Ingat saya
Cover



penulis : Momoy
dibuat : Monday, 14 May 2018 10:54 am
diubah : 2 bulan yang lalu
vote cerita :
0 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 5 (0 votes, rata-rata: 0.00 dari 5)
Anda harus masuk untuk memberikan rating cerita ini.
Loading ... Loading ...
  Tag


  Kategori

  Penulis Terpopuler
score: 2413  Liliana Tan
score: 1969  Dimas Joko
score: 1227  Gusti A.P.
score: 1186  Liamderla
score: 1139  Tala Auna
score: 1070  aya wijaya
score: 999  Andi


  Cerita Terpopuler


FrankFurt

Bukan Akhir Cerita (BAG 1)

SINOPSIS

“Air matamu adalah tinta, senyummu adalah pena ketika aku menuliskan kisahku pada lembar hatiku. Cerita yang tertulis dari kedua hal penting dirimu itu tidak akan berakhir dengan kehancuran.”

 

Satu minggu berlalu semenjak Kalisa menyatakan cintanya padaku. Aku pikir semenjak hari itu akan terjadi keanehan pada tingkah Clara, tetapi nyatanya tidak. Semuanya baik-baik saja sampai saat ini. Bahkan, Clara akhir-akhir ini selalu bersemangat dari biasanya. Ia kini lebih sering menghabiskan waktu bersamaku.

 

Namun, sejak malam itu, kabar Kalisa, gadis berparas anggun itu tak pernah sampai padaku. Ada banyak kemungkinan yang bisa terjadi. Tetapi, kemungkinan terburuk ialah bahwa Kalisa mengurungkan niatnya untuk bersekolah kembali di kota ini. Faktanya, Kalisa sudah sangat kecewa padaku. Bahkan, saat aku melihat wajahnya yang sendu, ia penuh dengan keputusasaan.

 

Sepulang sekolah, Clara berencana berkunjung lagi ke rumahku dengan alasan belajar bersama. Alasan Clara memang logis karena UAS sudah dekat. Aku harus belajar dengan giat agar bisa lulus dan mendapat nilai bagus. Dengan begitu, aku bisa masuk ke universitas pilihanku.

 

“Seperti biasa ya, Kakak rajin belajar. Ini, silahkan tehnya!” ujar Lina sembari meletakkan dua gelas teh hangat.

 

“Ya iyalah! Lina juga harus belajar yang rajin biar bisa pintar kayak Kakak,” godaku.

 

“Apa? Bukannya Lina lebih pintar dari Kakak?” balasnya, tampak sewot.

 

“Masak, sih, Lina lebih pintar dari kamu, Yo?” tanya Clara, menimpali.

 

“Bohong! Mana mungkin seorang kakak lebih bodoh dari adiknya,” tegasku lagi.

 

“Ya udah. Kakak emang pintar. Tapi, itu kan karena Kakak lebih dulu sekolah. Wek!” ucap Lina, sembari memonyongkan bibirnya.

 

“Emang kayak gitu!” balasku, angkuh.

 

“Lina tinggal dulu ya, Kak Clara. Kalau Kak Rio macam-macam sama Kak Clara, langsung ditendang aja, Kak!” seru Lina, kemudian melangkah pergi.

 

“Hahahah. Boleh juga tuh!” balas gadis keras kepala bernama Clara, terkekeh. “Kalau gitu, lanjut ke soal berikutnya, Yo!” lanjut Clara, berapi-api.

 

Hari ini sama seperti hari-hari biasanya atau tidak sama sekali. Jika dipikir-pikir kembali, Clara tidak mungkin tidak tahu-menahu soal Kalisa yang menyatakan cintanya padaku seminggu yang lalu di taman. Pada nyatanya, Clara sangat pintar menyembunyikan raut wajah kesedihannya, masalahnya, atau lainnya. Aku begitu tahu segala tentang Clara. Gadis bermata sipit itu sangat sulit ditebak. Meskipun begitu, satu-satunya pilihanku adalah tetap menjalani hari-hari seperti biasa. Aku tidak perlu harus membahas perihal tersebut bersama gadis berkulit putih itu.

 

Sore hari menjelang malam, kuhentikan aktfitas belajarku. Seperti saat sebelumnya, aku harus memasak lagi untuk Clara. Bedanya, kali ini Clara sendiri yang memintaku untuk memasak, sekaligus mengajarinya memasak. Clara penuh antusias.

 

“Yuk, ke dapur!” kami melangkah menuju dapur.

 

“Jadi, apa yang kamu bisa, Ra?” tanyaku, sembari berdiri di depan lemari es, bersiap-siap mengeluarkan bahan-bahan yang ada.

 

“Goreng telur. Biarpun kadang-kadang gosong, sih!” Clara cekikikan.

 

“Aku saranin nggak usah bantu aku deh, Ra.”

 

“Emang kenapa, sih? Aku kan mau belajar, Yo. Malah bagus juga kalau aku bisa bantu kamu, kan?” protes gadis manis itu.

