Ingat saya
Cover



penulis : kyuukou okami
dibuat : Wednesday, 03 August 2016 7:41 pm
diubah : 2 tahun yang lalu
vote cerita :
0 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 5 (0 votes, rata-rata: 0.00 dari 5)
Anda harus masuk untuk memberikan rating cerita ini.
Loading ... Loading ...
  Tag


  Kategori

FrankFurt

[CERPEN] Negeri Putih

SINOPSIS

Angin berhembus semilir, merenggut paksa helai-helai dedaunan lepas dari tempat berpijaknya dan melayang bebas di angkasa, membentuk putaran-putaran dramatis menghambur sunyi.

Putih. Semuanya putih. Langit, dedaunan, air, jalan, bangunan, orang-orang yang lalu lalang. Semua sudut pemikiran kami tak mengenal warna lainnya. Hanya putih sejauh yang bisa dipandang. Putih memenuhi udara.

Tuhan tolong aku. Warna ini menyesakkan. Aku hancur, luluh lantak.

Di Negeri Putih, semua halnya berwarna putih. Tapi terima kasih, berkat perasaan ini aku mengenal warna-warna lainnya. Pemikiranku bagaikan sulur-sulur panjang saling membelit tanpa pangkal. Gelap. Suram itu kini hinggap di kepalaku tak ingin pergi.

Tapi ada warna lainnya. Perasaan ini seperti sinar matahari. Panasnya menyakitkan namun di saat bersamaan juga nyaman. Jantungku melompat, melonjak, berhenti, kemudian berdegup kembali lebih kencang. Warnanya tak seputih seharusnya. Aku menyala. Terang.

Setelah perasaan ini datang, warnaku berubah. Membara. Penuh hasrat dan kehidupan. Aku menari, terbang, tertawa lepas. Aku merasa berbeda, terlahir kembali. Tapi mengapa mereka membencinya? Mengapa mereka ingin memusnahkannya?

-o0o-

“Apa ini juga tempatmu bersembunyi?”

Mendapati seorang gadis berdiri di tepi Tebing Lepas, aku terpaku dan bertanya-tanya. Rambut panjang dan gaun putih yang dikenakannya berkibar lembut dibuai angin. Kulitnya begitu berkilau hingga hampir terlihat seperti perak murni yang ditempa sempurna. Mata putih keperakan itu menelisikku dengan anggun dan bersahabat.

Tak pernah aku lihat dia di tempat itu—tak pernah aku lihat SIAPA PUN di tempat itu—sebelumnya. Tempat rahasia ini milikku sejak aku dapat berjalan, hanya milikku. Namun sejak sore itu, semuanya berbeda.

Aku tak menjawab pertanyaannya. Aku terlalu terkejut untuk melakukannya. Ia tersenyum dan melangkah ke samping, seakan memberiku ruang untuk berdiri di sisinya. Apakah aku harus berbalik dan pergi dari sana untuk mencari tempat sunyi-ku yang baru, atau aku harus melangkah dan mengisi ruang yang diberikannya, aku bimbang.

Mengapa ia ada di sana? Sejak kapan ia mengetahui tebing tersembunyi ini? Aku menghabiskan hampir sebagian hidupku di sini, namun mengapa aku tak pernah bertemu dengannya sebelumnya? Kuhabiskan seluruh pemikiranku dengan berbagai pertanyaan itu hingga belum sempat kusadari, aku telah berdiri di sisinya.

Angin kembali berhembus. Kali ini lebih kencang, seakan menggoda kami dengan mencoba menunjukkan sunyi yang tercipta. Aroma tubuhnya menari-nari membelaiku. Perpaduan antara bunga Son Edel yang manis dan ceria dengan kayu Bintang yang hangat dan nyaman.

“Tiana, Tiana Il Asura.” Suaranya membuyarkan angin, ia menoleh kepadaku. “Dan kau?”

“Dylar…uh—Sel Farni.” Gugup, jantungku berdentum-dentum keras. Bukan hanya tak terbiasa berhadapan dengan seorang gadis—satu-satunya gadis yang sering kutemui hanya adikku, Brisa, yang sikapnya seringkali sangat superior seperti seorang lelaki muda–tapi juga karena sesuatu yang lain. Aneh. Jantungku berdegup panas dan tak keruan.

Ia tersenyum dan kembali menatap langit. Saatnya hampir tiba.

