnya. “Dulu, waktu Bapak dan Emak masih hidup, Mbak Ranti ingin sekali jadi dokter. Tapi, sekarang cita-cita Mbak Ranti adalah mewujudkan cita-cita kalian berdua.” Ranti memeluk Sinta. Andi juga ikut menghambur ke pelukan Ranti.

            “Kak Andi pengen jadi apa?” Sinta menatap Andi sambil memeluk tubuh Ranti.

            “Hmm….” Andi memutar kedua bola matanya. “Ada deh. Rahasia!”

            “Iih… Kak Andi main rahasia-rahasiaan sama Sinta!” gerutu Sinta.

            Andi malah tertawa melihat wajah lucu Sinta.

***

            Pagi ini, udara terasa begitu dingin. Ranti menggenggam secangkir teh sembari memandangi kebun sayur mungil miliknya. Dia berencana untuk menanami kebun warisan Bapaknya. Jika ia bisa menanam satu hektar cabai, ia pasti bisa memiliki banyak uang untuk biaya kuliah kedua adiknya.

            “Mbak…!” Suara Andi membuyarkan lamunan Ranti. Ranti membalikkan tubuhnya, menatap Andi yang sedang berdiri di pintu dapur. Ranti tersenyum menatap Andi yang semakin dewasa. Kini, Andi telah menggunakan seragam putih abu-abu. Air mata Ranti hampir jatuh melihat Andi yang semakin gagah. Tinggi badannya kini telah melebihi tinggi badan Ranti.

            “Mbak Ranti masih ingin angon bebek Pak Yogi?” Andi memperbaiki kancing seragamnya.

            Ranti mengangguk. “Pak Yogi sudah semakin tua. Mbak Ranti akan tetap membantunya. Mbak tidak akan pernah lupa kebaikan keluarga Pak Yogi pada kita. Andi saja sekarang sudah melebihi tinggi Mbak Ranti.” Ranti mengangkat tangannya ke atas kepala.

            “Bebek pemberian Pak Yogi sekarang sudah menjadi banyak. Hampir menyamai jumlah bebek Pak Yogi. Bagaimana kalau Mbak Ranti ajak serta bebek-bebek kita jalan-jalan seperti bebek-bebek Pak Yogi?” Andi menatap Ranti. “Jika tidak merepotkan Mbak Ranti.”

            Ranti tersenyum sembari menggelengkan kepalanya. “Nanti Mbak ajak serta mereka. Tidak akan merepotkan. Sarapan dulu! Mana Sinta?”

            “Hadir Mbak!” Baru disebut namanya, Sinta langsung muncul dengan seragam putih biru. Sinta kini tumbuh menjadi remaja yang cantik.

            “Sarapan dulu!” ajak Ranti. Mereka duduk bersama menikmati sarapan.

            “An, usai SMA mau lanjut ke mana?” tanya Ranti.

            “Sesuai jurusan yang Andi mau. Masih cari-cari informasi Mbak.” Andi menyuap kembali makanan ke mulutnya.

            Ranti mengangguk-anggukan kepalanya. Ia berniat ke pasar, mencari majalah atau buku yang berisi informasi Universitas Terbaik jurusan Geologi. Andi bercita-cita menjadi seorang Geolog, dan Ranti harus membantu Andi mencari referensi Universitas yang baik.

            Usai sarapan, Andi dan Sinta bergegas ke sekolah. Sementara Ranti sibuk membereskan rumah, lalu pergi ke pasar.

            Sepulang dari pasar. Ranti menuju kandang bebek milik Pak Yogi. Bebek-bebek itu sudah menjadi sahabat Ranti. Mereka selalu menyambut Ranti dengan senang hati. Sama halnya dengan Ranti, begitu cekatan memberi makan dan merawat bebek-bebek milik Pak Yogi. Ranti membuka pintu kandang, Bebek bergantian keluar dari kandangnya. Ranti mengambil ranting kayu untuk menggiring bebek-bebek ke sungai. Tak lupa ia membawa serta bebek-bebek milik Andi. Ketekunan Andi dalam beternak membuat bebek-bebek miliknya berkembang cepat. Bahkan, uang hasil penjualan bebek bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari dan keperluan sekolah Andi dan Sinta.

