Ingat saya
Cover



penulis : shelly habsari
dibuat : Friday, 17 November 2017 4:31 pm
diubah : 1 bulan yang lalu
vote cerita :
0 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 5 (0 votes, rata-rata: 0.00 dari 5)
Anda harus masuk untuk memberikan rating cerita ini.
Loading ... Loading ...
  Tag


  Kategori

FrankFurt

[CERPEN] Gadis Kecil Itu

SINOPSIS

         Seorang polisi berbadan gempal saat itu sedang berdiri di samping meja kerjanya sambil menekan tombol-tombol remote televisi di depannya dengan menggunakan ibu jarinya sendiri. Ia mencari-cari channel yang bagus untuk tontonan siang hari ini.

            Tapi dari tadi yang ia lihat hanya sinetron atau drama reality. Ia berdecak kesal dan akhirnya menekan tombol 5 di remote tersebut dengan tidak sabar. Kali ini ia tersenyum sambil menggosok-gosok hidungnya yang gatal karena kumisnya yang terlalu tebal. Ia duduk di kursinya untuk menyelesaikan tugasnya sambil sesekali memasang telinganya mendengarkan berita siang di salah satu TV swasta tersebut.

            “Menurut Anton (30), anaknya hilang sejak seminggu yang lalu. Saat ia menghubungi pihak sekolah, guru-guru mengaku bahwa Risky, anak Anton dijemput oleh orang yang mengaku pamannya. Saat ini polisi sedang…” polisi berbadan gempal itu menghentikan aktivitasnya sejenak sambil menoleh ke arah dua orang polisi lain yang baru saja masuk ke ruangan ini.

            “Apa keluarganya sudah ditemukan?” Tanya polisi berbadan gempal pada polisi berbadan kurus dan berkacamata yang baru masuk tadi. Polisi yang merasa diajak bicara oleh polisi berbadan gempal itu menoleh.

            “Oh, belum Sersan. Kalau besok tidak ada keluarga yang menjemputnya, terpaksa mayat anak laki-laki itu akan kami kebumikan” jawabnya sambil duduk di kursinya.

            Yang mereka berdua bicarakan adalah mayat anak laki-laki yang ditemukan di pinggir sungai Rupat. Diperkirakan anak itu dibunuh sehari sebelumnya dengan cara ditusuk di bagian jantung. Ia ditemukan dalam keadaan tangan dan kaki terikat serta tanpa identitas apa pun.

            “Bukankah penemuan mayat itu masuk berita kemarin?” Tanya polisi satunya yang memakai jas. Mungkin itulah kata-kata pertama yang kudengar saat aku memasuki kantor polisi itu. Aku masuk sambil menggandeng seorang gadis kecil yang umurnya kira-kira 10 tahun dan pakaiannya sangat lusuh. Rambut gadis kecil itu terikat longgar di belakang kepala dan tidak sedikit rambutnya yang terjuntai tidak ikut terikat.

Aku berjalan ke arah polisi berbadan gempal yang dari pangkatnya aku tahu bahwa dia orang tertinggi di ruangan ini. Tanpa diperintah aku langsung duduk di kursi yang ada tepat di meja sang sersan.

“Ada yang bisa dibantu, Tuan…”

“Rudi. Saya karyawan di perusahaan swasta dekat bank di seberang jalan itu,” kataku. Polisi itu mengangguk-angguk.

“Dia mencuri dompetku, Pak” lanjutku sambil menunjuk gadis kecil di sebelahku. Polisi berbadan gempal itu memandang si gadis kecil. Ia tampak heran melihatnya seperti juga aku. Tidak tampak ketakutan di wajah gadis kecil itu. Ia tidak menangis seperti kebanyakan anak kecil lainnya yang ketahuan mencopet. Justru di matanya tersirat arti kelegaan. Wajahnya memang sayu. Tapi tersungging senyum tipis di bibirnya. Dia jadi berpikir bahwa ada suatu rahasia besar yang disembunyikan gadis kecil itu hingga ia nekat mencopet. Tapi apa?

