Ingat saya
Cover



penulis : Zain
dibuat : Monday, 14 August 2017 10:27 am
diubah : 3 bulan yang lalu
vote cerita :
0 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 5 (0 votes, rata-rata: 0.00 dari 5)
Anda harus masuk untuk memberikan rating cerita ini.
Loading ... Loading ...
  Tag


  Kategori

FrankFurt

Arah yang Kutuju

SINOPSIS

Aku masih menggenggan cutter tajam di tanganku. Aku menusuk-nusuk bantal hingga membuat isinya berebut keluar. Mataku yang bulat terlihat sangat bengkak, aku sudah menangis sejak tadi hingga mataku terasa perih, kepalaku terasa sakit, rambutku sangat berantakan.

Suasana rumahku selalu sepi atau ramai secara bergantian, ramai teriakan. Saat ini giliran sepi yang berkuasa, hanya ada aku seorang diri.

“Tidak..tidak..aku tidak boleh stress.” ucapku menyembunyikan mata cutter yang tajam, aku mengusap air mata di pipiku, memaksa mataku untuk berhenti menangis. Aku bangkit dan mengulum senyum di depan sebuah cermin.

Tapi… “Aaaaaaaaaarrrrgggggghhhhhh..praaak!!” Aku tidak bisa menahan, aku berteriak dan melempari cermin di depanku dengan botol lotion obat nyamuk. Aku amat bingung, masalahku terasa sangat berat. Tapi aku tidak punya siapa pun untuk mencari solusi, yang aku tahu aku harus kuat untuk diriku sendiri.

Benar. Benar. Aku mengangguk, membenarkan apa yang ada di dalam hatiku. Aku tidak boleh menangis, bukankah Allah tidak akan melimpahkan ujian diluar kemampuan hambanya? Maka itu artinya Allah menganggap diriku mampu.

“Piiip…” suara klakson mobil tiba-tiba membuatku terkejut, aku mengikat rambutku sembarangan, berantakan. Lantas berjalan membuka tirai jendela, mencari tahu siapa yang datang. Ayah dan Ibu. Jantungku berdetak cepat, badanku mendadak lemas, aliran darahku mengalir deras hingga ke ujung jari. Aku tahu detik-detik mendebarkan sedikit lagi akan dimulai, untuk kesekian kalinya.

Ayah dan Ibuku masuk ke dalam rumah tanpa memulai sepatah kata pun, tanpa mengucap salam pula. Aku bergerak lebih cepat mencari smartphone dan earphone, memulai mendengarkan murottal. Jika hati ingin tenang, maka sering-seringlah mengingat Allah. Salah satu cara mengingat Allah versiku adalah dengan mendengar ayat-ayat Allah.

Aku berlari ke arah pintu kamarku, memutar kunci, menutup semua jendela hingga kupastikan tidak ada suara sekecil apapun yang bisa menerobos kamarku. Aku harus tenang. Tapi seluruh tubuhku bergetar, kombinasi antara ketakutan dan kelaparan. Meski tidak mau, air mataku tetap menetes, aku mencoba ikut melantunkan ayat-ayat yang kudengar.

Dibalik suara murottal yang keras, setelah sekitar setengah jam tidak ada apa-apa, tiba-tiba pintu kamar yang menjadi sandaranku saat ini diketuk seseorang. Bukan diketuk, tapi dipukul-pukul seperti ada yang memaksa masuk. Dengan susah payah, aku menelan ludah. Aku tahu semua akan terjadi, lagi!! Aku bangkit dan memutar kunci, membuka pintu dengan sangat pelan. Ibuku mendorong pintu agar terbuka lebar lebih cepat, membuatku terdorong dua langkah.

Ibuku berteriak-teriak saat masuk dan memasukkan barang-barangnya ke dalam koper. Sudah sejak lama, barangnya memang ada di kamarku. Aku hanya diam namun air mataku menetes tanpa aku suruh, tanganku menekan tombol volume pada smartphone agar menghasilkan suara yang lebih besar, aku tidak ingin mendengar apapun dari ibu.

“Braaak!!!” Pintu kamarku ditutup dengan sangat keras. Aku tidak mendengar suaranya, tapi saking kerasnya angin sejuk dapat menerpa wajahku. Disusul dengan pintu rumah, pagar rumah yang juga di tutup dengan sanagta keras. Jantungku berdetal lebih cepat, aku tidak mampu lagi berdiri. Aku menjatuhkan badan, berbaring di lantai.

“Ya Allah, kemana Ibu akan pergi?”

Aku melepaskan earphone, seluruh tubuhku terasa sangat lemas. Bibirku tidak sanggup lagi berkata. Aku tidak bisa mengerti, mengapa orang dewasa mudah sekali bertengkar, atau setidaknya mereka memikirkan perasaan anak-anaknya. Mataku menangkap botol lotion obat nyamuk yang tergeletak di lantai. Dengan ragu aku membuka mulut dan meminum seluruhnya, aku tahu ini salah. Rasa terbakar sangat cepat terasa di lidah dan tenggorokanku. Saat ini aku tidak peduli rasa sakitku, aku hanya ingin pergi melupakan semuanya. Mencari bahagiaku.

“Ya Allah ini sakit, sangat sakit. Aku mohon maafkan aku.” aku memegangi leher dengan kedua tangan, rasa sakitnya semakin terasa, juga membuat kepalaku pusing. 

“Masih jelas pada ingatanku, saat itu masih berusia 3 tahun berada dalam pelukan ibu yang sedang menangis sejadi-jadinya. Di hadapan kami, seorang laki-laki yang kukenal sebagai Ayah berdiri dengan wajah yang amat garang. Dia menampar Ibuku dengan sangat keras hingga membuatnya tersungkur di lantai rumah kami 



   0 komentar     |        65 views

Untuk melaporkan cerita ini kamu harus masuk dulu.

Tinggalkan komentar

Anda harus masuk untuk meninggalkan komentar


komentar :

  
Powered by Gramedia Pustaka Utama