Ingat saya
Cover



dibuat : Friday, 15 December 2017 11:19 pm
diubah : 9 bulan yang lalu
vote cerita :
1 vote, average: 4.00 out of 51 vote, average: 4.00 out of 51 vote, average: 4.00 out of 51 vote, average: 4.00 out of 51 vote, average: 4.00 out of 5 (1 votes, rata-rata: 4.00 dari 5)
Anda harus masuk untuk memberikan rating cerita ini.
Loading ... Loading ...
  Tag


  Kategori

FrankFurt

Berita Hangat

SINOPSIS

PAGI ini di Jakarta, setiap stasiun televisi swasta maupun nasional memberitakan seorang gadis yang menghilang dari rumah orangtuanya di Bogor sejak minggu lalu.

Kau bangun dari kasur busa yang dibungkus seprai kecokelat-cokelatan penuh bercak-entah-apa dengan kekosongan pikiran, reaksi yang datar, juga hilangnya otoritas terhadap tubuh, seolah tempurung kepalamu diselundupi sesuatu yang belum tercatat sejarah umat manusia—karena sebutan tolol belumlah tepat untuk menggambarkan keadaan yang demikian.

Televisi di sudut kamar kontrakan yang kautinggali sejak dua tahun lalu tak kaunyalakan. Hampir tak pernah. Sebagaimana terlihat, ukuran layarnya yang hanya 14 inci kerap membuatmu sakit mata. Sementara gestur pembawa acara yang lebih menyerupai komedian tunggal saat membacakan berita—yang seputar itu-itu saja: kalau bukan seorang politikus tersangkut ketololannya sendiri, ya, politikus tersangkut ketololan politikus lain dan menimbulkan perang politik yang amat menjengkelkan—selalu membuatmu bosan. Lagi pula, uang hasil mengirim naskah berita yang seringkali kualitas pembacaan dibanding isi berita tersebut mengecewakan, beberapa bulan sebelumnya, telah cukup untuk mengongkosimu bermalas-malasan dan membikin tubuhmu tak banyak mengalami kesulitan berarti mengenai berita pagi di televisi.

Seperti kebiasaanmu setelah bangun tidur: kau terhuyung. Kau melompati muntahan isi perutmu semalam, ketika menuju bilik kakus di sudut belakang kamar kontrakanmu. Kau berjongkok di atas lubang kakus tanpa menggelontorkan apa pun, sembari menatap tembok bergambar kartun perempuan tanpa busana melalui celah pintu yang sengaja kaubiarkan terbuka. Lalu dari tempatmu, kau melihat kelebat seseorang. Kau penasaran, tapi tetap bergeming dengan kegiatanmu.

Tanpa sepengetahuanmu, seseorang yang kau lihat kelebatnya barusan tengah menjilat ujung kertas papir lalu membakar rokok lintingannya. Ia membalik rokok itu dan meniup bara yang terbakar kurang sempurna. Orang itu adalah kau yang lain.

Semalam, saat kau pulas tertidur: tubuhmu, atau jiwamu, atau soal-soal lain semacam itu, menggandakan diri menjadi ratusan—aku tidak menghitung jumlah tepatnya—hanya dalam waktu tujuh menit. Awalnya, kau mengganda menjadi dua, membedakan antara kau yang sedang tidur dengan kau yang berdiri di tepi kasur. Untuk memudahkan pemahamanmu, mari kita sepakati bahwa kau yang asli cuma kau yang semalam tidur dan sekarang berjongkok di atas lubang kakus. Sedangkan kau yang semalam berdiri di tepi kasur dan sekarang tengah mengisap rokok, adalah kau yang palsu.

Sementara kau tertidur, kau yang palsu kembali menggandakan diri menjadi dua. Lalu setiap hasil penggandaan tersebut, kembali menggandakan diri, dan begitu seterusnya. Mereka mengenakan pakaian berbeda-beda, dan memikul kepentingan yang juga berbeda-beda.

***

SAAT sekilas memperhatikan tubuhmu, sambil tetap berjongkok di atas lubang kakus, kau mendapati telapak tangan kirimu yang tertera nomor 1 di sana, seperti tato. Setelah lima sampai tujuh menit kauhabiskan tanpa melakukan apa pun, kau keluar dari bilik kakus dan berjalan ke mana saja, seolah tubuhmu digerakkan oleh sesuatu yang entah. Tanpa kausadari, tujuanmu adalah mencari bilik kakus yang belum pernah kaudatangi sebelumnya. Selalu demikian.

Sekeluarmu dari bilik kakus lalu membetulkan ikatan kolor celana, kau melihat seorang kau yang lain dengan pakaian serbaputih tengah mengisap dalam-dalam asap rokok lintingan di sela-sela jemarinya. Kau tertarik lalu mendatanginya. Menggerayangi tubuhnya dan, ia nyata. Teringat nomor, kau menggapai tangan kirinya dan membaliknya: nomor 24. Kau sedikit terkejut tetapi dengan isi kepalamu yang demikian, kau dapat kembali tenang dalam tiga kali kegiatan tarik-embus napas dan hanya menyisakan keheranan sebab telapak tangan kirimu bertanda nomor 1, sedangkan makhluk di hadapanmu, makhluk yang serupa denganmu, memiliki tanda nomor 24 pada tempat yang sama.