“Kenapa kau mencopet, nak?” Tanya polisi berbadan gempal itu. Anak itu diam seribu bahasa. Sang polisi memandangku dengan tatapan bingung sementara aku menaikkan pundakku. Polisi itu bertanya lagi.

“Siapa orang tuamu?” Hening. Gadis kecil itu tetap tidak mau bicara. Aku membungkukkan tubuhku berusaha menjajarkan tinggiku dengan gadis itu.

“Nak, jika kau bicara, kami akan melepasmu. Kami tidak akan menahanmu di sini. Kau tahu mencopet itu tidak baik kan? Jadi bicaralah!” ucapku bijak. Aku bicara agak pelan padanya agar ia tidak merasa tertekan. Tapi gadis kecil itu tidak bergeming sedikit pun.

“Ada seseorang yang melarangmu bicara?” tanyaku lagi. Gadis itu melihat ke arah jendela sedetik lalu kembali menunduk. Aku dan polisi itu curiga tentang apa yang dia lihat lantas melihat juga ke arah jendela. Tak ada apa pun.

“Jika aku bicara, maka kalian akan melepaskanku?” akhirnya ia mengeluarkan suara. Aku baru saja akan mengambil keputusan bahwa anak ini sebenarnya bisu.

“Tentu saja. Aku jamin itu!” janjiku. Ia melirik ke jendela lagi lalu ia menghela napas.

“Aku tidak akan bicara!” ungkapnya ketus membuat polisi berbadan gempal yang tadi menggenggam tangannya di meja kini menempelkan punggungnya di kursi dan melipat tangannya. Aku juga ikut kecewa.

Lama semuanya hanya diam. Gadis itu nampak gelisah. Ia menginjakkan kakinya yang tanpa alas itu bergantian. Sersan yang sadar akan kegelisahan gadis kecil itu akhirnya menempelkan perutnya yang gempal di bahu meja dan mendekatkan wajahnya pada gadis itu.

“Kau kenapa?” tanyanya.

“Aku ingin ke toilet “ katanya masih dengan wajah datar tanpa ekspresi.

“Kau tidak mencoba untuk kabur, kan?” tuduh si polisi berbadan gempal.

“Kau bisa mengantarku kalau kau mau paman” ucapnya ketus.

“Biar aku yang mengantarnya,” akhirnya aku angkat bicara dan menggandeng tangan anak itu menuju toilet. Aku menunggunya selama 5 menit tapi ia tak kunjung keluar dari toilet. Apa dia kabur? Tapi itu tidak mungkin. Di toilet itu hanya ada satu ventilasi yang bahkan anak kecil pun tidak akan cukup memasukinya. Lagipula letaknya agak tinggi. Kucoba menggedor pintu toilet.

“Hei, jangan berlama-lama di dalam toilet” seruku. Beberapa saat kemudian kuncinya terbuka. Gadis kecil itu keluar dari toilet dengan mata merah dan sembab. Ia berjalan mendekatiku, mencengkram kemejaku dengan kuat dan akhirnya ia terisak.

“Kenapa kau menangis?” ucapku kaget.

“Tolong aku paman…, aku mohon tolong aku…” lirihnya. Ia kini menempelkan kepalanya di pinggang kemejaku dan menangis di sana hingga membuat kemeja biru lautku basah oleh air matanya. Aku tertegun. Ada apa sebenarnya dengan gadis kecil ini? Aku menggerakkan tanganku ke atas kepalanya. Tidak ada yang bisa kulakukan saat itu kecuali mengusap rambut kusut gadis kecil itu.

***

“Di mana dia sekarang?” tanyaku pada polisi berbadan gempal yang baru saja duduk di kursinya.

“Dia istirahat di ruangan kami. Jadi sebenarnya ada apa dengan anak itu? Kau cukup lama bicara dengannya tadi kan?” Tanya polisi itu sementara aku mengikutinya duduk di depannya.