Pandangan kami menelisik kelandaian horison dengan penuh harap. Aku tak pernah dapat menghitung menit menjelang munculnya Warna Lain ini, rasanya seperti masuk ke dimensi yang berbeda di mana konsep waktu tak pernah ada. Harapanku—dan mungkin harapan gadis itu pula—perlahan terkabulkan. Warna putih mulai terjajah dari kaki langit, didesak oleh Warna Lain yang menelusup pori-pori angkasa. Terang dan silau yang biasa terpampang menaungi kepala kami kini mulai tergantikan. Warna Lain ini juga terang, kami tak mengenal sebutannya, hanya jenis terang yang berbeda dari putih, yang ini lebih ceria tapi tak menyilaukan mata, juga ada lainnya yang redup dan agak gelap, tapi kesemuanya mampu berpadu sangat indah.

Warna Lain terus mendominasi sepetak kaki langit hingga naik ke angkasa, tak begitu lebar, hanya seperti garis-garis yang digoreskan seorang pelukis dengan kuas datar selebar dua inci di kanvas dengan luas sepuluh kali lipat. Warna Lain itu tak berlangsung lama. Hanya beberapa napas  terjadi sebelum semuanya memudar dan kembali menjadi putih terang. Aku tersegap. Sihirnya telah selesai.

Aku menoleh kepada gadis itu. Tatapannya masih terpaku pada bekas-bekas samar yang ditinggalkan Warna Lain. Udara selalu menjadi lebih sunyi dari sebelumnya di saat seperti ini hingga aku dapat mendengar suara napasnya yang halus dan teratur.

“Kita akan bertemu lagi, kan?” Tanpa kusadari, aku bergumam. Di mana kegugupanku yang sebelumnya? Rasanya telah memudar bersamaan dengan warna ajaib yang barusan muncul dan pergi di langit.

Ia mengalihkan matanya kepadaku, tersenyum lembut.

-o0o-

Mengingat itu semua, jantungku kian terkoyak. Aku luka-luka. Aku tahu aku berbeda, sejak kecil aku tidak seputih yang seharusnya. Ibuku bahkan menjerit-jerit ketika mendapatinya bayi pertamanya berwarna sangat berbeda dari orang-orang di negeri tempatnya dan leluhur-leluhurnya dibesarkan.

“Kau tidak boleh, Dylar,” Ibuku berbisik dengan nada ketakutan, “terlihat seperti ini.”

“Mengapa Ibu?”

Aku selalu menanyakan pertanyaan yang sama, namun aku tahu aku tak akan pernah dapat jawabannya, karena untuk semua pertanyaan yang telah kulontarkan hingga usiaku tujuh tahun, Ibu hanya dapat menangis dan menangis.

                  Sejak lahir aku tak mengenal ayahku sedangkan Ibuku menghabiskan seluruh hidupnya untuk menyembunyikan aku dari semua orang. Ia beruntung putrinya terlahir normal, namun Brisa tak beruntung memiliki aku sebagai kakaknya.

Kini sepuluh tahun berlalu sejak saat itu, aku akhirnya mengerti alasan mengapa aku disembunyikan. Putih adalah warna yang suci, warna lainnya tak diinginkan. Falsafah itu telah bercokol erat sebagai dasar pemikiran semua makhluk yang kutahu di Negeri Putih. Namun lantas jika begitu, bagaimana dengan diriku? Bagaimana dengan Warna Lain yang terlihat di kaki langit dari tebing rahasiaku? Bagaimana dengan Tiana, jika ia mengetahui aku yang sebenarnya?

-o0o-

“Dylar Sel Farni.”

Aku  meneguk air liur dengan gugup. Pikiranku kacau balau, carut marut. Aku tak bersembunyi karena memang tak ada yang bisa disembunyikan dari mereka. Tidak setelah warnaku membongkar semua garis toleransi akal sehat mereka.

Aku tersiksa dan mereka tahu betul mereka sedang menyiksaku, tapi tak ada yang mengerti betapa aku berharap mereka menemukan sesuatu, apa saja yang dapat menjawab pertanyaan yang biasanya kulontarkan pada mendiang ibuku. Tapi toh tak ada gunanya. Bunuh aku sekalian, sungguh tak apa, tapi aku tetap akan berwarna seperti ini selama aku tak dapat melupakannya. Tidak sedetik pun.

“Kau tak dapat disembuhkan.”

Aku tak bisa bernapas, hilang harapan.

“Aku jatuh cinta padanya.” Aku tak kuasa menyembunyikannya lagi. Semua pemikiran gila mulai bertebaran di kepalaku, sedikit demi sedikit memangsa akal sehatku. Iya, cinta memang tak pernah berjalan sesuai akal sehat.

