Ingat saya
Cover



penulis : obstacleunicorn
dibuat : Thursday, 20 July 2017 3:17 pm
diubah : 11 bulan yang lalu
vote cerita :
0 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 5 (0 votes, rata-rata: 0.00 dari 5)
Anda harus masuk untuk memberikan rating cerita ini.
Loading ... Loading ...
  Tag


  Kategori

  Penulis Terpopuler
score: 2406  Liliana Tan
score: 1969  Dimas Joko
score: 1227  Gusti A.P.
score: 1186  Liamderla
score: 1139  Tala Auna
score: 1070  aya wijaya
score: 999  Andi


  Cerita Terpopuler


FrankFurt

16

SINOPSIS

Aku pernah melihat sekumpulan heyna sedang mengoyak tubuh mangsanya, memisahkan usus kecil dan lambung. Melihat secara langsung, saat Baba ada tour ke Afrika. Saat itu aku masih 13 tahun. Baba mengajakku untuk melihat heyna lebih dekat, dan aku bergidik ngeri karnanya. Baba tertawa dengan tawa khasnya–gigi terlihat sedikit, senyum tipis dan suara tertawa tertahan. Sikap tertawa paling ramah untuk sosok sepertinya. Lalu ia memberi kode lewat jarinya, melangkah lebih dekat agar aku mengikuti. Ajakan yang langsung kutolak mentah-mentah. Tiba-tiba Mahar menyusul kami dengan menyelinap, suara nafasnya yang terengah karna berlari menuju heyna terdengar. Baba tertawa, mengejar Mahar yang sudah beberapa kaki di depan. Kali ini tawanya lebih keras. Sedangkan aku kembali ke tenda dengan perasaan yang selalu kupendam–iri pada Mahar dan sedikit kesal pada Baba. Tawa yang ia bagikan secara tidak rata pada kami berdua. Kenapa harus Mahar? Itu yang selalu kupertanyakan. Namun aku tidak dapat membenci abang semata wayangku. Aku hanya ingin menjadi seperti dirinya, aku selalu begitu. Karna sosok ramah itu tak pernah sombong mencari perhatian Baba, ia hanya perlu menjadi dirinya sendiri.

Dari dalam tenda, kulihat kelompok heyna itu merobek lambung mangsanya, memecah jantungnya dan memuncratkan darah ke segala arah sebelum mengunyah gumpalan daging itu dengan ganas. Mereka tampak seperti mencari sesuatu dalam tubuh mangsanya, karna gerakan dan sobekan yang mereka torehkan begitu nyata.

Kupikir, seperti itulah keadaanku sekarang. Ruangan hanya petugas. Bedanya aku berdiri sendiri, tidak bersama kelompok. Aku memisahkan berkas dari tempatnya, memisahkan akta dari tempatnya, memisahkan dokumen dari lacinya. Begitu ganas.

Dimana? Dimana sisa-sisa dari akta itu? Barangkali formulir pembayaran ataupun–

Aku merasakan tangan kekar menggengam lenganku dan menarik tubuhku mundur. Aku berontak, terus mengoyak mangsaku….ataupun sekadar alamat palsu yang ayah Amir tulis di atas kertas formulir itu… Sekarang, dua tangan mencengkram lenganku hingga terasa sakit, seakan mereka balas mengoyak dagingku… Aku akan melacak alamat palsu itu hingga ujung dunia… “Maaf, Tuan Faris Hakim. Tapi saya rasa kita selesai di sini” tidak, aku tidak akan meninggalkan Amir sendirian… Kakiku tidak bisa lagi menahan dorongan tubuh mereka dan aku merasa kakiku menendang daun pintu ruangan arsip ini… Amir… Amir…

Berhenti, bodoh. Aku berada di luar ruangan dengan tatapan-tatapan orang yang menghujani diriku. Rasa sesak di dadaku. Amarah. Berhenti mencegahku, kumohon. Aku hendak masuk kembali, mengoyak mangsaku kembali, saat kusadari aku bukanlah heyna yang sedang dishooting stasiun TV.

Aku hampir meneriakkan marga asliku untuk membuat mereka berhenti mencegahku, bahwa aku boleh lakukan apa yang orang lain tidak boleh. Karna aku anak orang terpandang di RS ini dan RS manapun. Mereka tidak bisa menarikku begitu saja dari ruang arsip. Setidaknya mereka harus mengusirku dengan lebih sopan.  Zain Haitham, dan aku teringat semua orang mengenal Baba. Haitham.