 

“Ya udah. Pertama-tama, kamu harus mengupas bawang merah! Sekalian aja potong kecil-kecil. Harus rapi! Bisa?” tegasku.

 

Gadis bernama Clara itu pun mulai mengupas bawang merah. Sementara aku menyiapkan beberapa bumbu untuk resep yang baru saja kupelajari, mimik wajah Clara tampak begitu serius.

 

“Gimana? Udah selesai, Ra?” tanyaku. Lantas, gadis cantik itu tak menjawab.

 

Aku segera menghampiri Clara.

 

“Ra? Kamu kenapa?” tanyaku lagi, sambil menepuk pundaknya.

 

Gadis berambut lurus itu menoleh. Air matanya tampak bercucuran keluar.

 

“Mata aku pedih, Yo!” katanya lirih, sembari mengusap-usap kedua matanya.

 

“Apa aku bilang! Sini! Biar aku aja!” pekikku, kemudian menggantikan Clara.

 

“Terus, aku mau ngapain?”

 

“Kamu bisa rebus telur?”

 

“Bisa!” jawab Clara, penuh antusias.

 

“Di dalam kulkas ada beberapa telur. Nah, rebus deh telur-telur itu!”

 

“Siap, komandan!” tegas Clara memberi hormat layaknya seorang militer.

 

Entah sudah berapa lama waktu berlalu, masakan kami pun sudah siap untuk disajikan. Clara masih membantuku membawa hidangan-hidangan tersebut ke meja makan.

 

“Lina! Makan malam udah siap, nih!” pekikku.

 

Tak lama kemudian, Lina muncul dari kamarnya.

 

“Wow! Semuanya kelihatan enak-enak, Kak!” seru Lina, ngiler.

 

“Ini resep baru, lho! Jangan sampai dilewatkan yang satu ini!”

 

Semuanya sudah duduk di posisi masing-masing. Aku duduk di sebelah Clara. Kemudian, Lina duduk berhadapan denganku.

 

“Aku coba, ya?” Clara dan Lina serentak mencicipi.

 

“Gimana? Enak nggak?” tanyaku. Kedua gadis itu sibuk mengunyah.

 

“Top! Kakak sudah memenuhi syarat untuk jadi bapak rumah tangga,” ujar Lina, terkekeh.

 

“Masakan kamu emang luar biasa, Yo. Untung aja aku bantu kamu,” ujar Clara.

 

Apa maksudnya ‘untung aja aku bantu kamu’? Memang kalau nggak dibantu sama si Clara, masakan aku nggak bakal enak gitu?

 

Tak dipungkiri lagi bahwa aku sangat bahagia ketika kami bisa berkumpul seperti itu. Aku merasa kami seperti keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah.

 

Terkadang aku berpikir, bagaimana jadinya jika saja posisi Clara digantikan oleh gadis berparas anggun bernama Kalisa? Apakah aku sejahat itu ingin menyingkirkan Clara dari hatiku? Tentu saja tidak! Aku sudah tentu sangat mencintai Clara. Dan seiring berjalannya waktu, rasa cintaku pada gadis berambut lurus itu terus tumbuh dan berkembang. Aku yakin bahwa semua ini karena langkah berani yang kuambil. Dan aku tak menyesal telah melangkah pada jalan yang kutentukan.

 

**

 

Sepulang sekolah aku mengunjungi sebuah tempat di daerah Ampenan. Karena itu adalah permintaan gadis bernama Clara, aku pun hanya bisa menurut dan mengabulkannya.

 

Di pinggir pantai, desir ombak yang santai, angin-angin berhembus sejuk, serta langit sore akan berubah menjadi warna jingga yang indah. Kami terduduk menikmati desir ombak dan birunya air laut, memanjakan mata.

 

“Rio,” panggil Clara sembari memandang jauh laut lepas di hadapan kami.

 

“Iya, Ra?” sahutku, kemudian menolehkan pandanganku ke wajah gadis manis nan cantik itu.

 

“Sebentar lagi kita akan lulus SMA, kan?”

 

“Iya, Ra,benar. Memang kenapa?”

 

“Nggak apa-apa, Yo. Aku sangat bahagia selama ini. Karena kamu, aku nggak kesepian kayak waktu itu. Pertemuan kita sangatlah berarti. Sampai kapan pun, aku nggak akan ngelupain semuanya,” jelas Clara. Dihela napasnya pelan. Tatapan matanya tenang.

 

“Aku juga, Ra. Aku bahagia kamu ada di sisi aku. Aku banyak berubah juga karena kamu.”

 

“Sekarang, aku mau jujur sama kamu, Yo,” kedua mata gadis bermata sipit itu tiba-tiba menatap tajam. Serius.

 

“Tentang apa, Ra?” tanyaku, penasaran. Tak dapat kupalingkan wajahku dari tatapan itu.