Kening mereka berkerut melihatku. Aku memilih memasrahkan diri. “Warna kulitku berubah sesuai dengan hatiku, tak ada yang dapat kulakukan.”

Kini mereka saling berpandangan satu sama lain. Terserah apa yang mereka pikirkan, aku tak peduli lagi. Hanya satu yang aku inginkan: aku ingin bertemu Tiana. Aku begitu merindukannya.

-o0o-

“Dylar?” Gadis itu terbelalak melihatku.

Aku tahu, aku tak terlihat seperti yang seharusnya. ‘Apakah aku mengejutkanmu?’, hampir saja aku bertanya begitu. Bodoh, Dylar bodoh. Tanpa kau tanya pun jawabannya sudah jelas. Dia bukan hanya terkejut, dia pasti syok hebat.

 “Maafkan aku, Tiana. Aku berbeda.”

Ia tercenung. Tak bergerak selama beberapa menit sebelum akhirnya melangkah mendekatiku, menatapku lekat-lekat.

“Puluhan kali kita bertemu dan memandang langit bersama di tempat ini, akhirnya aku tahu, bahwa ada warna lainnya selain Warna Lain di langit itu.” Ia bergumam halus dan tersenyum lembut.

Tolong jangan tersenyum, Tiana. Jantungku tak kuasa lagi. Mengapa melihat senyum seseorang dapat menciptakan rasa nyeri yang sebegini hebat? Rasa ini menyebar ke seluruh tubuhku. Aku porak poranda.

“Apa yang membuat warnamu berubah, Dylar?

“Kau.”

“Aku?”

“Aku jatuh cinta, padamu.”

-o0o-

“Kau tak dapat diterima di sini lagi.”

Kata-kata itu terngiang di telingaku. Dadaku sesak. Apakah itu berarti aku tak dapat bertemu Tiana kembali? Ya, aku tidak dapat bertemu dengannya lagi. Juga Brisa, satu-satunya keluargaku. Mengapa, Tuhan? Mengapa?

“Warnaku tak membunuh kalian. Warnaku tak bersalah.” Dengan kalut aku mengerang. Aku hancur, semua cintaku telah direnggut hilang hanya karena aku tak memiliki terang yang menyilaukan. Betapa pun klise itu terdengar, rasanya tak pernah adil di kehidupan nyata. “Mengapa kalian menyingkirkanku hanya karena aku berbeda? Mengapa aku tak bisa berbeda?”

Bibir mereka terkatup rapat, tidak menerima pembantahan. Usai sudah.

“Kau harus pergi dari Negeri Putih. Melintasi batas horison menuju ke dunia jauh di mana kami tak dapat melihatmu kembali.”

-o0o-

Untuk terakhir kalinya, aku berdiri di sini, di tepi Tebing Lepas. Tidak ada lagi Warna Lain yang datang sejak hari itu. Alam laksana menghukumku, seakan membenci warnaku. Haruskah aku bersyukur karena tak dihukum mati dan jasadku dimusnahkan oleh petir suci, atau tak ada yang dapat disyukuri, karena apabila kami—orang Negeri Putih—melewati batas horison, artinya hanya satu: kematian.

Angin kembali berhembus, seakan menertawakan sunyi yang menggempita di sekelilingku. Aku pun tertawa dibuatnya. Tertawa dalam kesedihan mendalam. Hidupku akan berakhir karena aku tak dapat mengendalikan perasaanku sendiri. Aku tertawa dalam pilu, menertawai hidup dan betapa lucu alurnya. Aku terus tertawa sampai angin membawa wangi yang kukenal erat. Aroma yang familar memenuhi kepala dan menyesakkan dadaku. Perpaduan antara bunga Son Edel dan kayu Bintang.

“Dylar, bawa aku bersamamu.”

Putih. Semuanya putih. Langit, dedaunan, air, jalan, bangunan, orang-orang yang lalu lalang. Semua sudut pemikiran kami tak mengenal warna lainnya. Hanya putih sejauh yang bisa dipandang. Putih memenuhi udara.

Normal
0

false
false
false

IN
X-NONE
X-NONE

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin-top:0cm;
mso-para-margin-right:.85pt;
mso-para-margin-bottom:12.0pt;
mso-para-margin-left:0cm;
text-align:justify;
line-height:150%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:Calibri;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-ansi-language:IN;}

Namun ada satu warna lain yang berbeda: perasaanku pada Tiana Il Asura.



   0 komentar     |        598 views

Untuk melaporkan cerita ini kamu harus masuk dulu.

Tinggalkan komentar

Anda harus masuk untuk meninggalkan komentar


komentar :

  
Powered by Gramedia Pustaka Utama