Ayahku bisa disebut seorang pengendali bom karna seluruh bom yang dikirim ataupun yang dilepas, semua atas persetujuannya. Di bawah Baba, ada seorang jendral yang tak berdaya jika Baba tidak menyetujui satu-dua bom yang ia tembaki. Dan di bawah sang jendral, terbagi beberapa unit yang punya tugas masing-masing: penyerang dan penjaga daerah selatan Suriah, utara, barat, timur hingga laut pemisah Suriah dari negara lain. Di bawah unit-unit itu, ada banyak tentara yang mengebom dari darat. Juga udara, tentunya. Ada juga tentara yang mendapat jatah mengendalikan tank-tank dan menembaki beberapa rumah yang masih ada isinya, ibu-ibu hamil dan anak-anak…

Ada juga tentara yang bertugas tanpa pesawat, tank ataupun kapal. Merekalah tentara yang tugasnya hanya menjaga Perbatasan dengan senapan di dada…

Tentara itu salah satunya adalah aku. Hubunganku dengan Baba jauh sekali, ya? Tentu. Kecuali, jika kau menarik garis hubungan kami lewat jalur keluarga. Sangat dekat.

Aku terdiam, menyadari ada atap di atasku dan lantai di bawah. Lorong rumah sakit yang saat itu berisi kursi tunggu dan pintu ruangan. Aku bukan heyna. Aku anak manusia. Namaku Zain Haitham dan ayahku Bazugh Abu Haitham. Aku keturunannya, dan tetap menjadi anaknya. Ayahku adalah aku, aku adalah cerminan dirinya–kami sama. Tidak dapat dicekal.

Beberapa detik kemudian aku mulai tenang dan mencoba untuk tidak memikirkannya lagi–Aziz memberiku segelas air, Amir kembali menyelipkan jemarinya diantara milikku, Dokter anak yang kusarankan untuk diganti itu berubah jadi ramah padaku–ia duduk di sampingku dan berbicara tentang banyak hal. Aku tidak mendengarnya sedikit pun.

Suasana kembali tenang, seakan-akan semuanya tergantung emosiku, dan satu jam kemudian orang-orang menyarankan agar aku pulang dan istirahat–aku menyetujuinya. Akan kucari jalan keluarnya dengan kepala dingin. Aziz bertanya padaku ketika aku bangkit dari tempat duduk–aku sudah satu jam duduk di situ, dan kursiku sudah menghangat, “Boleh tahu kenapa mencari orangtua anak ini sangat berarti bagimu?”

Aku menatapnya dengan tatapanapa-kau-bilang?-berani-beraninya (aku sangat sensitif jika sedang marah, hingga pertanyaan semacam ini saja terdengar seperti ancaman bagiku) Ia segera memperbaiki keadaan, “Maaf, aku hanya ingin tahu. Siapa tahu bisa membantu”

Tidak semua orang yang tinggal di suatu negara setuju dengan pemerintahnya. Adakah manusia yang menyukai perang? Tidak. Yang menyukai perang tentunya bukan manusia. Terkadang aku berharap agar bisa menjadi salah satu dari rakyat Suriah biasa, mereka-mereka yang membenci peperangan. Sebaliknya, mereka malah diperangi.

Namun, tentu saja, akulah pemerintahnya. Pemerintah mengendalikan perang. Dan tidak bisa untuk tidak setuju dengan diri sendiri.

Kuhadapkan wajahku pada Aziz, “Itu berarti segalanya bagiku” itu bukan sebuah jawaban, namun hanya itu yang bisa keluar dari mulutku. Dengan ekor mataku, kulihat Mahar mengintip dari balik dinding, bersembunyi di sana, mungkin sudah menguping selama lebih dari satu jam. Kutahu ia mendengarku mengatakanberarti segalanya. Walau itu hanya sekedar perkataan saja–aku tidak yakin dapat melakukan hal yang berarti segalanya bagiku.

Mataku menyiratkan sesuatu padanya. Hanya ini yang dapat kulakukan, Mahar, kataku lewat tatapan sambil melirik tangan sendiri. Aku masih menggenggam Amir. Dan Mahar tersenyum. Ia tersenyum.

 



 

Tungkai kakiku lemas dan bergetar, hingga rasanya aku sedang menyeret kaki gajah. Aku keluar RS, memaksa tanganku masuk ke saku untuk mengambil kunci. Memaksa diriku keluar dari bangunan ini dengan menyetir mobil. Mataku tidak sanggup menatap Amir lagi–tidak untuk beberapa waktu ke depan. Ia mengerti permasalahan yang sedang kuhadapi dan berkata–setengah berbisik, “Aku akan senang jika kau masukan aku ke panti yang berAC”

Aku tertawa dan menatap jarak diantara kaki kami–lalu menunduk kembali. Teringat bahwa tidak mungkin bagiku untuk menengoknya. Tidak akan pernah. Kuedarkan pandanganku ke kaca mobil yang berwarna gelap dan kulihat bayangan Mahar di belakangku.