 

“Segala tentang pertemuan kita, Yo,” ucapnya, kemudian menghela napas santai. “Sebenarnya, cerita tentang bunuh diri aku itu cuma bohong, Yo,” sambungnya.

 

Aku sedikit terkejut mendengar pengakuan gadis manis itu. Maksudku, aku tak mengerti tujuan sebenarnya ia mengatakan hal tersebut.

 

“Emangnya apa yang sebenarnya terjadi, Ra?” tanyaku, masih tampak santai.

 

“Saat itu…saat di mana kita belum kenal. Aku selalu perhatiin kamu di kelas. Tapi, kamu sama sekali nggak pernah perhatiin aku, Yo. Aku tanya teman-teman aku, tapi mereka bilang kalau kamu orangnya aneh dan nggak mau berteman. Aku nggak percaya sama mereka. Aku mikir gimana caranya buat ngedeketin kamu. Sampai suatu waktu, aku punya ide. Mungkin dengan pura-pura tertabrak, kita bisa kenal lebih dekat.

 

Sepulang sekolah waktu itu, aku kebetulan aja lihat kamu pulang dengan sepeda kamu. Saat itu juga, aku berjalan ke tengah jalan dan terlihat kayak mau nyeberang jalan. Padahal waktu itu, aku cuma diam aja. Tapi, karena kamu ngehindar, kamu membanting kemudi sepeda ke arah yang berlawanan. Dan hasilnya kamu tertabrak mobil yang melintas waktu itu.

 

Aku sempat khawatir sama keadaan kamu, Yo. Aku sampai bela-belain datang ke rumah sakit di mana kamu dirawat. Tapi, aku cuma ngelihat kamu dari balik jendela ruangan di mana kamu sedang terbaring.

 

Maafin aku, Yo! Maafin aku! Maafin aku! Gara-gara aku…,” jelas gadis manis bernama Clara.

 

Clara tampak menahan tangisnya. Dapat kulihat kedua matanya berkaca-kaca, wajah penyesalannya, serta kesedihan hatinya. Aku memang terkejut dengan pernyataan gadis bertubuh elok itu. Bukan mempermasalahkan luka-luka yang kudapatkan, namun karena kebohongannya.

 

“Ya udahlah. Yang lalu biarlah berlalu, Ra. Aku nggak mau mempermasalahkan hal itu lagi.”

 

“Tapi, Yo! Aku sudah salah…”

 

“Sudah, nggak apa-apa! Jangan nangis lagi! Setiap manusia memang punya amarah. Tapi, aku nggak mau gara-gara hal di masa lalu bisa merusak hubungan kita. Apalagi… saat itu kamu memang nggak berniat mencelakai aku. Aku mengerti perasaan kamu.” Jelasku, seraya menghapus air mata gadis manis itu.

 

“Aku masih nggak bisa paham sama kamu, Yo. Bagi aku… kamu cowok paling baik yang pernah aku kenal.”

 

“Sebenarnya ini adalah cerita lama, Ra. Dulu… ayah dan ibuku bertengkar hebat gara-gara masalah sepele. Jadi, aku nggak mau kayak mereka. Itu bisa ngerusak hubungan kita. Emosi itu, ketika sudah menguasai, kita enggak akan pandang bulu. Rasa keprimanusiaan seakan-akan akan jadi nomor sekian.”

 

Air mata gadis berambut lurus itu kembali berderai. Ia terisak. Air mata membanjiri kedua pipinya.

 

“Apa kamu nyoba buat jadi sosok yang sempurna, Rio?” tanya Clara sambil mendekapku erat.

 

“Sama sekali nggak, Ra. Nggak ada yang sempurna di dunia ini. Sesuatu yang indah dan sempurna, hanyalah apa yang diciptakan oleh mata kita. Seseorang pernah bilang kayak gitu, Ra,” kuelus rambut panjang gadis bernama Clara. Wangi shampoo, wangi parfum, tercium jelas karena begitu dekatnya ia denganku.

 

Entah sudah berapa lama, namun kesedihan Clara sudah mereda. Ia tertidur dalam pelukku. Kupandangi kulitnya yang putih dan halus. Wajahnya yang begitu dekat. Hidungnya yang mungil, serta kedua matanya yang terpejam. Lelap.

 

Hembusan napasnya terdengar sangat jelas. Sudah setahun lebih berlalu. Rambutnya yang dulu hanya sebahu, kini telah panjang dan tampak begitu indah. Hitam dan berkilau.

 

Gadis berambut panjang itu terbangun. Tepat saat mentari tenggelam, dan langit-langit menjadi warna jingga yang elok. Tampak sangat indah. Pemandangan itu terukir indah di benak kami. Tersimpan jauh di dalam memori jangka panjang kami, sehingga nantinya tak kan terelakan jika harus terpisah.

–xx–



   0 komentar     |        13 views

Untuk melaporkan cerita ini kamu harus masuk dulu.

Tinggalkan komentar

Anda harus masuk untuk meninggalkan komentar


komentar :

  
Powered by Gramedia Pustaka Utama