Ingat saya
Cover



penulis : amanda senja
dibuat : Tuesday, 15 August 2017 11:27 am
diubah : 1 bulan yang lalu
vote cerita :
1 vote, average: 2.00 out of 51 vote, average: 2.00 out of 51 vote, average: 2.00 out of 51 vote, average: 2.00 out of 51 vote, average: 2.00 out of 5 (1 votes, rata-rata: 2.00 dari 5)
Anda harus masuk untuk memberikan rating cerita ini.
Loading ... Loading ...
  Tag


  Kategori

FrankFurt

aksara cinta di katulistiwa

SINOPSIS

Normal
0

false
false
false

IN
X-NONE
X-NONE

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin-top:0cm;
mso-para-margin-right:0cm;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0cm;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;
mso-fareast-theme-font:minor-fareast;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;}

PROLOG

            Ramai tapi sunyi, tanpa ada suara, hanya kipas dan dentuman jam perpustakaan kampus yang hanya dihuni oleh anak-anak kutu buku. Suasana seperti ini selalu berhasil menyihirku pada kehampaan, sekaligus pada masa-masa sulit kala itu. Seperti bulan, meskipun bersinar, bahkan dikelilingi jutaan bintang. Cahayanya tetap tak mampu menerangi gelapnya malam. Tapi ia harus tetap ditempat dan bersinar semampunya. Sama halnya posisiku saat ini yang tak mampu kujelaskan. Oh iya aku bukan kutu buku tapi aku suka menyendiri dalam ketenangan. Aku Reta, Argareta Flamboyan Atlenta.

            Papa memintaku ambil jurusan pendidikan walau jujur aku tak mau memilihnya. Papa yang berprofesi Dokter dan Mama yang berprofesi model sangat jauh dengan basisku. Guru. Ini pilihan Papa, karna ia tak mau putrinya salah pilih. Guru itu tidak beresiko, asal kamu tekun dan mematuhi kode etik. Aku hanya diam dan tenrtu saja menurut, sebab ada beberapa alasan. Salah satunya peristiwa kelam yang dialami Papa.

*Flashback

Angin semilir ombak membelaiku, menerbangkan helai demi helai rambutku hingga menutupi wajah. Deburan ombak yang bergulung bersahutan lalu terhempas ditepi pantai. Mataku menatap laut yang terhampar didepanku, menerawang jauh seakan laut jadi milikku. Ia mengajarkanku arti sebuah ketenangan. Tenang namun dalam, dalam namun punya sejuta misteri.

            Suara sama-samar terperangkap dalam saluran pendengaranku, respon secepat kilat membuatku menengok sumber suara. Gaun berwarna putih selutut yang dikenakan mama bak malaikat yang siap membawaku kecakrawala. Ia lah sosok yang paling kusayang, yang hadirnya selalu kunanti, senyumnya yang selalu kuharapkan, dan nasihatnya selalu kudambakan. Memilikinya membuatku yakin bahwa aku lah anak paling beruntung juga istimewa didunia.

“Reta sayang mama kan?” ucap mama sambil duduk menyamakan dengan tinggiku yang berusia 9 tahun kala itu.

“Pasti ma” Balasku lalu memeluk mama

“Reta mau bareng sama mama terus kan?” ucapnya lagi. Tapi kali ini dengan nada bergetar

“Iya Ma.” Balasku sambil melepas pelukan dan menatap mama.

“Mama sayang Reta, mama juga nggak mau jauh dari Reta” melihatku sedikit bingung mama langsung memelukku erat. Pelukan itu berlangsung beberapa menit saja karna suara bariton papa menggema ditelinga.

“RETAAAAA..!!!!”

“Papa??” Aku tersenyum papa datang kesini juga. Alangkah bahagianya aku hari ini.

“Lepaskan Reta!!!” tiba-tiba papa menarikku menjauh dari mama. Aku takut, ini bukan papa yang kukenal. Tapi semuanya sama, hanya suaranya yang sedikit meninggi dan berkesan berteriak. Matanya juga merah, seolah menahan amarah yang bergemuruh dalam hati.

“Kamu nggak bisa kayak gini Mas, Reta anakku juga” Mama berusaha menarikku tapi dicekal papa lalu tangan mama dilepas kasar oleh papa.

“Ohhh… Reta anakmu juga ya? Saya baru tahu. Bagaimana mungkin seorang Ibu rela meninggalkan anaknya dan menikah bersama orang yang lebih kaya. Memang benar jika saya menikah denganmu itu hal SALAH!” Papa semakin geram

“Tidak, itu tidak benar. Saya tidak berniat meninggalkan Reta. Dia akan kubawa bersamaku Mas.” Mama mulai menangis sambil melihatku yang juga menangis.

Hah? Mama menikah lagi? Papa dan Mama apa akan segera bercerai? Aku tidak mau hal ini terjadi….

“Kamu nggak usah banyak alasan. Saya sudah terima surat pengajuan perceraianmu. Tenang, saya akan memuluskan mau mu. Saya sudah menandatanganinya. Kamu bisa bebas sekarang. Oh iya… satu hal. Reta tetap bersama ku.” Papa mengakhiri perbincangan ini dan membawaku. Ia menggendongku karna aku yang terus melawan dan menangis. Papa juga tak menghiraukan mama yang memohon.

“Tolong biarkan Reta kubawa Mas. Tolong”

“Aku menyayanginya jadi biarkan dia bersama ku.” Semua yang dikatakan mama sudah tak lagi Ia hiraukan…

“Kumohon!!!” Suara Ibu berteriak sambil menangis

“Papa…!!! Reta mau sama Mama!!” Tangis ku pecah tak karuan. Begitu tragis, kejadian buruk ditempat favoritku. Pantai.

            Saat menggendongku kulihat papa memejamkan mata, menahan dan berharap setelah mata itu terbuka kejadian ini hanya mimpi. Tapi sia-sia. Tepat saat kami memasuki mobil, Papa menghapus air mata dengan cepat. Aku menatap wajah pria yang paling kusayang itu terlihat kacau. Aku sungguh tak tega melihatnya. Mobil itu melaju cepat saat Mama datang menghampiri kami. Aku menatap Mama lewat kaca mobil lalu menatap Papa.

            Siapa yang paling hancur saat ini? Papa? Mama? Tidakkk!! Yang paling hancur disini Aku… usiaku saat ini masih sangat butuh kasih sayang kedua orangtua. Pergi bersama, makan bersama, tertawa bersama seperti anak-anak seusiaku. Tapi Tuhan berkata lain, karna aku terlalu istimewa. Itulah kata-kata Papa yang membuatku bangun saat jatuh dan terpuruk.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 



   0 komentar     |        44 views

Untuk melaporkan cerita ini kamu harus masuk dulu.

Tinggalkan komentar

Anda harus masuk untuk meninggalkan komentar


komentar :

  
Powered by Gramedia Pustaka Utama