Dan itu benar-benar dia. Dia ada di belakangku, telah membuntuti dari kapan tahu.

“Apa kau akan menyerah begitu saja?” Ia bertanya, nadanya menantang. Ia masukkan tangannya ke saku jas putih, seperti yang selalu ia lakukan ketika aku tidak bisa mengerjakan PR, ketika aku bertekad dengan lunglai untuk menyerah. Gaya yang menyebalkan namun selalu jadi pacuan tersendiri.

Ia mengobrol denganku, agak dikeraskan agar Amir ikut mengerti. Aku tidak dapat berkata apapun (termasuk terimakasih sekalipun) saat dengan bahasa arabnya yang fasih ia menjelaskan hendak membantuku dan anak bernama–“Eh, siapa namamu?”Mahar bertanya.

“Amir” Amir sendiri yang menjawab. Itu kali pertama mereka berkomunikasi, dan setelahnya, mereka banyak berkomunikasi.

 



 

Mahar bekerja di RS ini untuk membantu orang-orang, dan tepatnya juga, demi sedikit tambahan uang. Ia akan kembali ke lapangan, sebagai relawan, bulan depan. Ia sudah menghabiskan 4 bulan lamanya di Rumah Sakit Militer, dan akunya, ia mengenal RS ini dengan baik.

Ia bekerja sebagai dokter luka dalam. Itu pekerjaan yang cocok untuknya di lapangan maupun disini. Aku agak penasaran bagaimana relawan sepertinya diijinkan membantu militer juga. ia berkata, “Yang kurawat disini bukanlah tentara yang suka mendzolimi rakyatnya sendiri, melainkan orang-orang kaya biasa. Tak ada bedanya dengan bekerja di lapangan, bukan? Sama saja aku membantu orang-orang tak bersalah”kurasakan nada menyindir yang kali ini tidak menghujam. Terkesan lembut seperti nasihat.

Saat ini ia sedang tidak ada pasien–maksudnya, sedang dalam waktu istirahat. Banyak pasien menunggu yang akan ia layani setelah waktu istirahat berakhir, ia menjelaskan.

Ia menceritakan semua itu sambil berjalan di depanku, tidak melirikku samasekali namun suaranya terdengar ceria. Ia menyebut sesuatu dengan sangat tidak jelas karna diselingi suara tawa. Aku menangkap rasa canggung diantara tahun-tahun kami tak bersama, canggung seakan kami tak saling mengenal, karna ia tidak memandang wajahku samasekali. Ia bersikap canggung bukan karna benci padaku. Terlebih karna ia pikir aku membencinya, sebenarnya aku sendiri tidak tahu harus membencinya atau tidak.

Ketika kami melihat sebuah ruangan dengan pintu yang terbuka seperempatnya, ia membalikkan badan untuk menghadapku. Menatapku dengan mata yang sedikit lebih besar seakan melihat potongan gambar, mimpi-mimpi buruk yang tersusun. Mungkin masih sulit baginya untuk menerima kenyataan, bahwa aku berdiri di sini, bahwa kami bertemu lagi. Ia tampak kaget setiap kali mengedarkan pandangannya untukku. Begitu pun aku, tidak pernah kulihat masa depanku akan terisi dengan kehadirannya kembali, walau sedetik saja. Siapa yang tahu apa yang bakal terjadi di hari esok, bukan?

Ia menggaruk kepala–ia selalu melakukannya jika hawa berubah jadi canggung. Aku berkata, “Tidak perlu grogi” dan ia balas dengan tawa kecil. Ia jauh lebih santai daripada dirinya satu jam lalu. Beberapa kali ia tertawa.

“Jam istirahat sudah habis. Aku harus mengurus pasien dulu”

“Aku tahu”

“Jadi, ehm… Mungkin kita bisa bertemu satu jam lagi”

“Oke” aku langsung berbalik badan tanpa pamit dan dalam adat keluargaku, hal itu disebut tidak sopan. Berbalik tanpa pamitan. Tentunya Mahar tidak mengharapkan gerakan ini. Aku sendiri bingung, kenapa aku melakukannya? Namun Mahar tidak mempermasalahkan hal itu. Katanya, “Kau dan Amir jangan kemana-mana”

“Tentu saja”

Ia menghilang di balik ruangannya dan aku pergi ke Restoran RS. Amir menanyakan kebab aleppo, seketika kubilang hal itu kemungkinan tidak tersedia disini. Kurasa itu terlalu menyedihkan untuk dimengerti oleh anak kecil. Atau mungkin karna kenangan buruk akan restoran ‘kebab aleppo’ masih lengket di otakku, namun Amir meresponnya dengan biasa-biasa saja. Kupesankan untuknya hotdog dan ia berkomentar, “Tidak selezat kebab kesukaan kita” aku mengangguk. Kupesan nasi kebuli untuk diriku sendiri.