Setelah minum air putih dengan tiga belas kali bunyi tegukan, kau berjalan keluar kamar kontrakan dan menjumpai seorang kau yang lain tengah menjemur pakaian wanita: dua potong kaus oblong, satu celana pendek, enam celana dalam, dan lima kutang, semuanya kusut. Dan tampak nomor 93 di telapak tangan kirinya. Namun, lagi-lagi, penemuan itu tak banyak memancing reaksimu. Kau akan dan selalu melanjutkan perjalanan. Menyusuri gang di kompleks kontrakan yang kautinggali. Melewati sebuah bangunan tempat peribadatan. Mengabaikan dua toko kelontong yang masing-masing memiliki catatan tentangmu. Sebuah lapangan bulu tangkis, dan terus berjalan sesuai keinginanmu yang cuma mencari bilik kakus itu.

Pada salah satu tempat dalam jangkauan pandanganmu, ada seorang kau yang lain tengah duduk di bangku batu: memandang kosong taman di depannya. Perhatianmu tertuju kepadanya yang cuma duduk memandang kosong sekeliling, seolah tubuh tersebut adalah bagian dari bangku batu. Namun, dengan isi kepala yang tak mampu bekerja sebagaimana biasa, sistem emosi yang kacau, plus hanya bisa menuruti tanpa bisa mencegah kegiatan apa yang akan kaulakukan—seolah dua puluh tujuh tahun masa hidup yang kaulewati berjalan demikian adanya—kau hanya tertarik untuk melihat kejadian di ujung hidungmu. Bukannya penasaran seperti kebanyakan orang ketika melihat perkara yang kurang masuk akal.

Setelah empat puluh lima menit berlalu untuk memperhatikan hasil penggandaan tubuhmu yang cuma diam itu, kau kembali berjalan memenuhi kepentinganmu dan baru akan berhenti tepat di depan sebuah bangunan besar setelah dua kilometer perjalanan. Lalu kau akan memasukinya. Memperhatikan sekelilingmu. Kemudian kembali berjalan melewati lorong remang-remang, dan berhenti di antara belasan bilik kakus.

***

TIGA menit lagi, tanpa sepengetahuanmu, gangguan pikiran yang membuatmu menggemari kegiatan berjongkok di atas lubang kakus dan menyangsikan kejadian apa pun selain itu, akan memuai dan mengakibatkan indikasi berbeda terhadap tubuhmu.

Tanpa sedikit pun kesempatan mempersiapkan, kau akan tersadar. Ingatanmu kembali. Isi kepalamu mulai bisa digunakan seperti biasa. Dan pada saat itulah, kau menghadapi kerumunan orang di luar bilik kakus yang sebelumnya sama sekali tak kaupedulikan. Ada tiga petugas keamanan; dua belas ibu-ibu—tujuh di antaranya bertubuh lebar; lima anak kecil—dua perempuan, tiga laki-laki—di samping ibu-ibu tersebut; berdiri dua pemuda berpakaian perlente dengan ekspresi mukanya yang seperti orang dungu; empat bapak-bapak yang mungkin suami dari empat di antara dua belas ibu-ibu; tetapi tak ada seorang pun gadis serupa kemarin yang ada di kamar kontrakanmu.

Mereka memandangimu dengan tatapan keheranan. Kerut di keningnya menandakan isi kepala mereka dipenuhi pertanyaan, yang jika dituliskan, mungkin akan terbaca: “Dengan kewarasan umum, seseorang tidak akan berada di salah satu bilik kakus sebuah pusat perbelanjaan, berjongkok tanpa memelorotkan celana kolor, dan membiarkan pintu bilik kakusnya terbuka. Kecuali, hal besar telah terjadi dan mengguncang kejiwaannya atau kejiwaannya terguncang dan mengakibatkan kejadian besar dalam hidupnya.”

Beberapa saat setelah kau mengatur ulang memori dan menerima apa yang tengah kauhadapi, lima orang anggota kepolisian menyibak orang-orang yang masih menatapmu. Mereka mendatangimu. Dua di antaranya menyeretmu keluar dari bilik kakus. Lalu memasang borgol pada masing-masing pergelangan tanganmu, tetapi kau tak melihat nomor 1 tertera pada telapak tangan kirimu. Mereka diam saja dan tak terlihat tanda-tanda heran atau semacamnya, seolah dunia yang paginya barusan kaulewati, benar-benar cuma ada kau-yang-menarik di dalamnya.

“Saudara Moko, benar?” tanya seorang anggota polisi tak berseragam. Kumisnya yang lebat mengingatkanmu kepada tokoh Ron Burgundy dalam film Anchorman: The Legend of Ron Burgundy. Ditambah postur tubuhnya yang tinggi dan terlihat pejal walau memakai jaket kulit hitam longgar yang dipadukan dengan celana jins biru gelap plus sepatu kulit yang tersemir mengkilap, semakin menegaskan ingatan tersebut dan menyita perhatianmu dan hanya reaksi kagum yang paling cepat terlintas di kepalamu.

Saat tubuhmu diseret, tanpa perlawanan, ingatanmu menyeret gambaran seorang gadis tengah kaubekap dengan sebuah bantal lalu mati.



   0 komentar     |        122 views

Untuk melaporkan cerita ini kamu harus masuk dulu.

Tinggalkan komentar

Anda harus masuk untuk meninggalkan komentar


komentar :

  
Powered by Gramedia Pustaka Utama