“Dia dan adiknya diculik. Adiknya disekap dan dia dipaksa mencopet dengan ancaman adiknya akan dibunuh jika ia mencoba kabur atau melaporkan pada polisi. Sudah sekitar seminggu yang lalu dia diculik. Dia tidak berani kabur karena takut adiknya dibunuh.” Aku mengambil jeda sejenak untuk menelan ludahku. Tapi kemudian sesuatu membuatku tertawa kecil.

“Dia memang luar biasa.”

“Maksud anda?” polisi itu mengerutkan dahinya.

“Aku dijebak gadis kecil itu Sersan. Ia hanya pura-pura mencopetku dan pura-pura lengah agar aku bisa menyeretnya ke kantor polisi,” lanjutku.

“Jadi menurutmu, dia sengaja melakukannya agar ia bisa melapor ke polisi? Tapi kalau benar itu tujuannya, kenapa dia tidak mau bicara tadi?”

“Dia tidak mau bicara karena tadi aku bilang akan melepaskannya. Dia takut penculiknya yang dari tadi mengintipnya dari balik jendela itu juga akan membunuhnya setelah ia kita lepaskan. Baginya, tempat aman untuk bersembunyi dari penculik itu adalah di sini!”

Sersan dan beberapa polisi yang dari tadi mendengarkan pembicaraan kami mengangguk-angguk mengerti, sementara polisi yang berkacamata, sambil mendengarkanku dia mengetiknya dalam sebuah laporan di komputer.

“Kalau begitu, kita tinggal menangkap penculiknya dan menemukan lokasi tempat adiknya disekap kan?” saran polisi yang berkacamata sambil menghentikan sejenak ketikannya.

“Itu benar! Gadis kecil itu pasti tahu di mana adiknya disekap!” lanjut si sersan.

“Tidak! Itu tidak perlu. Kita hanya akan menangkap penculiknya” ujarku.

“Lalu adiknya?” Tanya si sersan.

“Bukankah dia sudah ditemukan?” polisi-polisi itu saling berpandangan.

“Mayat anak laki-laki kecil yang ditemukan tewas di pinggir sungai 3 hari yang lalu. Dia bilang, itu adiknya,” kataku datar, tapi membuat semua polisi yang ada di sana terkesiap tidak percaya.

***

Aku menyeruput kopiku dari cangkir yang ditaruh di meja bulat dekat buffet. Kusibakkan Koran sore di tanganku dan membalikkannya ke halaman lain. Namaku ada di dalam Koran dan aku tidak senang. Judul berita utama sore itu ditulis dengan hurup Arial Black ukuran 36. Tulisannya berbunyi, ”Seorang Gadis Kecil Mencopet demi Mengungkap Pembunuhan Adiknya.”

Namaku beberapa kali disebutkan dalam artikel yang isinya hampir seperempat halaman itu. Beberapa tulisan menyebutkan diriku seperti, “Rudi (37) adalah korban pencopet kecil yang…,” lalu, “Gadis kecil itu tidak berniat untuk mencopet Rudi yang saat itu sedang…,” dan ini yang membuatku merasa risih, ”Ia hanya berniat menggunakan Rudi untuk mengantarnya ke kantor polisi…” Sungguh! Aku terlihat seperti orang bodoh di sana.

Tiba-tiba Laras, istriku keluar dari kamar dan mendekatiku.

“Apa dia sudah tidur?” tanyaku dan menaruh Koran di sebelah cangkir kopi.

“Iya, aku juga sudah mengganti pakaiannya dengan pakaian Riska. Ia terlihat lelah sekali. Dia beruntung yang dia copet adalah kau. Kalau yang dia copet orang lain, aku tidak yakin dia bisa tidur selelap itu sekarang,” ujar Laras panjang lebar.

“Kau benar. Untung saja ia menemukanku.” Aku tersenyum.