Kami harus menunggu, setidaknya satu jam sebelum Mahar membantu kami–aku yakin ia sudi membantu, hanya saja, aku tidak yakin ia akan berhasil dan memberi kami sebuah peluang baru.

 



 

Mahar menemuiku dan Amir di ujung lorong. Ia memanggil kami dengan gerakan tangan.

“Apa rencanamu?” Aku bertanya.

Ia berdeham (kenapa orang di RS ini sering berdeham semua?), melirik kanan-kiri seperti menghindari seseorang. Kemudian jari telunjuknya mengarah ke ruangan arsip dan menjelaskan, “Aku tidak yakin bahwa tidak ada data yang tertinggal”

Aku setuju. “Aku pun berpikir begitu”. Jika tebakanku benar, Mahar dan aku akan mencari-cari file di ruangan itu lagi secara sembunyi-sembunyi. Itulah rencana Mahar, dalam pikiranku.

Mahar mengangguk. “Dengar” katanya, “Taruh Amir di halaman belakang”

“Apa?”

“Taruh Amir di halaman belakang. Tinggalkan ia di situ. Ia tidak bisa di sini. Ia harus tampak sedang bermain-main sendirian agar tidak ada yang curiga untuk mengecek ruangan ini dan–“

“Kau gila?!” Suaraku meninggi, kemudianMahar ber-ssst mengingatkan. Kukecilkan volume suaraku, “Amir tidak akan pergi kemana-mana”

“Kenapa?”

“Kau gila, Mahar?! Aku dan Amir, kami kabur dari Dataran Tinggi Golan. Kami buronan. Orang-orang Baba maupun tentara di sana sedang mencari kami, dan terutama mencariku”

“Aku tidak gila, Zain”

“Kau tidak gila tapi kau tidak mengerti situasinya”

“Dengar” ia mengangkat telunjuknya di depan hidungku, “Aku mengerti. Sangat mengerti. Tapi mungkin ini yang terbaik, oke? Aku akan bertanggung jawab atas apapun yang terjadi”

Aku diam saja. Setahuku Mahar tidak pernah berbohong, tapi tetap saja aku kurang mempercayainya. Aku memberinya tatapan yang menyiratkan bahwa keadaan kami tidak sama dengan orang biasa. Akhirnya, aku menitipkan Amir pada kepercayaanku akan kata-kata Mahar, yang sebenarnya kulakukan karna terdesak tidak punya pilihan lain.

Mahar mengelus kerah baju Amir, mengelus bahunya lembut. Dulu, Mahar tidak begitu peduli pada anak kecil. Sesuatu dapat berubah dari hal asing menjadi hal yang ia akrabi. Perangainya kian melembut, nyaris menyerupai ibuku, kutebak karna seringnya ia mengobati anak-anak yang terluka.“Amir, kau bisa turun ke lantai bawah dan bermain di halaman belakang, Nak?” tanya kakakku.

“Ya” komunikasi kedua Amir dan Mahar.

“Jangan kemana-mana hingga Zain menjemputmu. Jangan mau diajak siapapun, dan jangan menerima apapun dari orang asing, mengerti?”

Amir mengangguk. Ia mengambil beberapa receh uang dari Mahar–supaya ia bisa jajan sendiri dan tidak perlu menerima permendariorangasing-atau-apalah. Ketika ia berlalu, aku berkata pada Mahar, “Dia seperti saudaraku. Aku tidak mau kehilangan dia”

Mahar melirikku. Tatapannya yang sulit kujelaskan. Ada sedikit kilat dan kabut di matanya, dan dari mulutnya yang terbuka seperti hendak mengatakan satu hal, aku menyadari sesuatu. Kukira ia ingin menjadi saudaraku lagi.

 

Senyumnya saat melihatku pertama kali setelah bertahun-tahun, kesedihan bercampur amarah yang tergurat di wajahnya ketika kutolak ia, semangatnya membantuku dan caranya mencoba bercakap-cakap denganku. Namun ternyata ia hanya berkata, “Aku tahu”



   0 komentar     |        12 views

Untuk melaporkan cerita ini kamu harus masuk dulu.

Tinggalkan komentar

Anda harus masuk untuk meninggalkan komentar


komentar :

  
Powered by Gramedia Pustaka Utama