Ingat saya
Cover



penulis : Martian
dibuat : Saturday, 15 October 2016 12:56 pm
diubah : 1 tahun yang lalu
vote cerita :
0 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 5 (0 votes, rata-rata: 0.00 dari 5)
Anda harus masuk untuk memberikan rating cerita ini.
Loading ... Loading ...
  Tag


  Kategori

  Penulis Terpopuler
score: 2423  Liliana Tan
score: 1969  Dimas Joko
score: 1227  Gusti A.P.
score: 1186  Liamderla
score: 1139  Tala Auna
score: 1070  aya wijaya
score: 999  Andi


  Cerita Terpopuler


FrankFurt

Intuisi & Logika

SINOPSIS

Wanita setia pada perasaannya. Laki-laki setia pada logikanya. Wanita akan menyesal dikemudian hari karena terlalu menuruti perasaannya. Sedangkan laki-laki akan dua kali lebih menyesal dibanding wanita. Satu karena terlalu menuruti logikanya, dan yang kedua karena tidak memiliki kepekaan terhadap berbagai jenis perasaan. Baik perasaan diri pribadi maupun perasaan wanita.

 

 

 

Hujan tiba-tiba mengguyur kota Semarang. Aku dan Dean masih setia menghabiskan minuman kami masing-masing. “Hujannya deras sekali. Aku jadi ingin memesan makanan.” Aku mengambil buku menu yang tergeletak di depanku. Tertindih 2 ponselku yang kuletakkan sejajar. “Kau mau pesan makan juga?” aku membolak balik buku menu ditanganku.

Dean mengamati layar laptop dengan serius. Tangan kanan nya menggerakkan mouse yang baru saja ia keluarkan dari dalam tas. Aku mengabaikannya. Kupanggil pelayan yang masih berdiri di dekat tangga masuk. Dengan segera ia menghampiri meja kami sembari merogoh sesuatu di kantong clemek nya.

“Aku pesan nasi goreng ya, tidak pedas. Kau Dean?” aku melayangkan pandanganku pada Dean. Ia masih terdiam seperti tidak mendengarku. “Itu dulu aja mas. Sama segelas air putih ya.” Aku menaruh kembali buku menu ke atas meja. “Eh, aku mau onion ring mas.” Dean berucap tanpa mengalihkan pandangannya.

Setelah si pelayan pergi aku memajukan badanku ke meja. “Kau sedang apa?” ku intip layar laptop Dean dari atas. “Oh. Hanya memperbaiki beberapa foto nikahan kemarin.” Dean masih fokus pada layar di depannya. Nampaknya kali ini bukan aku saja yang merasa tidak nyaman. Dean pun merasakan hal yang sama. Sehingga dia lebih memilih berkutat dengan laptopnya daripada mendengarkan keluh kesahku.

Sudah 3 tahun terakhir ini aku dan Dean menjalin hubungan baik. Tidak ada hal yang tidak kami ketahui satu sama lain. Kecuali hal-hal pribadi seperti seberapa sering kami melakukan onani. Seberapa besar ukuran kelamin kami. Atau hal-hal semacam itu.

Jika masalah dengan wanita. Kami selalu antusias membicarakannya. Seperti dulu. 2 tahun yang lalu. Ketika Dean datang ke rumahku malam-malam dengan alasan ingin diajari cara mengedit foto. Padahal aku tahu sebenarnya ada yang ingin dia bicarakan. Tidak lebih dan tidak kurang mengenai seorang wanita.

Saat itu Dean punya pacar yang lumayan cantik. Ia datang kerumahku dan menunjukkan foto pacarnya. Seorang wanita berambut panjang dan tinggi kurang lebih Dean. Ia memintaku mengajarinya untuk mengedit foto tersebut dengan software komputer. Dengan senang hati aku kabulkan permintaan Dean itu.

Selagi aku sedang asyik mengedit foto tersebut tiba-tiba Dean bercerita. Ia menceritakan awal mula bertemu pacarnya. Sesuatu yang sesungguhnya tidak aku ketahui. Walaupun kami sudah berkawan cukup lama, namun Dean dan aku selalu memiliki batasan. Dia sudah memiliki terlalu banyak teman untuk diajak sharing. Dan aku bukan salah seorang diantaranya.

Tapi malam itu semua batasan yang menjulang diantara kami menghilang. Runtuh begitu saja. Entah karena ia sudah tidak memiliki teman yang bisa diajak sharing atau ia baru menyadari bahwa aku juga temannya. Namun itu semua bukanlah alasan bagiku untuk mengabaikan setiap detail ceritanya.

Tidak cukup satu malam ia bercerita. Ternyata ia memiliki banyak cerita yang aku tidak tahu. Begitu pun aku yang memiliki banyak gurauan yang membuatnya terpingkal. Hingga suatu hari saat aku sedang main kerumahnya. Cara bicaranya terdengar lain dari biasanya. Akhir-akhir ini Dean memang sering mengeluhkan atas kisah cintanya. Tentang sang pacar yang mempermasalahkan hubungan jarak jauh antara mereka.

Aku sempat menanyakan pada Dean akan kelangsungan hubungan mereka. Namun Dean tampak tidak semangat membahas masalah itu. Seperti ketika aku sedang bermain laptop dikamarnya. Ia terus memegangi ponselnya. Mengetik pesan kemudian terdiam lama menunggu balasan dari pesannya. Begitu terus selama berulang-ulang. Hingga akhirnya ia beranjak mengambil telepon rumahnya.