“Aku menemukan kalung dengan liontin berbentuk ikan di kantong celananya. Apa kau pikir itu juga hasil curian?” Laras menyerahkan kalung itu padaku. Itu adalah sebuah kalung biasa yang bukan terbuat dari emas. Hanya dari tali berwarna hitam.

“Aku rasa ini miliknya,” jawabku singkat.

“Jadi, apa rencanamu sekarang?”

“Entahlah. Anak itu bilang ayah dan ibunya sudah meninggal 2 tahun lalu karena kecelakaan. Tapi ia masih punya nenek di kota seberang. Aku rasa, lebih baik aku mengantarnya ke rumah neneknya saja besok. Dia tidak perlu cemas lagi. Penculik-penculik itu sudah ditangkap. Dia sudah aman sekarang” Laras mengangguk mengerti.

“Tapi aku heran. Bagaimana bisa dia tahu adiknya dibunuh padahal ia tak pernah bertemu adiknya selama seminggu itu? Kenapa dia bisa yakin kalau mayat yang ditemukan itu adiknya? Padahal jasad adiknya sudah biru dan membengkak karena lama tenggelam?”

“Apa kau pikir insting seorang kakak sama seperti insting seorang ibu?” Aku balik bertanya dan dijawab dengan tatapan tidak yakin oleh istriku. Pohon cemara di depan rumahku kini melambai-lambai tertiup angin seolah-olah bilang bahwa ia tahu jawaban yang sebenarnya.

***

“Copeeeet…!” teriak seorang ibu-ibu diikuti dengan seorang gadis kecil yang berlari secepat kilat menembus keramaian pasar. Ia mencari sela-sela jalanan yang kosong untuk kabur dari orang-orang yang mulai sadar akan kehadirannya dan kini mengejarnya. Ia mencari tempat bersembunyi, dan akhirnya pilihannya jatuh pada tumpukan kotak bekas telur yang ada di samping rumah makan kecil sebagai tempat sembunyi. Setelah merasa lepas dari kejar-kejaran dengan orang-orang pasar, ia mendesah. Ia menghembuskan napasnya kuat-kuat dan menyandar pada dinding rumah makan.

Setelah napasnya mulai teratur, ia menekuk lututnya dan berdiri, bermaksud untuk pulang ke rumah. Ah, sebenarnya bukan rumah. Tapi kandang macan. Tempat di mana kematiannya bisa ditentukan sewaktu macannya mulai mengamuk dan menerkamnya.

Belum sempat ia melangkahkan kakinya, ia tertahan. Matanya terpaku pada televisi yang ada di sudut ruangan rumah makan itu.

“Seorang anak laki-laki berumur sekitar 7 tahun ditemukan tewas dengan tusukan di bagian jantung…”

Ia menghela napas, seperti sudah biasa dengan keadaan seperti itu. Tidak, sebenarnya ia hanya meyakinkan dirinya sendiri, bahwa masih banyak orang yang lebih jahat daripada dirinya yang hanya mencopet.

“Diduga anak tersebut merupakan korban penculikan karena ketika ditemukan, kaki dan tangannya terikat kuat dengan tali…”

Deg… jantung gadis kecil itu kini tiba-tiba berdetak tidak seperti biasanya. Napas gadis kecil itu sesak. Ia menutup mulutnya menahan isakan yang mungkin akan keluar dari mulutnya. Tapi air matanya tetap mengalir dan perlahan-lahan semakin deras membasahi pipinya yang kusam.

“sampai saat ini belum diketahui identitasnya. Ciri-ciri mayat ini rambut cepak, agak gemuk, dan ia mengenakan kalung dari tali hitam bergambar ikan. Namun masih sulit mengenali wajah anak ini karena keadaannya yang sudah biru dan membengkak akibat lama tenggelam di sungai…”

***

 



   0 komentar     |        46 views

Untuk melaporkan cerita ini kamu harus masuk dulu.

Tinggalkan komentar

Anda harus masuk untuk meninggalkan komentar


komentar :

  
Powered by Gramedia Pustaka Utama