            Dari kejauhan, sepasang mata sedang memperhatikan Ranti yang duduk di tanggul. Merendamkan ujung kakinya. Tertawa melihat bebek-bebek yang sedang asyik berenang di sungai. Ranting karamunting dikibas-kibaskan di atas air dan membuat bebek-bebek itu saling berenang bertabrakan. Hal ini selalu menimbulkan gelak tawa bagi Ranti.

            “Bahagia banget!” Sepasang mata yang memandang Ranti dari kejauhan, kini duduk di sisi Ranti.

            “Eh! Mas Gung?” Ranti terkejut dengan kehadiran Mas Gung. Mas Gung adalah salah satu sahabat Ranti sejak kecil. Ia sering kali menemani Ranti, atau sekedar menyapa saat Ranti melintas di persawahan miliknya saat menggembala bebek.

            “Ran, aku dengar dari Pak Yogi. Kamu mau menggarap lahan Bapakmu yang ada di bukit itu?” tanya Mas Gung.

            “Rencananya begitu Mas. Tapi, aku belum punya waktu untuk merintisnya. Lahan itu sudah terlalu lama tak digarap. Pohonnya sudah tinggi-tinggi dan aku belum punya kekuatan untuk menghancurkannya.” Ranti tersenyum.

            “Beri upah saja ke orang lain.”

            “Siapa yang mau Mas?” Ranti menopang dagunya. Pandangannya melompat ke sana kemari, berusaha mengingat orang-orang yang mau kerja serabutan.

            “Coba ke rumah Pak Mul. Dia sering merintis lahan orang. Biar saja dia yang mencari kawan untuk membantunya. Lahanmu itu cukup luas. Jika hanya satu orang, pastilah tidak akan cepat selesai. Jadi, kamu harus mengupahi tiga sampai empat orang.”

            Ranti manggut-manggut. “Kira-kira berapa ya upahnya Mas?”

            “Umumnya seratus sampai seratus lima puluh ribu sehari.”

            Ranti mengangguk-anggukan kepalanya sembari berpikir jumlah uang yang akan dia perlukan untuk membuka lahan kebunnya.

            “Rencananya mau kamu tanami apa?”

            “Cabai.”

            “Wah, itu bagus. Harga cabai sekarang sangat bagus di pasaran. Aku yakin kamu pasti berhasil,” ucap Mas Gung.

            “Kenapa Mas Gung seyakin itu? Aku sendiri tidak yakin,” guman Ranti.

            “Karena kamu selalu melakukan hal dengan sungguh-sungguh. Buktinya, sekarang kamu sudah berhasil menyekolahkan kedua adikmu dengan usahamu sendiri. Kamu perempuan yang hebat!” puji Mas Gung.

            “Ah, Mas Gung bisa aja.” Ranti tersipu. Ranti sadar, dia bukan anak gadis berusia 10 tahun. Kini, ia sudah dewasa. Kedua adiknya sudah tumbuh menjadi anak remaja yang cerdas. Ada perasaan bangga dalam benaknya. Bangga karena bisa melewati banyak hal sulit dalam kehidupan.

            Ranti memandang ranting karamunting yang sedari tadi ia kibaskan. “Terima kasih ranting kecil. Kamu adalah awal dari kehidupanku saat ini. Jadilah penunjuk jalan kesuksesanku mewujudkan impian kedua adikku.”



   0 komentar     |        27 views

Untuk melaporkan cerita ini kamu harus masuk dulu.

Tinggalkan komentar

Anda harus masuk untuk meninggalkan komentar


komentar :

  
Powered by Gramedia Pustaka Utama