Aku tahu sesuatu yang tidak beres sedang terjadi pada Dean. Pada kawan ku yang duduk beberapa meter di belakangku. Aku mencoba mengabaikannya dan terus melihat layar laptop. Namun mata dan telinga tidak mungkin bertemu. Aku menguping pembicaraan Dean dan pacarnya. Dean mengambil telepon rumah untuk menghubungi sang pacar. Sesuatu yang gawat sedang terjadi sehingga Dean merasa perlu untuk berbicara langsung dengan pacarnya.

Aku tidak menyangka sebelumnya kalau ternyata Dean adalah orang yang lembut. Dia bisa kasar pada aku atau teman-teman kami yang lain, tapi ternyata tidak dengan pacarnya. Walaupun dalam keadaan darurat sekali pun. Ia berbicara dengan lembut dan suara yang terdengar berbeda. Baru sekali itu aku mendengar sisi lain Dean.

Beberapa kata seperti kenapa, kemudian, oke, maaf, pikirkan sekali lagi terdengar beberapa kali dari pembicaraan mereka. Aku yakin itu adalah akhir dari cerita cinta Dean dengan pacarnya. Aku berhenti menggerakkan scroll pada mouse. Aku beranjak dari tempat duduk ku dan mendekat pada Dean. Jika kami berdua adalah wanita sudah pasti kami akan berpelukan.aku sudah pasti akan menenangkan nya yang menangis tersedu-sedu.

Namun kami laki-laki. Dean punya cara sendiri untuk menunjukkan kekecewaannya dan aku punya cara sendiri untuk menghiburnya. Aku tahu bagaimana perasaan Dean saat itu. Mengingat aku juga baru saja mengakhiri hubungan cintaku dengan Anda beberapa bulan yang lalu. Disitulah kami, dua pemuda patah hati yang sedang menjalani kehidupan cinta yang kurang menguntungkan.

“Apa sedikit pun kau tidak tertarik untuk mendekati Bella? Kalian terlihat sangat cocok.” Aku membuka pembicaraan baru berusaha mengembalikan mood Dean untuk mengobrol. “Aku tidak memiliki rasa apa-apa Sam.” Dean selalu merasa terganggu jika aku menjodohkannya dengan Bella. Tidak hanya aku, kawan-kawan yang lain pun setuju jika mereka bersama. Dean dan Bella maksudku.

“Tapi kalau kalian sedang bersama kau terlihat menikmatinya.” Aku menyeruput kopi dari dalam cangkirku. Kopi itu sudah dingin. Namun itulah kopi, tidak mengurangi sedikitpun kenikmatan ketika meneguknya. “Seperti nya aku biasa saja. Kau saja yang melebih-lebihkan.” Nada suara Dean terdengar kesal. Tampaknya ini bukan waktu yang tepat untuk membicarakan Bella. Salah seorang teman kami dari SMA yang selalu jadi korban penyiksaan Dean, Fendy, dan aku tentu saja.

“Fitri? Bagaimana dengan Fitri. Dulu kalian sudah sangat dekat.” Aku mencari sosok wanita yang lain yang kuanggap bisa mengembalikan mood Dean. “Tidak, Fitri memilih bersama pacarnya yang sekarang. Ia menolak ku Sam, kamu tidak ingat?” Dean mengambil lagi sebatang rokoknya. Akhirnya ia bisa meninggalkan keseriusannya dengan laptopnya.

“Kamu juga aneh Dean. Di usia seperti sekarang masih saja menyatakan cinta lewat telepon.” Aku ingat cerita Dean tentang usahanya menjadikan Fitri pacarnya. Fitri itu teman kami di SMA juga, tapi aku tidak begitu mengenalnya. Berbeda dengan Dean yang memiliki teman banyak di SMA.

Dean hanya terkekeh mengingat kekonyolan aksinya waktu itu. aku juga tidak begitu tahu mengenai kebenaran cerita Dean. Apakah ia telah benar-benar menembak Fitri atau itu hanya cara Dean menutup mulutku. Karena memang dulu aku sering sekali menggoda Dean dengan menyuruhnya menembak Fitri. Lagipula Fitri terlihat sebagai wanita yang baik. Dari cerita Dean juga mereka tampaknya saling menyukai. Tapi ternyata niat baik Dean tidak di indahkan oleh Fitri.

Mungkin Fitri merasa Dean memiliki hati dari baja. Berulang kali Fitri memberi sinyal positif kepada Dean namun Dean mengabaikannya. Hingga sampai akhirnya Dean baru menyadari bahwa ada sesuatu diantara mereka. Namun segala sesuatu yang indah pasti terlambat kita sadari. Fitri tampaknya sudah memilih lelaki lain. Lelaki yang menjadi pacarnya beberapa minggu setelah Dean menyatakan cintanya.

 

Ironis memang. Namun begitulah Dean. Dengan segala kemampuan dan daya tariknya memikat wanita. Ia masih betah tinggal di liang kesepian hanya berkawankan karier, keluarga, dan teman baiknya. Aku. Mungkin hidupnya tidak sepi secara harfiah. Namun sepi dalam segi cinta. Bukan kita yang memilih cinta itu ada atau tidak. Melainkan cinta itu sendiri yang akan memilih siapa orang yang beruntung mendapatkannya. Jika kau yang beruntung, jangan pernah lepaskan. Karena cinta tidak hanya untuk dirimu. Dia bisa dengan mudah terbang, pergi, dan hinggap pada orang lain.



   0 komentar     |        35 views

Untuk melaporkan cerita ini kamu harus masuk dulu.

Tinggalkan komentar

Anda harus masuk untuk meninggalkan komentar


komentar :

  
Powered by Gramedia Pustaka Utama